KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan suku bunga dapat meningkatkan beban-beban material pada sektor konstruksi sehingga dapat menggerus laba emiten konstruksi. Terutama pada saham-saham konstruksi milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memiliki utang besar. Seperti diketahui, Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga menjadi 6,25% pada pertemuan bulan April 2024. Selain itu, suku bunga Deposit Facility naik sebesar 25 bps menjadi 5,50%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 7,00%. Dengan begitu, kenaikan suku bunga dapat berdampak terhadap lonjakan hutang emiten konstruksi karena tingginya beban-beban atas bahan-bahan material yang semakin mahal.
Berikut rekomendasi saham-saham emiten sektor konstruksi yang dapat dicermati, simak ulasannya: Baca Juga: Dari 4 Emiten BUMN Karya, ADHI dan PTPP Mencatat Kinerja Positif di Kuartal I-2024 1. PT Acset Indonusa Tbk (ACST) Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta memprediksi, kinerja PT Acset Indonusa Tbk (ACST) pada tahun 2024, berpotensi tumbuh positif seiring perusahaan yang berencana akan melakukan penambahan kegiatan usaha. Adapun penambahan usaha tersebut meliputi, konstruksi bangunan sipil pertambangan, aktivitas penunjang pertambangan dan penggalian lainnya, serta aktivitas telekomunikasi khusus untuk keperluan sendiri. Dengan penambahan bisnis di sektor konstruksi pertambangan, Nafan menyebutkan total aset ACST diproyeksikan naik rata-rata sebesar 10,46% pada 2024-2028 dibandingkan tanpa penambahan. Rekomendasi: Hold Target Harga: Rp 143 Baca Juga: Kinerja PTPP dan AGRO Paling Moncer di Antara Konstituen IDX BUMN20, Ini Kata Analis 2. PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) Head of Research Ciptadana Sekuritas Arief Budiman memprediksi, kinerja ADHI pada tahun ini masih akan bertumbuh positif seiring dengan laba bersih di kuartal 3/2023 melonjak lebih dari 16 kali lipat secara QoQ dan 7 kali lipat secara YoY menjadi Rp 190,5 miliar. Hal ini didorong oleh pendapatan yang lebih kuat dan ekspansi marjin secara keseluruhan. Sementara untuk pendapatan di kuartal keempat 2023, tumbuh 69% QoQ meskipun turun 6% YoY menjadi Rp8,6 triliun, didorong oleh kinerja yang lebih baik di segmen bisnis konstruksi dan pracetak, yang telah mengalami perputaran yang solid. Dengan demikian, laba bersih ADHI pada 2023 naik hampir tiga kali lipat menjadi Rp 214 miliar. Rekomendasi: Buy Target Harga: Rp 335 Baca Juga: Ini Penyebab Cuan Petrindo (CUAN) Melejit 381% pada Kuartal I 2024 3. PT PP Tbk (PTPP) PT PP Tbk (PTPP) diproyeksi tetap mencetak kinerja solid di tahun 2024. Dorongan dari pemerintah untuk segera menyelesaikan Proyek Strategis Nasional (PSN) diperkirakan akan menjadi pendukung bagi emiten konstruksi pelat merah tersebut. Analis Binaartha Sekuritas Revita Dhiah Anggrainy menyebutkan, PTPP juga membukukan laba bersih sebesar Rp 239 miliar selama periode Januari – September 2023. Angka itu naik 70% YoY dan juga melesat sekitar 130% QoQ pada kuartal III-2023. PTPP masih mampu mengantongi laba bersih saat terjadinya penurunan pendapatan usaha menjadi sebesar Rp 12,22 triliun per September 2023. Jumlah ini melemah sekitar 9,18%yoy dibandingkan posisi bulan September tahun 2022. Revita melihat, sebagian besar pendapatan disumbangkan oleh PTPP sebagai perusahaan induk. Sedangkan sisanya sebesar berasal dari anak perusahaan yakni PPRE, PPUB, PPRO, serta PPSD. Sementara itu, peningkatan laba bersih PTPP didukung oleh biaya keuangan yang lebih rendah dan peningkatan laba dari usaha patungan. Rekomendasi: Accumulate Target Harga: Rp 400 - Rp 450
PTPP Chart by TradingView