Tergilas asing, ini strategi baru 2 emiten semen



KONTAN.CO.ID - Produksi semen dalam negeri masih belum seimbang dengan kebutuhan. Perang harga pun tak bisa dihindarkan.

Seiring dengan itu, pangsa pasar dua raja semen Indonesia pun di Semester I 2017 turun dari periode sama tahun sebelumnya. Robertus Yanuar Hardy, analis Reliance Sekuritas Indonesia dalam risetnya tanggal 21 Agustus menyebut bahwa penjualan semen domestik di tujuh bulan pertama 2017, naik 5%.

Semen Indonesia Tbk (SMGR) dan Indocemen Tunggal Prakasa Tbk. (INTP) menguasai hampir 70% pangsa pasar. Namun besaran ini turun tipis dari 3-4 tahun lalu yakni sebesar 74%-75%.


Robertus melihat penurunan ini terjadi setelah makin ketatnya persaingan, seiring makin agresifnya Semen Jawa (Siam Cement Group) dan Conch Cement Indonesia dalam meningkatkan pangsa pasar mereka.

Baik SMGR maupun INTP tak menampik bahwa pangsa pasar mereka memang turun dibandingkan tahun lalu. Corporate Secretary SMGR Agung Wiharto menyebut bahwa Juli 2017, pangsa pasar SMGR turun 0,6% year-on-year menjadi 41%.

Sementara itu, untuk periode 6 bulan pertama tahun 2017penguasaan pasar INTP adalah sekitar 26%. “Mengalami sedikit pengurangan dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 26.5%,” ujar Corporate Secretary INTP Antonius Marcos, Jumat (25/8).

Selain pangsa pasar yang turun tipis, emiten semen masih dihadapkan dengan tantangan over supply yang turut memperketat persaingan. Bahkan, para pelaku industri semen juga harus siap pasang harga kompetitif.

Menyikapi hal ini, berbagai strategi mulai diterapkan agar kinerja tetap kinclong. INTP misalnya, menerapkan end user program dan meluncurkan brand baru yakni semen Rajawali.

“Di dalam kantong semen yang dibuka akan ada nomer yang bisa dihubungi untuk mendapatkan pulsa telepon gratis,” tutur Antonius.

Di lain sisi, Agung menyatakan bahwa tidak ada upaya yang bisa dijalankan untuk mengangkat pasar. “Semen kan meskipun diberi diskon tinggi bahkan gratis, kalau gak butuh gak dibeli,” ujar Agung.

Kini SMGR menurutnya fokus pasang strategi agar konsumen pilih semen produksi perseroan ini.

Menyoal turunnya harga dan over supply selama dua tahun terakhir, Agung bilang efisiensi tak bisa dihindari oleh SMGR. “Terutama yang cost besar, yang berhubungan dengan production. Energi dan transportasi, itu yang kita manage,” jelas dia.

Ke depannya agung masih melihat peluang bahwa harga semen akan stabil.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Dessy Rosalina