Terkoreksi 0,32% Dalam Sepekan, Rupiah Menyentuh Rp 18.022 per Dolar AS



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tren pelemahan dalam sepekan terakhir. Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat 0,49% secara harian ke Rp 18.022 per dolar AS. Namun dalam sepekan, rupiah melemah 0,32% dari posisinya di level Rp 17.963 per dolar AS pada Jumat (24/7).

Berdasarkan rupiah Jisdor, rupiah menguat 0,11% secara harian ke Rp 18.058 per dolar AS. Namun dalam sepekan, rupiah melemah 0,47% dari posisinya di level Rp 17.973 per dolar AS pada Jumat (24/7). 

Analis Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan rupiah dalam sepekan terakhir dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan internal. Para pelaku pasar terus memantau perkembangan situasi di Timur Tengah setelah Iran meluncurkan sejumlah rudal balistik yang menyasar pasukan AS di kawasan tersebut. 


Baca Juga: Insentif Bea Masuk LPG Dinilai Jadi Penopang, Chandra Asri (TPIA) Paling Diuntungkan

“Meskipun Komando Pusat AS menyatakan bahwa seluruh rudal berhasil dicegat, serangan ini menandai eskalasi baru setelah beberapa hari situasi relatif tenang, sekaligus memperkuat kekhawatiran bahwa jeda diplomatik yang sempat terjadi bisa segera buyar,” ujar Ibrahim, Jumat (31/7/2026).

Kemudian, gerak rupiah juga dipengaruhi oleh The Fed yang mempertahankan Suku Bunga Dana Federal dalam kisaran target saat ini antara 3,50% dan 3,75%. Namun, dengan suara terpecah 9-3, karena tiga anggota FOMC memilih untuk menaikkan suku bunga dana federal sebesar 25 basis poin. Yang menentang keputusan kebijakan moneter tersebut adalah Beth Hammack dari Cleveland Fed, Neel Kashkari dari Minneapolis Fed, dan Lorie Logan dari Dallas Fed, yang lebih memilih kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Sementara Ketua Fed Kevin Warsh mengatakan bahwa pengetatan di pasar telah banyak membantu para pembuat kebijakan. Ia menambahkan bahwa komite akan segera bertindak jika tekanan inflasi meningkat. 

Kemudian, paska pengunduran Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia, BI terus berkomitmen menjaga stabilitas yang menjadi prasyarat utama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Stabilisasi nilai tukar rupiah terus diperkuat, sehingga konsisten mendukung pencapaian sasaran inflasi dan mendorong kegiatan ekonomi. 

“Pasar juga fokus terhadap ketidakpastian mengenai suksesi pimpinan bank sentral setelah Perry Warjito mengundurkan diri, tekanan fiskal daerah, dan hambatan ekspor mineral,” terang Ibrahim. 

Ibrahim memperkirakan rupiah dalam perdagangan sepekan kedepan di rentang Rp 17.920 – Rp 18.300 per dolar AS. 

Muhammad Amru Syifa, Research and Development ICDX memproyeksikan pergerakan rupiah sepekan ke depan masih akan dipengaruhi oleh sentimen eksternal, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong volatilitas harga minyak dunia dan memperkuat permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven. 

“Di sisi lain, komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi diharapkan dapat membantu meredam tekanan terhadap rupiah sehingga volatilitas tetap terkendali,” ujar Amru.

Dari sisi domestik, pelaku pasar akan mencermati langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan pengendalian inflasi di tengah tingginya ketidakpastian global.

Bank Indonesia menegaskan fokus kebijakan tetap diarahkan pada stabilitas rupiah, didukung dengan mempertahankan BI-Rate di level 5,75%. Selain itu, keberlanjutan arus masuk modal asing ke instrumen domestik juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan karena dapat memperkuat cadangan devisa dan menopang stabilitas nilai tukar.

Dari sisi global, perhatian utama masih tertuju pada eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi meningkatkan volatilitas harga minyak dunia. Di samping itu, pasar juga mencermati prospek suku bunga Amerika Serikat yang diperkirakan akan tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama, seiring tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS. 

“Kombinasi faktor-faktor tersebut berpotensi memperkuat dolar AS, mendorong aliran dana ke aset berbasis dolar, dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” jelas Amru.

Amru memproyeksikan rupiah sepekan ke depan bergerak dalam kisaran Rp 18.000 – Rp 18.150 per dolar AS.

Baca Juga: IHSG Menguat pada Akhir Juli, Ditopang Sentimen Global dan Rilis Kinerja Emiten

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News