Terlibat Dalam Proyek Hilirisasi, Begini Prospek Kinerja Bukit Asam (PTBA)



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatatkan penurunan laba bersih sepanjang Januari – September 2025. Proyek hilirisasi yang akan dikerjakan PTBA diproyeksi menjadi katalis pendorong kinerja dalam jangka panjang. 

PTBA mengantongi pendapatan Rp 31,33 triliun per kuartal III – 2025, naik 2% secara year on year (yoy). Namun laba bersih merosot 56,25% menjadi Rp 1,4 triliun. 

Sukarno Alatas, Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas menyoroti peletakan batu pertama (groundbreaking) enam proyek hilirisasi pada awal tahun 2026, termasuk gasifikasi batubara menjadi DME. Proyek tersebut dapat berfungsi sebagai katalis positif jangka panjang bagi PTBA. 


Baca Juga: Garuda Metalindo (BOLT) Tebar Dividen Interim, Cek Besarannya

Dukungan pemerintah yang kuat, kejelasan peran Pertamina sebagai pembeli, dan sinergi dengan MIND ID–Danantara meningkatkan kredibilitas pelaksanaan dan mendukung transformasi PTBA menjadi pemain energi terintegrasi, dengan potensi peningkatan valuasi. 

“Dalam jangka pendek, proyek ini dapat membebani belanja modal,” ujar Sukarno dalam risetnya pada 14 Januari 2026.  

Namun, jika berhasil dilaksanakan, Sukarno menilai DME dapat memberikan kontribusi sekitar Rp 1,4 triliun – Rp 2,3 triliun dalam laba tahunan. Nilai itu sekitar 10% – 20% dari pendapatan PTBA, dengan profil pendapatan yang lebih stabil daripada batubara.

Selain itu, PTBA turut berperan dalam pengembangan fasilitas pengolahan dan pemurnian Bauksit–Alumina–Aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat, melalui penyediaan pasokan energi. 

Sebagai bagian dari ekosistem hilirisasi mineral nasional, PTBA berperan dalam memastikan ketersediaan sumber energi (Power Solution) untuk memenuhi kebutuhan operasional Smelter Aluminium. 

Fasilitas yang telah menjadi penghubung penting dalam rantai pasok pengolahan dan pemurnian bauksit – alumina - aluminium secara terintegrasi di Indonesia ini memiliki kapasitas pengolahan mencapai 3 juta ton bauksit menjadi 1 juta ton alumina per tahun. Selanjutnya, 1 juta ton alumina itu akan diolah menjadi 600 ribu ton aluminium. 

Baca Juga: Usai Akuisisi 45% Trimata Coal Perkasa, MEJA Siap Produksi 1,5 Juta Ton Batubara

Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan melihat proyek hilirisasi bauksit dari Danantara tersebut sebagai katalis jangka panjang. Bukan yang langsung masuk ke laba tahun ini. Dampaknya akan terasa kalau proyeknya benar-benar jalan, ada kontrak yang jelas, dan utilisasinya tinggi. 

“Tapi tetap, “core story” PTBA masih batubara, jadi hilirisasi ini lebih ke tambahan katalis saja,” ucap Ekky kepada Kontan, Senin (9/2/2026). 

Ekky mengatakan, prospek kinerja PTBA pada kuartal I-2026 masih cukup stabil. Tapi belum ada tanda akan menguat signifikan. Kinerja PTBA di awal tahun biasanya paling dipengaruhi harga batubara, volume penjualan, dan biaya/logistik. 

“Jadi selama harga batubara masih fluktuatif dan pasar global belum benar-benar “risk-on”, pergerakannya akan cenderung naik-turun, walaupun bisnisnya tetap jalan,” ujar Ekky. 

Dilihat dari kinerja saham, Research Analyst BNI Sekuritas, Muhammad Lutfi Permana mengatakan, saham PTBA bisa menjadi pilihan bagi investor yang mencari dividen. Lutfi melihat pergerakan saham PTBA saat ini sudah memasuki fase uptrend. 

“Untuk investor yang dividen hunter, PTBA ini salah satu dengan deviden terbesar,” ucap Lutfi, Senin (9/2/2026). 

Ekky melihat PTBA masih menarik untuk investor yang mencari dividen dan defensive komoditas. Jadi ke investasi atau swing karena volatilitas tidak akan sangat tinggi. Adapun strateginya lebih aman buy on weakness bertahap.  

Sukarno memproyeksikan potensi total imbal hasil dividen PTBA sebesar 7,7% pada tahun 2026 dan 5,7% pada tahun 2027 dengan asumsi dividend payout ratio (DPR) 75%. Risiko negatif utama meliputi perlambatan global, harga batu bara yang bergejolak, penguatan rupiah, transisi energi, dan perubahan regulasi.

Sukarno memperkirakan pendapatan dan laba bersih PTBA tahun 2025 masing – masing sebesar Rp 43,6 triliun dan Rp 2,2 triliun. Pendapatan dan laba bersih tahun 2026 diperkirakan mencapai Rp 42,9 triliun dan Rp 3,2 triliun. Adapun tahun 2024, PTBA mengantongi pendapatan Rp 42,7 triliun dan laba bersih Rp 5,1 triliun. 

Sukarno merekomendasikan Hold saham PTBA dengan target harga Rp 2.670 per saham. Sementara Lutfi dan Ekky merekomendasikan Buy on Weakness saham PTBA dengan target harga masing – masing Rp 2.900 per saham dan Rp 2.900 – Rp 3.000 per saham.

Baca Juga: Sentimen Extreme Fear Melanda Kripto, Literasi dan Edukasi Ekosistem Menjadi Kunci

Selanjutnya: Harga Emas Bertahan di Atas US$ 5.000 per Ons, Investor Menanti Data Ekonomi AS

Menarik Dibaca: 4 Manfaat Physical Touch dengan Pasangan, Lebih dari Sekadar Kemesraan!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News