Terlibat Dalam Proyek Molinas, Begini Prospek dan Rekomendasi Saham INDY



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Indika Energy Tbk (INDY) mendapat sentimen positif baru seiring keterlibatannya dalam program Motor Listrik Nasional (Molinas). Jalan INDY untuk meningkatkan pendapatan segmen non-batubara kini semakin terbuka lebar.

Sebagaimana diketahui, pekan lalu Presiden Prabowo Subianto meresmikan Molinas dan ekosistemnya yang dibangun oleh PT Ilectra Motor Group, anak usaha INDY. 

Ilectra telah berdiri sejak 2022 silam dan memproduksi motor listrik dengan merek ALVA. Mereka memiliki fasilitas produksi di Cikarang, Jawa Barat dengan kapasitas terpasang hingga 100.000 unit per tahun.


Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, keterlibatan INDY dalam ekosistem Molinas merupakan katalis strategis jangka panjang, meski dampak langsung terhadap kinerja konsolidasi emiten tersebut dalam jangka pendek masih relatif terbatas dibandingkan dengan bisnis lamanya.

Baca Juga: ​INDY & NCKL Masuk Blue Chip LQ45, Analis Lebih Jagokan Saham Indika Energy, Kenapa?

Terlepas dari itu, program Molinas telah memberi indikasi kuat bahwa INDY bakal terus berekspansi di sektor kendaraan listrik roda dua.

Terlebih lagi, INDY bukan sekadar investor, mereka sudah memiliki merek, fasilitas manufaktur, kapabilitas produksi, dan pengalaman membangun ekosistem motor listrik.

"Apabila adopsi motor listrik nasional meningkat dan dukungan pemerintah semakin konkret, ALVA berpotensi menjadi salah satu growth engine baru INDY dalam jangka panjang," ungkap dia, Kamis (20/8/2026).

Pengembangan Molinas juga berpotensi menjadi instrumen penting bagi INDY untuk memperbesar kontribusi pendapatan non-batubara secara struktural.

Hal ini sejalan dengan kebutuhan INDY untuk melakukan diversifikasi karena transisi energi berpotensi menekan prospek bisnis batubara dalam jangka panjang.

Namun, tantangan bagi INDY juga cukup besar, terutama dari sisi skala ekonomi. INDY harus menghadapi persaingan dengan produsen motor listrik dari China maupun Jepang.

Baca Juga: Indika Energy (INDY) Disebut Sedang Pertimbangkan Lepas Aset Tambang Rp 18,1 Triliun

Persaingan ini dapat terjadi dalam lingkup produksi, penentuan harga, kualitas produk, ekosistem baterai, hingga layanan purnajual.

Di samping itu, rencana pemerintah untuk mendorong pembiayaan motor listrik dengan bunga lebih rendah dan DP yang sangat rendah berpotensi menjadi katalis permintaan motor listrik.

"Namun, keberlanjutan kebijakan tersebut tetap perlu diperhatikan," imbuhnya.

Untuk itu, INDY perlu menjalankan strategi pengembangan bisnis secara bertahap tetapi agresif, dengan fokus pertama pada peningkatan utilisasi fasilitas produksi dan penciptaan volume penjualan yang berkelanjutan.

 
INDY Chart by TradingView

INDY juga perlu memperkuat komponen lokal, efisiensi biaya produksi, pengembangan teknologi baterai dan ekosistem pengisian baterai, serta memperluas jaringan distribusi dan layanan purnajual.

"Jika INDY mampu mencapai economies of scale dan membuat bisnis EV memberikan kontribusi EBITDA yang material tanpa membebani neraca secara berlebihan, maka Molinas berpotensi menjadi katalis transformasi bagi rerating INDY," jelas dia.

Baca Juga: Indika Energy (INDY) Cetak Kenaikan Laba 142% pada Kuartal I-2026

Nafan merekomendasikan add saham INDY dengan target harga di level Rp 3.330 per saham.

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, secara teknikal pergerakan saham INDY masih berada di fase sideways dalam jangka pendek, meski disertai oleh volume pembelian dan mampu berada di atas MA20.

Indikator MACD cenderung melandai di area positif dengan Stochastic menguat ke area overbought.

Dia pun merekomendasikan buy if break saham INDY dengan support di level Rp 2.540 per saham dan resistance di level Rp 2.760 per saham serta target harga di kisaran Rp 2.800--Rp 2.910 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News