Termasuk Saham Raffi Ahmad, Investor Bisa Pesan 6 Saham IPO, Cek Rekomendasi Analis!
Kamis, 02 Juli 2026 15:04 WIB
Oleh: Dimas Andi, Pulina Nityakanti, Rashif Usman, Ridwan Nanda Mulyana, Yuliana Hema | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta. Investor berkesempatan mendapatkan saham perdana dari initial public offering (IPO) enam perusahaan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, Kamis 2 Juli 2026. Dari enam saham IPO, manakah yang memiliki prospek investasi cerah? Ena saham IPO yang memasuki tahap penawaran umum adalah:
IPO Saham JECX PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), pengelola jaringan JEC Eye Hospitals & Clinics, menetapkan harga IPO sebesar Rp1.250 per saham. Masa penawaran umum berlangsung pada 1-3 Juli 2026. Perseroan menawarkan maksimal 487,98 juta saham baru atau setara 10% dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO. Selain penerbitan saham baru, terdapat penawaran 162,88 juta saham divestasi milik DR. Dr. Waldenius Girsang, SpM(K) atau sekitar 2% dari modal ditempatkan dan disetor setelah penawaran umum. Secara keseluruhan, nilai transaksi IPO JECX berpotensi mencapai Rp609,97 miliar, terdiri dari Rp406,65 miliar hasil penerbitan saham baru dan Rp203,32 miliar dari divestasi saham. Perseroan juga menyediakan program Employee Stock Allocation (ESA) sebanyak 11,16 juta saham atau sekitar 2,29% dari jumlah saham yang ditawarkan. Dana hasil penerbitan saham baru akan dimanfaatkan untuk: - sekitar Rp49 miliar untuk mempercepat pelunasan sebagian pinjaman kepada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA); - Rp100 miliar untuk pembayaran sebagian pinjaman kepada PT Bank HSBC Indonesia; - Rp185 miliar disalurkan kepada entitas anak, terdiri dari Rp50 miliar kepada PT Nitra Sanata Bali, Rp100 miliar sebagai pinjaman kepada PT Orbita, dan Rp35 miliar kepada PT JEC Candi Sejahtera; - sisanya digunakan sebagai modal kerja hingga paling lambat 31 Desember 2027. Baca Juga: Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (1/7): Turun Rp 5.000 Jadi Rp 2.625.000 Per Gram IPO Saham PRDL PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) juga memasuki masa penawaran umum pada 1-3 Juli 2026. Perusahaan produsen alat kesehatan diagnostik ini menawarkan maksimal 522,90 juta saham baru dengan harga IPO Rp120 per saham atau setara 30% dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO. Dari aksi korporasi tersebut, PRDL berpotensi memperoleh dana sekitar Rp62,74 miliar. Penggunaan dana IPO akan dialokasikan untuk: - sekitar Rp33,66 miliar guna melunasi sebagian fasilitas kredit kepada BCA dan Bank Panin; - sekitar 28,92% sebagai belanja modal (capital expenditure/capex); - sekitar 8,51% sebagai modal kerja. PRDL juga menyelenggarakan program Employee Stock Allocation (ESA) sebanyak 36,60 juta saham atau setara 7% dari total saham yang ditawarkan. Apabila seluruh proses berjalan sesuai jadwal, saham PRDL dijadwalkan mulai diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia pada 9 Juli 2026. Baca Juga: Mulai Hari Ini Penawaran Umum 3 Saham IPO (JECX-PRDL-JELI), Ini Cara Pesan Saham Baru IPO Saham JELI PT Niramas Utama Tbk (JELI), produsen makanan dan minuman penutup dengan merek INACO, juga membuka masa penawaran umum pada 1-3 Juli 2026. Perseroan menetapkan harga IPO sebesar Rp900 per saham dengan jumlah saham yang ditawarkan melalui sistem e-IPO sebanyak maksimal 266 juta saham. Dana hasil IPO akan digunakan untuk beberapa kebutuhan utama. Sebanyak 56,70% dialokasikan sebagai tambahan modal kepada PT Niramas Pandaan Sejahtera (NPS). Dana tersebut akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi gummy candy dan produk jelly guna memenuhi permintaan pasar domestik maupun ekspor. Selanjutnya, sekitar 10,04% dialokasikan untuk belanja modal berupa pembelian, instalasi, dan pelunasan mesin produksi beserta perlengkapannya. Sebesar 10,90% akan digunakan untuk membayar sebagian pokok utang jangka pendek kepada PT Bank Mandiri Tbk. Per 31 Maret 2026, nilai pokok pinjaman tersebut tercatat sekitar Rp25 miliar. Sementara itu, sisa dana sekitar 22,36% akan dimanfaatkan sebagai modal kerja, termasuk pembelian bahan baku, biaya operasional, dan aktivitas pemasaran. Dengan dimulainya masa penawaran umum ketiga emiten tersebut, investor memiliki tambahan pilihan saham IPO pada Juli 2026. Calon investor dapat mencermati prospektus masing-masing perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi sesuai profil risiko dan tujuan investasi masing-masing. Tonton: AI Ternyata Belum Bisa Gantikan Manusia! Ford, IBM hingga Bank Mulai Rekrut Karyawan Lagi IPO Saham RANS Masa penawaran umum IPO RANS berlangsung hingga 8 Juli 2026. Calon emiten milik Raffi Ahmad ini menawarkan maksimal 2,52 miliar saham atau setara dengan 20,02% dari modal ditempatkan dan disetor pasca IPO. RANS mematok harga IPO di level Rp 170. Dengan demikian, RANS berpotensi mengantongi dana segar sebesar Rp 429 miliar. Berdasarkan alokasi penggunaan dana IPO, RANS menganggarkan sekitar 6,98% untuk pembayaran lebih awal atas seluruh pokok utang kepada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Kemudian sekitar 18,64% akan digunakan sebagai belanja modal atau capital expenditure (capex) atas rencana ekspansi usaha dalam rangka pembangunan wahana bermain dan belajar edukatif dengan nama Cipungland. Selanjutnya, alokasi 37,61% dari dana IPO bakal digunakan oleh RANS untuk belanja operasional alias operational expenditure dalam rangka penyelenggaraan konser di berbagai kota di Indonesia. Lebih lanjut, dana IPO sebanyak 8,15% akan digunakan oleh RANS untuk membentuk suatu entitas usaha baru bersama dengan partner usaha yaitu PT Global Teknologi dalam rangka pengembangan bisnis teknologi berbasis AI. Lalu sekitar 19,80% akan digunakan oleh RANS untuk ekspansi usaha melalui akuisisi kepemilikan saham pada PT Rans Kosmetika Indonesia atau dengan merek Slavina. Terakhir, sisa dana IPO akan digunakan oleh RANS untuk melakukan penyetoran modal kepada entitas anak dalam bentuk setoran modal saham. Tonton: Menjajal Wuling Darion Dengan Memaksimalkan Fiturnya IPO Saham EMII EMMI adalah perusahaan yang bergerak dalam perdagangan besar alat laboratorium, alat farmasi, dan alat kedokteran untuk manusia. Direktur Utama Esa Medika Mandiri, Florian Chris Widjaja menyampaikan bahwa IPO ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat fondasi pertumbuhan EMMI sebagai penyedia alat kesehatan di Indonesia. Florian menyatakan IPO akan menjadi awal dari fase pertumbuhan baru bagi Esa Medika Mandiri. "Melalui IPO ini, kami optimistis dapat mendorong Esa Medika Mandiri menjadi perusahaan alat kesehatan nasional yang lebih kuat, terintegrasi, dan semakin relevan dalam mendukung peningkatan layanan kesehatan di Indonesia,” ujar Florian melalui keterangan tertulis yang disiarkan pada Kamis (2/7/2026). EMMI memasuki masa penawaran umum perdana saham pada 2 – 6 Juli 2026. Dalam aksi korporasi ini, EMMI menawarkan 522.857.000 saham baru atau 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO, dengan harga penawaran Rp 470 per saham. Jumlah seluruh nilai penawaran ini mencapai sebesar Rp 245,74 miliar. Dana hasil IPO, setelah dikurangi biaya-biaya emisi, akan digunakan untuk memperkuat struktur keuangan dan mendukung pengembangan usaha EMMI. Dana sebesar Rp 50 miliar akan digunakan untuk pembayaran sebagian pokok pinjaman, sekitar 6,4% untuk pembiayaan belanja modal pembangunan gedung pabrik Cikupa. Kemudian sekitar 72,3% untuk modal kerja, antara lain pembelian barang terkait proyek softloan serta pembelian bahan baku/persediaan untuk menunjang operasional bisnis. Florian mengatakan, penguatan modal kerja dan kapasitas usaha menjadi penting seiring meningkatnya kebutuhan fasilitas kesehatan terhadap alat kesehatan yang andal dan berkualitas. EMMI melihat kebutuhan alat kesehatan nasional masih memiliki ruang pertumbuhan yang luas, didorong oleh modernisasi rumah sakit, peningkatan kapasitas layanan kesehatan, serta penguatan industri alat kesehatan dalam negeri. "Dengan pengalaman lebih dari 25 tahun, jaringan distribusi nasional, fasilitas manufaktur lokal, serta kemitraan dengan berbagai prinsipal alat kesehatan, Perseroan berada pada posisi yang baik untuk menangkap peluang tersebut,” tambah Florian. Portofolio Esa Medika Mandiri mencakup peralatan medis atau capital equipment untuk mendukung layanan kritikal di ruang operasi, ICU (Intensive Care Unit), IGD (Instalasi Gawat Darurat), dan sistem sterilisasi. Esa Medika Mandiri telah melayani lebih dari 200 rumah sakit dan fasilitas kesehatan di Indonesia, didukung oleh 1 kantor pusat, 2 pabrik, 4 kantor perwakilan, serta sales representative di berbagai wilayah. Secara kinerja, Esa Medika Mandiri membukukan penjualan bersih sebesar Rp 454,64 miliar pada 2025, meningkat 18,11% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 384,93 miliar. Laba bersih tahun berjalan meningkat 188,23% menjadi Rp 32,44 miliar pada 2025 dari Rp 11,25 miliar pada 2024. Dalam IPO ini, PT BRI Danareksa Sekuritas dan PT Ina Sekuritas Indonesia bertindak sebagai Penjamin Pelaksana Emisi Efek. Sementara PT Yulie Sekuritas Indonesia Tbk dan PT Investindo Nusantara Sekuritas bertindak sebagai Penjamin Emisi Efek. Tonton: Vietnam Mulai Penuh! Investor Siap Relokasi Pabrik ke Jawa Tengah, Peluang Serap Ribuan Tenaga Kerja IPO Saham BACH BACH adalah calon emiten di sektor penjualan dan penyewaan infrastruktur telekomunikasi. Masa penawaran umum perdana saham BACH hingga 6 Juli 2026. BACH mematok harga IPO di posisi Rp 442 per saham. Adapun emiten di sektor industrial ini menawarkan maksimal 615 juta saham baru atau setara dengan 15,06% dari modal ditempatkan dan disetor penuh pasca IPO. Dalam penggunaan dan IPO, BACH berencana menggunakan Rp 91,02 miliar dari dana IPO setelah dikurangi berbagai biaya emisi untuk pembayaran sebagian utang kepada PT Bank Permata Tbk atas fasilitas pinjaman jangka pendek. Sisanya sekitar Rp 213,48 miliar akan digunakan sebagai modal kerja oleh BACH, yaitu dalam rangka pembelian genset untuk dijual maupun disewakan Lalu berdasarkan kinerja keuangan, BACH melaporkan pendapatan sebesar Rp 1,73 triliun per tahun 2025, meningkat 39,66% dari posisi yang sama tahun sebelumnya Rp 1,24 triliun. Manajemen BACH menerangkan, kenaikan tersebut disebabkan oleh meningkatnya pendapatan segmen usaha penjualan dan penyewaan genset perusahaan. Selain itu, perusahaan juga memperoleh tambahan kontrak penyewaan baru yang memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan dari penyewaan genset. Untuk meningkatkan kualitas dan keberlanjutan pendapatan, manajemen BACH menerapkan kebijakan perluasan basis dan jaringan pelanggan, peningkatan kualitas layanan, optimalisasi utilisasi armada genset, serta pengembangan segmen usaha yang memiliki margin lebih baik. Tonton: Viral! Koperasi Desa Merah Putih Berdiri di Tengah Tambak, Warga Pertanyakan Lokasinya Rekomendasi Saham IPO Ester Mulyani, Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori mengatakan, di tengah pasar yang bearish, investor biasanya akan lebih selektif terhadap ajang initial public offering (IPO) yang punya pertumbuhan pendapatan jelas, penggunaan dana dekat dengan revenue generation, valuasi relatif tidak terlalu mahal, dan pengendali yang kuat. Dengan kriteria tersebut, IPO BACH pun menjadi yang paling menarik dibandingkan lima emiten lainnya. BACH mencatat pendapatan 2025 sebesar Rp 1,73 triliun, naik 39,66% Yo. Laba tahun berjalan tahun lalu tercatat Rp 155,55 miliar, naik 97,54% YoY. Return on equity (ROE) juga tinggi di 29,02%, sementara debt to ratio (DER) 2025 di 1,30x dan masih memenuhi covenant perbankan. Dari sisi valuasi sederhana, dengan saham setelah IPO sebanyak 4,084 miliar saham dan harga Rp400–Rp500 per saham, PER tahun 2025 sekitar 10,5x–13,1x. Baca Juga: Debut di Bursa, Simak Prospek Saham PT Rans Entertainmen Milik Raffi Ahmad “Ini masih relatif lebih masuk akal dibanding beberapa IPO lain yang price to earning ratio (PER)-nya jauh lebih premium,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (24/6/2026). Dari sisi skala bisnis dan momentum laba, BACH juga masih unggul dan layak untuk diperhatikan. BACH menarik lantaran setelah pelaksanaan opsi, PT Global Telekomunikasi Prima (GTP) akan memiliki 51,00% saham perusahaan, sementara individu pengendali melalui GTP adalah Martin Basuki Hartono dan Victor Rachmat Hartono. “Ini memberi persepsi sponsor atau controlling shareholder yang kuat,” tuturnya. Dari sisi penggunaan dana, sekitar Rp 91,02 miliar atau sekitar 29,6% dari maksimum dana IPO bruto BACH digunakan untuk pembayaran sebagian utang Bank Permata. Sementara, sekitar Rp 213,48 miliar atau 69,4% digunakan sebagai modal kerja pembelian genset untuk dijual maupun disewakan. “Jadi dana IPO BACH bukan sekadar tambal utang, tetapi mayoritas langsung terkait peningkatan inventory atau kapasitas penjualan,” katanya. Kemudian, alternatif paling defensif adalah PRDL. Alasannya, bisnis perusahaan ini masuk healthcare atau diagnostic device dan didukung ekosistem Prodia. Dari sisi kinerja, terlihat margin laba bersih PRDL sebesar 22,84%, ROE 20,45%, dan current ratio 2,14x. “Valuasinya juga relatif wajar di sekitar 10,3x-12,3x dari PER tahun 2025 berdasarkan perhitungan dari data prospektus,” ungkapnya. Baca Juga: IPO Sepi dan Pasar Saham Masih Lesu, Bagaimana Arah Pergerakan ke Depan? JELI juga prospektif dari sisi penggunaan dana. Sebab, sekitar 51,04% dana IPO masuk ke PT NPS untuk belanja modal mesin produksi, 18,36% untuk capex mesin atau logistik Perseroan, 10,63% untuk bayar sebagian utang Bank Mandiri, dan 19,97% untuk modal kerja. “Artinya, sekitar 69,4% dana IPO eksplisit diarahkan ke ekspansi kapasitas, terutama gummy candy dan jelly, bukan dominan untuk deleveraging,” tuturnya. Secara rinci, Ester mengurutkan IPO yang paling menarik adalah BACH, PRDL, JELI, EMMI, JECX, dan RANS. Untuk EMMI, laba bersih 2025 memang masih tumbuh kuat. Namun, DER masih 2,89x dan current ratio 0,92x, sehingga risiko struktur keuangan belum sepenuhnya ringan. Untuk JECX, kinerjanya kuat secara sektoral. Namun laba tahun 2025 masih jauh di bawah tahun 2023 yang sebesar Rp127,28 miliar. Selain itu, dana IPO yang diterima JECX dari saham baru mayoritas untuk deleveraging, dengan sekitar Rp275 miliar atau 60,4%, dan sebagian IPO adalah saham divestasi yang dananya tidak masuk ke perseroan. Terakhir, IPO RANS dinilai yang paling spekulatif. RANS memang didukung oleh brand kuat dan DER rendah. Namun, pendapatan 2025 turun menjadi Rp353,38 miliar dari Rp410,50 miliar dan laba turun menjadi Rp56,69 miliar dari Rp97,07 miliar. “Valuasi RANS juga premium. Ini lebih cocok untuk memanfaatkan momentum atau hype, bukan defensif di pasar bearish,” tuturnya. Baca Juga: BEI Suspensi Saham WBSA Usai Melonjak 307% Sejak IPO, Analis Ingatkan Risiko Di kondisi pasar yang tengah bergejolak cenderung lesu saat ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan investor dalam melihat ajang IPO. Pertama, investor perlu lebih disiplin melihat valuasi IPO terhadap laba 2025, bukan hanya cerita pertumbuhan. Di pasar bearish, IPO dengan PER premium akan lebih rentan terkoreksi jika tidak langsung menunjukkan pertumbuhan laba yang meyakinkan. Kedua, perhatikan kualitas penggunaan dana IPO. Menurut Ester, IPO yang dananya mayoritas untuk ekspansi produktif atau modal kerja yang langsung berhubungan dengan pendapatan cenderung lebih menarik jika dibandingkan IPO yang terlalu dominan untuk membayar utang atau saham divestasi. Ketiga, cermati struktur kepemilikan dan alignment pengendali. “Di tengah sentimen negatif MSCI terkait free float, transparansi, dan konsentrasi kepemilikan, emiten yang punya pengendali jelas, lock-up/komitmen tidak mengalihkan kendali, serta penggunaan dana yang transparan akan lebih disukai,” ungkapnya. Analis Phillip Sekuritas Helen Vincentia menambahkan, investor dapat memperhatikan beberapa hal dalam mencermati saham IPO. Baca Juga: Intip Prospek Prodia (PRDL) dan Niramas (JELI) yang Mau IPO di Awal Juli 2026 Pertama, kinerja emiten. “Apakah pertumbuhan pendapatan dan laba menunjukkan pertumbuhan dari tahun ke tahun, margin, utang yang dimiliki sektor dan industri,” katanya kepada Kontan, Rabu. Kedua, tren industri. Investor bisa memilih sektor dengan potensi pertumbuhan yang tinggi dan prospek cerah Ketiga, valuasi emiten dibanding perusahaan sejenis.
Keempat, penggunaan dana hasil IPO. Kelima, jumlah saham yang dilepas. “Keenam, kepemilikan saham, apakah terafiliasi dengan grup konglomerasi besar. Terakhir, rekam jejak dari penjamin emisi,” tuturnya.
BREAKING NEWS! Presiden Prabowo Subianto Sambut Kunjungan Presiden Republik Belarus di Istana