KONTAN.CO.ID - Akademisi dan praktisi bisnis Rhenald Kasali menyoroti tren micro-drama asal China yang mulai menggeser dominasi drama Korea. Micro-drama ini berdurasi sekitar lima menit per episode, disajikan secara bersambung, sehingga membuat penonton penasaran dan pada akhirnya harus membayar untuk melanjutkan ceritanya. “Salah satu cerita menampilkan tokoh Jonan, teknisi pendingin udara dengan penghasilan biasa, yang dijodohkan dan menghadapi kisah sehari-hari sederhana namun menghibur,” ujar Rhenald dilansir dari akun Instagramnya Senin (12/1/2026).
Baca Juga: Pemerintah Kebut Pemulihan Daerah Terdampak Bencana Aceh dan Sumatera Meski sederhana, format pendek ini mampu menarik minat besar; banyak penonton rela membayar Rp 80–150 ribu per minggu. Pada 2025, pendapatan micro-drama diperkirakan bisa melampaui Disney. Berbeda dengan film China sebelumnya yang banyak mengangkat kungfu, vampir, atau dinasti, micro-drama kini menggunakan AI untuk menyesuaikan bahasa, nama tokoh, dan budaya lokal di setiap negara. Durasi singkat menyesuaikan
attention span penonton yang semakin pendek, sehingga cerita dapat dicicil namun tetap membuat penasaran. Judul populer seperti
Suami untuk Tiga Tahun, Menikah Lagi dengan Ketua Direksi, dan
Istriku Tiga, Takdirku Gila sering menampilkan twist “pura-pura miskin ternyata CEO” atau tema dramatis ringan lain yang mudah diterima publik. Format ini mengubah cara monetisasi: penonton menonton gratis beberapa menit awal, lalu harus membayar untuk melanjutkan.
Artificial Intelligence (AI) juga memudahkan alih suara sehingga versi lokal dapat dinikmati di berbagai negara. “Fenomena micro-drama lima menit bukan sekadar hiburan, tetapi strategi budaya dan ekonomi. Saat cerita, teknologi, dan kebiasaan menonton bertemu, lahirlah model bisnis baru yang perlahan menggeser dominasi lama. Budaya memengaruhi cara hidup, membayar, dan memilih hiburan,” katanya.
Baca Juga: Stimulus Jelang Nataru, Mampukah Bikin Ekonomi 2025 Melaju? Strategi OTT Lokal dalam Menghadapi Tren Micro-Drama WeTV Indonesia menyiapkan strategi untuk menarik dan mempertahankan pelanggan, terutama di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap micro-drama China. Berdasarkan laporan Media Partners Asia, bisnis micro-drama global diproyeksikan menghasilkan US$ 16 miliar pada 2026 dan meningkat hingga US$ 26 miliar pada 2030. Febriamy Hutapea, Country Head WeTV Indonesia, mengatakan durasi singkat yang dipadukan dengan alur cerita kuat menjadi keunggulan utama micro-drama. Hingga kini, WeTV menayangkan 74 judul micro-drama China, termasuk
Mr. Gu, Your Wife Has Blocked You Again, dan
The Best Couple.
Baca Juga: Pemerintah Terus Kaji Skema Pembayaran Utang Jumbo Whoosh Micro-drama berperan sebagai
entry point untuk menjangkau segmen audiens baru sekaligus meningkatkan frekuensi kunjungan dan
engagement pengguna. WeTV memanfaatkan ekosistem Tencent untuk mengoptimalkan konten, teknologi, dan pemahaman perilaku audiens. Strategi monetisasi mencakup transaksi per episode, paket lengkap, serta skema
freemium dan
one-time purchase, yang memungkinkan pengguna menonton beberapa episode gratis sebelum membayar untuk akses penuh. Viu juga mengikuti tren ini dengan meluncurkan Viu Shorts, tayangan micro-drama vertikal berdurasi 1–3 menit khusus untuk mobile. Fitur ini memungkinkan penonton menikmati hiburan instan tanpa mengorbankan kualitas cerita. Viu Shorts menyajikan micro-drama lintas bahasa, termasuk Mandarin, Korea, Thailand, dan Indonesia, dengan subtitle lokal. Janice Lee, CEO Viu, mengatakan, “Viu Shorts menghadirkan pengalaman bercerita yang cepat, padat, dan tetap emosional dalam format episodik singkat. Fitur ini melengkapi koleksi drama dan film panjang premium Viu dan memungkinkan kami menjangkau penonton sesuai preferensi mereka.” Model akses freemium diterapkan, di mana konten tertentu dapat ditonton gratis, sementara pelanggan berlangganan mendapatkan akses penuh tanpa batas. Viu bekerja sama dengan distributor dan rumah produksi ternama seperti Rising Joy, KT Studiogenie, China Huace, 1001 Frames, dan Youhug Media.
Baca Juga: Ekspor Indonesia Bisa Tertinggal! AS Beri Keuntungan Besar untuk Negara Tetangga Prospek Pertumbuhan Industri Micro-Drama Berdasarkan laporan The Micro-Drama Economy 2025 yang dirilis Media Partners Asia (MPA), pendapatan industri micro-drama China terus meningkat: dari US$ 5,1 miliar pada 2023 menjadi US$ 6,9 miliar pada 2024, dan diproyeksikan mencapai US$ 9,4 miliar (Rp 156 triliun) pada 2025. Delapan platform besar yang menayangkan micro-drama antara lain DramaBox, DramaWave, FlickReels, GoodShort, MoboReels, NetShort, ReelShort, dan ShortMax. Proyeksi pendapatan industri micro-drama China hingga 2030 adalah US$ 16,2 miliar, dengan CAGR 2025–2030 mencapai 11,5 persen. Pendapatan ini jauh di atas rata-rata industri micro-drama Jepang dan Korea.
Baca Juga: Shutdown Pemerintah AS Masuk Minggu Ketiga, Akankah Ukir Rekor Baru? Untuk Asia Tenggara, pendapatan 2025 diperkirakan US$ 189 juta (Rp 3,13 triliun), dengan kontribusi terbesar dari Indonesia (US$ 66 juta), Thailand (US$ 49 juta), dan Filipina (US$ 44 juta). Hingga 2030, industri micro-drama Asia Tenggara diperkirakan mencapai US$ 1,2 miliar (Rp 19,88 triliun), dengan Indonesia berkontribusi US$ 311 juta (Rp 5,15 triliun), CAGR 36,3 persen.
Fenomena ini menunjukkan micro-drama telah menjadi industri kreatif global dengan strategi monetisasi baru, pengaruh budaya, dan teknologi AI yang kuat, siap menggantikan dominasi model hiburan konvensional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News