KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga tembaga melemah pada perdagangan Selasa (23/6/2026) di tengah kekhawatiran pasar terhadap prospek kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) yang diperkirakan masih berlanjut, serta penguatan dolar AS yang menekan harga komoditas berbasis greenback. Di pasar London Metal Exchange (LME), harga tembaga acuan tiga bulan turun 1,36% menjadi US$ 13.463 per ton pada pukul 07.01 GMT. Sementara itu, kontrak tembaga paling aktif di Shanghai Futures Exchange (SHFE) juga terkoreksi 1,07% ke level 103.580 yuan (sekitar US$15.277) per ton.
Sentimen negatif datang dari meningkatnya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve masih akan menaikkan suku bunga tahun ini, seiring inflasi yang tetap persisten dan sikap kebijakan moneter yang cenderung lebih ketat dari kepemimpinan baru The Fed.
Baca Juga: Suku Bunga AS Tak Pasti: Harga Emas Tertekan, Bagaimana Prospeknya? Kenaikan suku bunga dinilai dapat menekan prospek pertumbuhan global, sekaligus mengurangi permintaan terhadap logam industri seperti tembaga karena biaya pinjaman yang lebih tinggi memperlambat aktivitas ekonomi. Di sisi lain, penguatan dolar AS turut menambah tekanan. Mata uang yang lebih kuat membuat komoditas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain, sehingga menekan permintaan. Dari sisi fundamental, data Biro Statistik Nasional China menunjukkan produksi tembaga olahan di negara tersebut naik 2,2% secara tahunan menjadi 1,26 juta ton. Kenaikan produksi ini menambah kekhawatiran pasar terhadap potensi pasokan yang lebih longgar di tengah permintaan yang belum solid. Tekanan di pasar logam tidak hanya terjadi pada tembaga. Aluminium mencatat penurunan tajam sebesar 3,54% di LME dan 2,23% di SHFE.
Baca Juga: Harga Emas Siap Catat Kenaikan Mingguan, Prospek Suku Bunga AS Imbang Penguatan Dolar Pasar masih menimbang gangguan pasokan dari kawasan Teluk akibat ketegangan geopolitik yang menghambat pengiriman melalui Selat Hormuz, di tengah produksi yang belum kembali ke level pra-konflik. Namun, data International Aluminium Institute menunjukkan produksi aluminium primer global tetap naik 3,5% secara tahunan pada Mei menjadi 6,2 juta ton, didorong peningkatan output dari China. Di saat yang sama, ekspor aluminium China melalui jalur kawat aluminium yang mendapat keuntungan pajak juga melonjak tajam, lebih dari tiga kali lipat dibanding April menjadi 50.224 ton pada Mei.
Meski demikian, sejumlah analis menilai pasar aluminium masih berpotensi mengalami defisit tahun ini.
Baca Juga: Harga Emas Menuju Kenaikan Mingguan Ketiga Jumat (10/4), Dipicu Prospek Suku Bunga AS Komoditas logam dasar lainnya juga bergerak melemah. Di LME, harga seng turun 2,16%, timbal 1,04%, nikel 2,25%, dan timah anjlok 3,87%. Di SHFE, penurunan juga terjadi pada seng 0,63%, timbal 0,15%, nikel 1,68%, dan timah yang terkoreksi paling dalam sebesar 4,1%.