Terungkap! Trump Pernah Sebut Netanyahu 'Gila' dalam Percakapan Telepon



KONTAN.CO.ID – WASHINGTON. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui bahwa dirinya pernah menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai sosok yang "gila" dalam percakapan telepon bernada keras terkait konflik di Lebanon, ketika Amerika Serikat tengah berupaya menegosiasikan penghentian permusuhan dengan Iran.

Pengakuan tersebut disampaikan Trump dalam wawancara yang disiarkan pada Rabu (3/6). Dalam wawancara itu, Trump ditanya mengenai laporan Axios yang menyebut dirinya pernah menyebut pemimpin Israel tersebut sebagai "sangat gila" serta menuduh Netanyahu tidak tahu berterima kasih.

"Saya memang mengatakannya," ujar Trump dalam podcast Pod Force One.


"Saya tidak akan mengatakan bahwa saya marah. Saya hanya sedikit terganggu dengan sikapnya yang terus-menerus berperang dengan Lebanon."

Meski demikian, Trump menegaskan bahwa hubungannya dengan Netanyahu tetap berjalan baik.

"Saya dan Netanyahu memiliki hubungan yang sangat baik," katanya.

Baca Juga: Trump Klaim Iran Sudah Sepakat Tak Kembangkan Senjata Nuklir

Laporan Axios yang mengutip seorang pejabat Amerika Serikat yang tidak disebutkan namanya menyebutkan bahwa Trump mengatakan kepada Netanyahu dalam percakapan telepon pada Senin lalu:

"Anda benar-benar gila. Anda akan berada di penjara jika bukan karena saya. Saya menyelamatkan Anda. Sekarang semua orang membenci Anda. Semua orang membenci Israel karena hal ini."

Trump juga mengungkapkan bahwa pada satu titik dalam percakapan tersebut, dirinya mendesak Netanyahu untuk menghentikan konflik.

"Pada suatu saat saya mengatakan, Bibi, kita harus menghentikan ini. Kita harus menghentikannya," ujar Trump, menggunakan nama panggilan Netanyahu.

Konflik Iran-Israel dan Lebanon

Iran sebelumnya menyatakan tidak akan menyetujui kesepakatan dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang yang dimulai oleh Trump dan Netanyahu pada akhir Februari, kecuali gencatan senjata juga mencakup Lebanon.

Israel menginvasi Lebanon pada Maret lalu dengan tujuan memburu kelompok milisi Hezbollah yang didukung Iran. Kelompok tersebut sebelumnya melancarkan serangan lintas perbatasan sebagai bentuk dukungan terhadap Teheran.

Permusuhan masih berlanjut meskipun pada Senin lalu diumumkan kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat. Kesepakatan tersebut mendorong Israel untuk membatalkan rencana serangan terhadap wilayah pinggiran selatan Beirut yang dikuasai Hezbollah, sementara kelompok tersebut menghentikan serangan lintas batas.

Namun, sumber keamanan Lebanon mengatakan serangan pesawat nirawak Israel pada Rabu menewaskan sedikitnya enam orang di wilayah selatan Lebanon dan menargetkan sebuah kendaraan di kawasan selatan Beirut.

Baca Juga: Konflik Iran-AS Kembali Memanas, Bandara Kuwait Diserang dan Harga Minyak Naik

Di sisi lain, militer Israel menyatakan berhasil mencegat sebuah pesawat yang dianggap bermusuhan dan diduga diluncurkan oleh Hezbollah.

Trump Bantah Netanyahu Memanipulasi AS

Dalam wawancara yang sama, Trump juga menunjukkan ketidaksenangannya ketika ditanya apakah Netanyahu telah "memanipulasi" dirinya untuk menyerang Iran.

Trump menolak tuduhan tersebut dan menyebut para pengkritiknya sebagai "musuh".

Pernyataan keras terhadap Israel bukan kali pertama dilontarkan Trump. Pada tahun lalu, ia secara terbuka mengatakan bahwa Israel dan Iran "tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan" ketika konflik kedua negara meningkat.