Terus Melemah Ke 310, Harga Saham Batubara Ini Diprediksi Bangkit Ke 400-an



KONTAN.CO.ID - Jakarta. Harga PT Buma Internasional Grup Tbk (DOID) terus melemah dalam setahun terakhir. Analis menilai, saham perusahaan tambang batubara tersebut memiliki potensi kenaikan tinggi pada tahun 2026 ini.

Harga saham DOID pada perdagangan Selasa 24 Februari 2026 ditutup di level 310 turun 10 poin atau 3,13% dibandingkan sehari sebelumnya. Selama setahun terakhir, harga saham DOID terakumulasi turun 170 poin atau 35,42%.

Meski merosot tajam, harga saham DOID ini belum mencapai titik terendah dalam 5 tahun terakhir. Harga saham DOID pernah di level 240 pada 21 Januari 2022.


Namun analis menyarankan investor mencermati saham DOID. Harga saham DOID berpotensi naik seiring perbaikan kinerja perusahaan.

Baca Juga: Terjawab! Ini Penyebab Lonjakan Harga Saham WMUU yang Mencapai 19%

Manajemen DOID memilih menjaga stabilitas operasional dan memperkuat kinerja bisnis yang sudah berjalan di tengah dinamika industri tambang serta volatilitas harga komoditas global.

Direktur DOID, Iwan Fuad Salim, mengatakan hingga saat ini perusahaan belum melihat dampak signifikan terhadap rencana bisnis maupun operasional. Koordinasi dengan klien juga menunjukkan belum ada perubahan strategi kerja yang telah disusun sebelumnya.

“Sejauh ini belum ada arahan dari klien untuk mengubah rencana yang sudah kami siapkan. Jadi kami masih menjalankan rencana operasional seperti biasa sambil terus memonitor situasi,” ujar Iwan dalam Iftar Media Gathering, Selasa (24/2/2026).

Fokus Perkuat Bisnis Eksisting dan Efisiensi

Saat ini, DOID memprioritaskan peningkatan kinerja bisnis eksisting di Indonesia, Australia, dan Amerika Serikat. Penunjukan Ronald Sutardja sebagai Direktur Utama PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA) sejak awal 2026 menjadi bagian dari langkah strategis memperbaiki performa operasional.

Dari sisi investasi, DOID merealisasikan belanja modal (capex) sekitar US$ 170 juta sepanjang 2025. Mayoritas dialokasikan untuk growth capex dan sebagian untuk maintenance capex, terutama mendukung kontrak baru di Indonesia.

Realisasi capex tersebut lebih rendah dari panduan awal US$ 175 juta, seiring strategi disiplin pengeluaran dan penurunan unit cost. Sumber pendanaan capex 2025 berasal dari kombinasi pinjaman bank (sekitar 40%), leasing, serta obligasi (sekitar 10%–15%). Manajemen menyebut dukungan lembaga keuangan, baik bank konvensional maupun syariah, masih kuat.

Tonton: Khamenei Siapkan Pengganti Jika Tewas Diserang AS-Israel

Selektif Ekspansi di Tengah Fluktuasi Harga Komoditas

Di tengah fluktuasi harga batu bara global, DOID memilih lebih selektif dalam ekspansi dan akuisisi.

“Dalam kondisi pasar seperti sekarang justru banyak peluang, tapi kami tidak terburu-buru. Fokus kami memastikan bisnis yang ada semakin kuat,” jelas Iwan.

Perusahaan menargetkan laporan kinerja full year 2025 akan diumumkan pada akhir Maret 2026 setelah proses audit selesai.

Tonton: Pasokan Batubara Dalam Negeri Terancam, Pupuk Indonesia Lakukan Penyesuaian

Proyeksi Kinerja DOID 2026: Efisiensi Jadi Kunci

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai DOID masih memiliki prospek pertumbuhan solid pada 2026, didorong efisiensi struktural dan perbaikan struktur keuangan.

Langkah pelunasan utang dan refinancing dinilai berpotensi menurunkan beban bunga secara signifikan.

“Pendapatan berpotensi tumbuh stabil, tetapi laba bersih bisa meningkat lebih tinggi karena efisiensi dan penurunan interest expense,” ujar Wafi.

Strategi diversifikasi menjadi katalis utama. DOID meningkatkan eksposur ke batu bara metalurgi (coking coal) yang memiliki margin lebih tinggi dan permintaan lebih stabil. Kontribusi operasi BUMA Australia juga dinilai semakin konsisten menopang pendapatan.

Secara operasional, volume overburden removal dan produksi batu bara diperkirakan tumbuh moderat pada kisaran satu digit hingga dua digit rendah. Namun, pertumbuhan EBITDA dan laba bersih berpotensi melampaui kenaikan pendapatan.

Risiko tetap perlu dicermati, termasuk anomali cuaca dan fluktuasi harga batu bara global yang dapat memicu renegosiasi tarif kontraktor.

Tonton: Merdeka Copper Gold (MDKA) Percepat Tambang Emas Pani di Tengah Kemilau Harga Emas

Rekomendasi Saham DOID

KISI Sekuritas memberikan rekomendasi buy untuk saham DOID dengan target harga Rp 450 per saham.

Sementara itu, Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, memproyeksikan kinerja DOID pada 2026 tumbuh moderat dibandingkan tahun sebelumnya.

Pertumbuhan pendapatan didorong kontribusi kontrak baru, backlog kuat, serta ekspansi ke sektor mineral dan pasar internasional. Namun, pertumbuhan laba bersih dinilai lebih terbatas akibat normalisasi margin jasa tambang dan tekanan biaya operasional.

“Kinerja masih ditopang stabilitas produksi klien batu bara dan efisiensi operasional yang menjaga utilisasi alat,” ujar Sukarno.

Kiwoom Sekuritas memberikan rekomendasi hold untuk saham DOID dengan target harga Rp 350 per saham.

Ke depan, diversifikasi komoditas dan ekspansi global menjadi peluang utama memperkuat visibilitas pendapatan. Adapun risiko yang perlu dicermati meliputi volatilitas harga batu bara, tekanan biaya operasional, serta tren dekarbonisasi global.  

Ada Peran Intelijen AS di Balik Tewasnya Raja Narkoba Meksiko El Mencho
© 2026 Konten oleh Kontan

Selanjutnya: IHSG Diprediksi Melemah, Cek Rekomendasi ASII, BBCA, ISAT, PTBA & UNTR, Rabu (25/2)

Menarik Dibaca: Ini 5 Negara dengan Waktu Durasi Puasa Terpanjang di Dunia, Tertarik Kunjungi?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News