Terus Merugi, 50% Peternak Telur Jawa Barat Klaim Tutup Kandang



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peternak telur Jawa Barat mengaku mengalami kerugian drastis karena peningkatan biaya produksi tidak disertai dengan kenaikan harga jual telur. 

Sekretaris Koperasi Produsen Peternak Sumedang Rakyat, Ikhwan bahkan menyebut 50% anggotanya yang terdiri dari peternak telur di seluruh Jawa Barat terpaksa menutup kandang karena terus mengalami kerugian selama 7 bulan ini. 

"Hari ini peternak kita tinggal di ujung tanduk, ya mereka banyak yang tutup kandang bahkan dijual kandangnya," kata Ikhwan pada Kontan di Kantor Kementerian Pertanian, Selasa (26/10/2026). 


Baca Juga: Prakiraan Cuaca Jawa Barat Selasa (4/8): Waspada Hujan Ringan di Bekasi dan Depok

Ikhwan mengatakan saat ini biaya produksi telur di tingkat peternak mencapai Rp 24.500/kg. Kenaikan ini dipicu karena melonjaknya harga pakan. 

Ikhwan bilang saat ini harga jagung pakan mencapai Rp 8.000/kg. Di sisi lain, dia menyebut program SPHP jagung untuk peternak masih belum terdistribusi secara merata kepada peternak.

"Jadi harga produksi  ini membengkak, karena pakannya," tegas Ikhwan. 

Lebih dari itu, Ikhwan menegaskan kenaikan produksi ini tidak diimbangi dengan kenaikan harga telur di tingkat peternak. 

Dia mengatakan saat ini harga telur di produsen hanya mencapai Rp 20.000/kg. Artinya ada selisih 4.000/kg kerugian yang harus ditanggung peternak. 

"Padahal kalau HAP pemerintah itu harusnya Rp 26.500 di tingkat peternak. Tapi hari ini kita di Jawa Barat hanya kebeli 20.000/kg, sementara biaya produksi itu Rp 24.000/kg," jelas Ihkwan. 

Baca Juga: Waspada Hujan Ringan! Cuaca Jawa Barat Senin (11/5), Cek Wilayah Anda

Menurut Ikhwan, anjloknya harga telur di tingkat peternak ini juga diakibatkan adanya kelebihan produksi.

Dirinya menilai salah satu penyebabnya karena pemerintah memberikan akses produksi telur kepada pengusaha besar untuk kebutuhan ekspor. 

Namun dalam praktiknya, lanjut Ikhwan, para pengusaha besar justru turut memasarkan produksi telur mereka ke pasar domestik. 

"Kenapa peternak kok tiba-tiba oversupply-nya itu semua pada punya telur gitu kan? Nah ini kan yang main juga kan nggak cuma yang kecil-kecil, tapi yang besar-besar. Yang tadi yang punya pakannya, yang punya DOC-nya, yang punya obatnya gitu," tegas Ikhwan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News