Tesla Genjot Investasi Lebih dari US$25 Miliar untuk AI, Robotik, dan Chip



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Produsen kendaraan listrik asal Amerika Serikat, Tesla, meningkatkan rencana belanja modal (capital expenditure/capex) menjadi lebih dari US$25 miliar tahun ini. Langkah ini diambil seiring dorongan besar CEO Elon Musk untuk memperkuat investasi di bidang kecerdasan buatan (AI), robotika, dan semikonduktor.

Musk menyatakan bahwa peningkatan investasi tersebut “sangat beralasan” karena ditujukan untuk membangun sumber pendapatan besar di masa depan. “Kami akan secara signifikan meningkatkan investasi untuk masa depan,” ujar Musk dalam paparan kinerja kepada analis.

Namun, pasar merespons langkah ini dengan hati-hati. Saham Tesla turun sekitar 2,4% setelah pernyataan tersebut, meskipun sebelumnya sempat naik hingga 4% setelah perusahaan melaporkan arus kas bebas (free cash flow) positif pada kuartal pertama.

Fase Investasi Besar-besaran


Tesla saat ini berada dalam fase investasi besar yang disebut sebagai salah satu taruhan paling mahal dalam sejarah perusahaan. Fokus bisnis bergeser dari sekadar kendaraan listrik menjadi pengembangan taksi otonom berbasis AI dan robot humanoid.

Baca Juga: Arab Saudi dan Filipina Masuk Indeks Obligasi Emerging Markets JPMorgan Mulai 2027

CFO Tesla, Vaibhav Taneja, menyebut fase investasi ini akan berlangsung selama beberapa tahun ke depan. Ia juga mengingatkan bahwa perusahaan berpotensi mencatat arus kas bebas negatif sepanjang sisa tahun 2026.

Sebelumnya, Tesla memproyeksikan capex lebih dari US$20 miliar untuk 2026, meningkat tajam dibandingkan realisasi tahun lalu sebesar US$9 miliar.

Kinerja Keuangan Lebih Baik dari Ekspektasi

Di tengah peningkatan belanja modal, Tesla justru mencatat arus kas bebas positif sebesar US$1,44 miliar pada kuartal pertama, berbanding terbalik dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan pembakaran kas (cash burn).

Laba perusahaan juga melampaui target Wall Street, menunjukkan kemampuan Tesla menjaga efisiensi biaya di tengah kondisi ekonomi global yang menantang.

Pendapatan Tesla pada periode tiga bulan hingga 31 Maret mencapai US$22,39 miliar, sedikit di bawah estimasi analis sebesar US$22,6 miliar.

Fokus pada Robotaxi dan Cybercab

Investor kini semakin menaruh perhatian pada strategi Tesla dalam mengembangkan teknologi otonom dan robotika. Perusahaan tengah bersiap memproduksi massal Cybercab, kendaraan otonom tanpa setir dan pedal.

Produksi awal Cybercab diperkirakan berjalan lambat, namun Musk optimistis akan meningkat signifikan menjelang akhir tahun.

Selain itu, Tesla telah mulai mengoperasikan layanan robotaxi berbasis Model Y di Dallas dan Houston, sebagai bagian dari ekspansi layanan mobil otonom di Amerika Serikat. Perusahaan juga berencana memperluas layanan ke beberapa kota lain di negara bagian Arizona, Florida, dan Nevada.

Baca Juga: Iran Sita Kapal di Selat Hormuz, Harga Minyak Tembus US$100

Di Eropa, regulator kendaraan Belanda telah mengajukan rencana untuk mendapatkan persetujuan Uni Eropa atas sistem Full Self-Driving (FSD) Tesla.

Penjualan Kendaraan dan Tantangan Kompetisi

Meski pengiriman kendaraan Tesla pada kuartal pertama berada di bawah ekspektasi analis, angka tersebut masih tumbuh 6,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Permintaan kendaraan tercatat meningkat di kawasan Asia Pasifik dan Amerika Selatan, serta mulai pulih di Eropa, Timur Tengah, Afrika (EMEA), dan Amerika Utara.

Namun, bisnis inti otomotif Tesla menghadapi tekanan dari kompetitor yang menghadirkan model baru dengan harga lebih kompetitif. Selain itu, berakhirnya insentif pajak kendaraan listrik di AS turut menambah tantangan.

Tesla juga tengah mengembangkan SUV listrik baru yang lebih kecil dan terjangkau, dengan rencana produksi awal di China sebelum diperluas ke AS dan Eropa. Namun, proyek ini masih dalam tahap awal pengembangan.