Tesla Hentikan Produksi Model S dan X, Elon Musk Alihkan Fokus ke Robot dan AI



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tesla memberikan sinyal paling jelas bahwa perusahaan mulai menjauh dari bisnis mobil listriknya.

CEO Elon Musk mengumumkan dalam panggilan investor pada Rabu bahwa Tesla akan menghentikan produksi dua model premiumnya, yakni SUV Model X dan sedan full-size Model S.

“Sudah waktunya untuk mengakhiri program Model S dan X,” ujar Musk. “Kami memperkirakan produksi S dan X akan dihentikan secara bertahap pada kuartal berikutnya.”


Musk menjelaskan, fasilitas produksi Model S dan X di Fremont, California, akan dikonversi untuk memproduksi robot humanoid terbaru Tesla, yakni Optimus.

Tesla Beralih dari Perusahaan Mobil ke Perusahaan AI Fisik

Dalam laporan kinerja kuartalan terbarunya, Tesla mencatat penurunan penjualan kendaraan dan pendapatan, seiring Musk menempatkan masa depan perusahaan pada kecerdasan buatan (AI) dan robotika.

Baca Juga: Tesla Catat Penurunan Pendapatan Tahunan Perdana, Laba Anjlok 61% di Kuartal IV 2025

Laporan tersebut menggambarkan tahun Tesla yang penuh gejolak sebagai “transisi dari bisnis yang berpusat pada perangkat keras menjadi perusahaan AI fisik”.

Meskipun menghadapi tekanan bisnis otomotif, Tesla tetap mampu melampaui ekspektasi Wall Street. Perusahaan melaporkan laba per saham kuartal IV sebesar US$ 0,50, melampaui perkiraan analis sebesar US$ 0,45. Pendapatan Tesla tercatat US$ 24,9 miliar, sedikit di atas estimasi analis sebesar US$ 24,79 miliar.

Namun demikian, total pendapatan Tesla tercatat turun 3% secara tahunan, menjadi penurunan pertama sepanjang sejarah perusahaan. Pendapatan dari sektor otomotif bahkan merosot 11% sepanjang 2025.

Penjualan Kendaraan Anjlok, Terutama di Eropa

Pada awal bulan ini, Tesla juga melaporkan angka pengiriman kendaraan kuartal IV—yang mengukur mobil yang benar-benar diterima pembeli—turun 16% dibandingkan tahun sebelumnya.

Penurunan ini terutama dipicu oleh melemahnya minat pasar di Eropa.

Saham Tesla sempat naik hingga 4% dalam perdagangan setelah jam bursa usai laporan dirilis, sebelum akhirnya memangkas kenaikan tersebut.

Musk Andalkan Robot Optimus dan Robotaxi

Di tengah penurunan penjualan kendaraan listrik, Musk semakin menekankan proyek berbasis AI seperti robot konsumen Optimus dan kendaraan otonom Robotaxi.

Baca Juga: Kanada Longgarkan Tarif EV China, Tesla Siap Rebut Keuntungan

Meski teknologi ini masih dalam tahap pengembangan dan belum terbukti menghasilkan keuntungan, Musk optimistis proyek tersebut akan membawa pertumbuhan luar biasa bagi Tesla.

Musk bahkan menyebut Optimus sebagai “produk terbesar sepanjang masa” dan menyatakan robot serta kendaraan otonom akan menciptakan “dunia tanpa kemiskinan”.

Tesla menargetkan mulai memproduksi Optimus sebelum akhir 2026 dan mulai menjualnya ke publik pada 2027. Selain itu, Tesla juga mengungkapkan telah menyepakati investasi sebesar US$ 2 miliar ke xAI, perusahaan kecerdasan buatan milik Musk.

Belanja Modal Membengkak, Saham Kembali Menguat

Chief Financial Officer Tesla, Vaibhav Taneja, menyampaikan bahwa belanja modal (capital expenditure) perusahaan akan mencapai US$ 20 miliar—jauh lebih besar dari perkiraan banyak analis.

Baca Juga: Tesla Akhirnya Setuju untuk Lakukan Mediasi Atas Gugatan Pelecehan Rasial Karyawan

Sempat tertekan akibat dinamika politik yang melibatkan Musk tahun lalu, harga saham Tesla melonjak ke level tertinggi sepanjang masa pada Desember, didorong euforia pasar terhadap investasi AI dan janji Musk membangun “pasukan robot”.

Sebulan sebelumnya, pemegang saham Tesla juga menyetujui paket kompensasi untuk Musk yang berpotensi memberinya hingga US$ 1 triliun jika perusahaan mencapai sejumlah target keuangan.

Produk Futuristik Tak Selalu Sukses

Meski Tesla mengandalkan proyek masa depan, beberapa produk yang sebelumnya digadang-gadang justru mengalami kesulitan. Penjualan Cybertruck, yang sempat disebut Musk sebagai “kendaraan terbaik yang pernah dibuat Tesla”, tercatat anjlok 48% sepanjang tahun lalu, menurut data Kelley Blue Book.

Di sisi lain, Tesla juga menghadapi persaingan yang semakin ketat dari produsen kendaraan listrik lain, terutama BYD asal China. BYD berhasil menyalip Tesla sebagai produsen mobil listrik terbesar di dunia tahun lalu, dengan pertumbuhan penjualan mencapai 28% sepanjang 2025, berkat harga yang lebih terjangkau di berbagai pasar.

Selanjutnya: Sinopsis Drama China Born to Run, Link Nonton Subtitle Indonesia & Pemeran

Menarik Dibaca: 6 Risiko Konsumsi Minuman Elektrolit Terlalu Banyak, Bikin Tekanan Darah Tinggi!