KONTAN.CO.ID - BANGKOK. Thailand perlu membentuk otoritas khusus untuk mengawasi industri data center agar derasnya investasi di sektor tersebut tidak hanya meningkatkan kapasitas digital, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan memberikan kontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Usulan tersebut disampaikan National Economic and Social Development Council (NESDC), lembaga perencanaan pembangunan ekonomi dan sosial Thailand, pada Senin (24/8/2026). NESDC merekomendasikan pemerintah Thailand membentuk satu badan pusat yang bertugas mengawasi pembangunan data center, termasuk dampaknya terhadap lingkungan.
Menurut NESDC, pemerintah juga perlu memperbarui undang-undang dan regulasi agar sesuai dengan karakteristik khusus industri data center.
Baca Juga: Topan Narra Sebabkan Kekacauan di China dan Vietnam, Picu Hujan dan Banjir Salah satu poin utama yang disoroti adalah keterlibatan perusahaan dan tenaga kerja lokal. Investasi data center dinilai harus memberikan ruang lebih besar bagi pelaku usaha Thailand melalui kewajiban penggunaan produk, jasa, dan tenaga kerja lokal. Pemerintah juga didorong membuka proses perencanaan proyek data center untuk partisipasi publik. Mekanisme pemantauan dampak proyek serta pemberian kompensasi atau solusi bagi pihak yang terdampak juga perlu disiapkan.
Dorong Penggunaan Energi Terbarukan
Selain dampak ekonomi, NESDC menyoroti konsumsi energi dan sumber daya yang besar dari operasional data center. Sekretaris Jenderal NESDC Danucha Pichayanan mengatakan Thailand perlu mendorong penggunaan energi dan sumber daya secara lebih efisien. Operator data center didorong meningkatkan porsi penggunaan energi terbarukan, menerapkan teknologi yang dapat mengurangi konsumsi listrik dan air, serta menetapkan target yang jelas terkait penggunaan energi dan air. "Gelombang investasi data center telah terjadi di Thailand dalam beberapa tahun terakhir," kata NESDC. Investasi di sektor tersebut meningkat seiring pertumbuhan kebutuhan komputasi awan (cloud computing) dan kecerdasan buatan (AI) di kawasan Asia Tenggara. Pada 2025, Thailand's Board of Investment (BOI) menyetujui proyek-proyek data center dengan nilai investasi lebih dari US$3 miliar.
Baca Juga: Thailand Usulkan Pajak Perdagangan Emas, Buka Diskusi dengan Asosiasi Investasi tersebut antara lain berasal dari DAMAC Digital asal Dubai dan Stratus Technology, perusahaan afiliasi ZDATA Technologies asal China.
Google Juga Investasi Besar
Perusahaan teknologi global juga mulai menjadikan Thailand sebagai lokasi penting untuk pengembangan infrastruktur digital.
Pada 2024, Google, anak usaha Alphabet, mengumumkan investasi US$1 miliar untuk membangun data center dan wilayah cloud di Thailand. Investasi tersebut ditujukan untuk memenuhi pertumbuhan permintaan layanan cloud sekaligus mendukung adopsi kecerdasan buatan di Asia Tenggara. Google juga mengumumkan investasi US$2 miliar pada 2024 untuk mengembangkan data center pertamanya sekaligus wilayah Google Cloud di Malaysia. Dengan semakin derasnya investasi data center, Thailand kini menghadapi tantangan untuk memastikan pembangunan infrastruktur digital tersebut memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas, sekaligus tidak menimbulkan tekanan berlebihan terhadap kebutuhan listrik, air, dan lingkungan.