The Fed akan naikkan suku bunga pertengahan 2015



WASHINGTON. The Federal Reserve kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga acuan sekitar pertengahan tahun depan. Meski demikian, waktu yang tepat untuk mengerek suku bunga masih tergantung kepada kondisi ekonomi Amerika Serikat (AS).

Seperti diketahui, Bank Sentral Amerika Serikat (AS) mempertahankan suku bunga mendekati nol persen sejak tahun 2008. Pemerintah AS juga mengambil kebijakan pembelian obligasi supaya biaya pinjaman turun. Dengan tingkat pengangguran AS pada level 5,9%, para pejabat berencana mengakhiri pembelian obligasi bulan ini.

"Apa yang kami pikirkan sekarang adalah pasar modal kurang lebih benar, tetapi kami tidak tahu kapan kami akan melakukannya," ujar Stanley Fischer, Wakil Ketua The Federal Reserve seperti dikutip dari Reuters. Risalah pertemuan kebijakan The Fed bulan September 2014 menunjukkan beberapa pejabat The Fed khawatir bahwa pertumbuhan global dan penguatan dolar bisa menghambat pemulihan ekonomi AS.


Berbicara di Las Vegas, Presiden The Fed San Fransisco, John Williams menolak menyebutkan waktu yang pas bagi The Fed menaikkan suku bunga. Kendati demikian, ia menyatakan, kenaikan suku bunga di pertengahan tahun 2015 merupakan perkiraan yang masuk akal.

"Jika perekonomian ataupun inflansi sedang panas dan bergerak lebih cepat dari perkiraan, kami harus mengangkat suku bunga lebih cepat," imbuh Williams. Kepala The Fed New York, William Dudley juga menunjuk pertengahan 2015 sebagai kemungkinan waktu untuk mengerek suku bunga.

Namun, James Bullard, Presiden The Fed St. Louis menyampaikan peringatan kepada investor bahwa pasar keuangan sedang membuat kesalahan. Ia bertaruh bahwa biaya pinjaman meningkat pada tahun 2015. Bullard ingin supaya The Fed mulai menaikkan suku bunga di kuartal pertama tahun depan.

"Jika ada ketidakcocokan, hal itu tidak akan berakhir dengan baik," jelas Bullard. Saat ini, para pelaku pasar sedang berspekulasi kapan bunga akan naik. Menurut investor, The Fed akan menunggu waktu yang tepat untuk menaikkan suku bunga dan itu akan membuat dollar AS menguat serta mengatrol harga saham.