KONTAN.CO.ID - Sejumlah pejabat bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) mengusulkan perpanjangan fasilitas swap dolar AS dengan sejumlah bank sentral utama dunia guna menjaga stabilitas sistem keuangan global di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan tekanan ekonomi global. Melansir
Reuters Kamis (21/5/2026), usulan tersebut terungkap dalam risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28-29 April 2026.
Baca Juga: OPEC+ Bersiap Tambah Produksi 188.000 Barel per Hari pada Juli 2026 Pembahasan berfokus pada perpanjangan fasilitas swap line dolar AS yang dimiliki The Fed dengan lima bank sentral utama dunia. Fasilitas ini selama ini menjadi salah satu penopang utama likuiditas global sejak krisis keuangan 2008. Jadi Penyangga Likuiditas Global Swap line dolar merupakan fasilitas yang memungkinkan bank sentral negara lain memperoleh akses dolar AS langsung dari The Fed untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan sistem perbankan domestik ketika terjadi gejolak global. Fasilitas tersebut dimiliki oleh beberapa bank sentral utama seperti European Central Bank (ECB), Bank of Japan (BoJ), Bank of England (BoE), Bank of Canada (BoC), dan Swiss National Bank (SNB).
Baca Juga: Google, Meta, dan TikTok Digugat Uni Eropa terkait Iklan Penipuan Finansial Saat ini, fasilitas swap line tersebut diperpanjang setiap tahun. Namun, beberapa pejabat The Fed mengusulkan agar jangka waktunya dibuat lebih panjang demi memperkuat kepastian pasar. "Beberapa peserta rapat menyampaikan kemungkinan komite mempertimbangkan perpanjangan masa berlaku swap line lebih dari satu tahun karena hal itu akan bermanfaat bagi stabilitas keuangan," tulis risalah rapat The Fed. Ketegangan Timur Tengah Picu Kekhawatiran Diskusi tersebut berlangsung ketika dunia menghadapi ketidakstabilan global yang meningkat akibat perang antara AS, Israel, dan Iran yang memicu lonjakan harga energi dunia.
Baca Juga: Harga Minyak Naik Pasca Laporan yang Isyaratkan Komplikasi Pembicaraan Damai AS-Iran Konflik tersebut juga menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas sistem keuangan global karena dolar AS tetap menjadi mata uang utama perdagangan dan pembiayaan internasional. Di sisi lain, muncul kekhawatiran di kalangan sekutu AS mengenai sejauh mana Washington masih dapat diandalkan dalam mendukung stabilitas global, baik dari sisi keamanan maupun keuangan internasional. Pernyataan Kevin Warsh Jadi Sorotan Kekhawatiran tersebut juga dipicu oleh pernyataan calon Ketua The Fed berikutnya, Kevin Warsh, yang dinilai memberi sinyal bahwa independensi The Fed dalam penanganan krisis internasional mungkin tidak sepenuhnya terlepas dari pengaruh pemerintah AS. Dalam jawaban tertulis kepada Senator Partai Demokrat Elizabeth Warren, Warsh mengatakan independensi The Fed paling kuat berlaku dalam pelaksanaan kebijakan moneter domestik.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih 1% usai Iran Tolak Kirim Uranium ke Luar Negeri Namun untuk isu yang berkaitan dengan keuangan internasional, The Fed disebut akan bekerja sama dengan pemerintah AS dan Kongres. "Pejabat The Fed tidak selalu mendapat keleluasaan penuh dalam isu yang mempengaruhi keuangan internasional. Dalam hal tersebut, The Fed akan bekerja bersama pemerintah dan Kongres," tulis Warsh. Pernyataan itu memicu kegelisahan di kalangan bank sentral Eropa yang khawatir dukungan likuiditas dolar AS di masa depan dapat dipengaruhi pertimbangan politik Washington.