The Fed Beri Sinyal Kenaikan Suku Bunga Bertahap untuk Tekan Inflasi AS



KONTAN.CO.ID - Presiden Federal Reserve (The Fed) Cleveland Beth Hammack menilai, bank sentral Amerika Serikat (AS) masih perlu menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi menuju target 2%.

Ia menginginkan pengetatan kebijakan moneter dilakukan secara bertahap melalui kenaikan suku bunga dalam skala lebih kecil tetapi dengan frekuensi lebih sering.

Dalam pidato yang disiapkan untuk sebuah acara di Zurich, Kamis (5/11/2026), Hammack mengatakan tekanan inflasi AS masih terlalu tinggi sehingga kebijakan moneter perlu bergerak menuju level restriktif.


Baca Juga: Pilpres AS 2028 Mulai Memanas, Demokrat Hadapi Persaingan Internal

"Saya memperkirakan kebijakan moneter perlu bergerak ke posisi restriktif untuk mengembalikan inflasi ke level 2% dalam waktu yang tepat," ujar Hammack dilansir Reuters.

Meski tidak menyebutkan kapan The Fed sebaiknya kembali menaikkan suku bunga, Hammack lebih memilih penyesuaian secara bertahap dibandingkan kenaikan besar dalam satu waktu.

Menurutnya, kenaikan suku bunga yang lebih kecil tetapi dilakukan lebih sering berpotensi mengurangi dampak negatif terhadap rumah tangga, dunia usaha, dan pasar keuangan.

Pendekatan tersebut juga dinilai dapat mengurangi risiko kebijakan moneter tertinggal dari kebutuhan pengendalian inflasi sehingga ekspektasi inflasi yang tinggi tidak semakin mengakar.

"Saya lebih memilih mencapai posisi tersebut melalui penyesuaian yang lebih kecil tetapi lebih sering jika memungkinkan. Langkah ini akan mengurangi gangguan terhadap rumah tangga, dunia usaha, dan pasar keuangan," katanya.

Baca Juga: Posisi Netanyahu Tertekan, Rivalnya Kantongi Dukungan Mayoritas di Parlemen Israel

Pernyataan Hammack muncul setelah The Fed pada pekan lalu mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75%-4,00%, meskipun para pembuat kebijakan mengakui inflasi masih terlalu tinggi.

The Fed sebelumnya telah menaikkan suku bunga pada September. Sementara itu, pelaku pasar keuangan secara umum memperkirakan bank sentral AS kembali menaikkan suku bunga pada Desember.

Hammack bersama Gubernur The Fed Lisa Cook menjadi dua pejabat yang menyampaikan perbedaan pendapat atau dissenting vote dengan mendukung kenaikan suku bunga dalam rapat pekan lalu.

Hammack juga pernah menyampaikan dissenting vote pada akhir Juli ketika The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga.

Ia menilai kebijakan moneter dan kondisi keuangan secara keseluruhan belum memberikan tekanan yang cukup terhadap perekonomian untuk mengendalikan inflasi. Karena itu, menurutnya, The Fed perlu mendorong kenaikan biaya pinjaman jangka pendek.

Baca Juga: Harga Nikel Dunia Melonjak 3%, Penertiban Tambang di Indonesia Jadi Pemicunya

Hammack Tekankan Independensi The Fed

Selain kebijakan suku bunga, Hammack turut menyoroti pentingnya independensi bank sentral dalam menjaga stabilitas inflasi.

Ia menilai independensi The Fed merupakan faktor penting untuk mencapai stabilitas harga. Hammack juga menegaskan bahwa kredibilitas bank sentral AS dibangun melalui keputusan yang didasarkan pada bukti dan data ekonomi, bukan tekanan politik.

"The Fed telah memperoleh kredibilitas sebagai institusi yang beroperasi berdasarkan bukti dan data ekonomi, bukan tekanan politik," ujarnya.

Baca Juga: Cristiano Ronaldo Pensiun dari Timnas Portugal, Ini Rekor dan Perjalanan Kariernya

Dolar AS Masih Dominasi Cadangan Devisa Global

Dalam pidatonya, Hammack juga membahas posisi dolar AS sebagai mata uang cadangan utama dunia.

Menurutnya, dolar AS masih menjadi mata uang cadangan global dengan keunggulan yang cukup besar dibandingkan mata uang lainnya. Posisi tersebut ditopang oleh kekuatan institusi dan sistem hukum AS.

Ia menilai status internasional dolar bergantung pada kemampuan AS mempertahankan fundamental yang selama ini menopang kepercayaan terhadap mata uang tersebut, termasuk independensi bank sentral.

Hammack mengakui porsi dolar AS dalam cadangan devisa global mungkin telah mencapai puncaknya. Namun, ia menilai belum ada alasan untuk memperkirakan perubahan besar terhadap peran internasional dolar dalam waktu dekat.

"Dimungkinkan bahwa pangsa dolar dalam cadangan devisa global telah mencapai puncaknya, tetapi sulit membayangkan perubahan besar dalam waktu dekat terhadap peran internasionalnya," kata Hammack.

Baca Juga: Bank of England (BoE) Kerek Suku Bunga Jadi 4%, Pertama Kali Sejak 2023

Ia juga meragukan aset kripto dapat menggantikan dominasi dolar AS sebagai mata uang cadangan global.

Menurut Hammack, volatilitas harga aset kripto membuat instrumen tersebut belum dapat menjadi penyimpan nilai yang lebih pasti dibandingkan dolar AS.

"Volatilitas harga mata uang kripto membuatnya menjadi penyimpan nilai yang kurang pasti dibandingkan dolar. Sampai persoalan ini terselesaikan, saya tetap skeptis bahwa aset kripto dapat mengancam status dolar," ujarnya.