The Fed Beri Sinyal Naikkan Bunga Lagi, Ini Proyeksi Broker Wall Street



KONTAN.CO.ID - Sejumlah broker besar memperkirakan Federal Reserve atau The Fed masih akan menaikkan suku bunga setidaknya sekali lagi pada 2026, setelah bank sentral Amerika Serikat tersebut memberikan sinyal pengetatan kebijakan lebih lanjut.

The Fed pada Rabu (16/9/2026) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4%.

Kenaikan ini menjadi yang pertama dalam tiga tahun dan merupakan keputusan kebijakan pertama di bawah Ketua The Fed Kevin Warsh.


Baca Juga: Bank of America Rekrut Bankir Goldman Sachs Perkuat Bisnis Asia

Proyeksi terbaru The Fed menunjukkan 16 dari 18 pembuat kebijakan memperkirakan masih ada sedikitnya satu kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir 2026. Hanya dua pejabat yang memperkirakan suku bunga bertahan pada level saat ini.

Sinyal tersebut mendorong sejumlah broker besar memperbarui proyeksi mereka.

Mayoritas memperkirakan kenaikan berikutnya terjadi pada Desember, sementara Goldman Sachs dan BofA Global Research memperkirakan kenaikan dapat terjadi lebih awal.

Goldman Sachs dan BofA lebih hawkish

Goldman Sachs kini memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga lagi sebesar 25 basis poin pada Oktober. Dengan demikian, suku bunga acuan diproyeksikan berada di kisaran 4%-4,25% pada akhir 2026.

Baca Juga: Trump Harap Perang Iran Segera Berakhir, Konflik Houthi-Arab Saudi Memanas

BofA Global Research memiliki proyeksi pengetatan yang lebih besar. BofA memperkirakan total kenaikan 50 basis poin hingga akhir tahun, yang terdiri dari kenaikan pada Oktober dan Desember.

Dengan skenario tersebut, suku bunga The Fed diperkirakan mencapai 4,25%-4,50%.

Sementara itu, J.P. Morgan, Nomura, HSBC, Barclays, Deutsche Bank, UBS Global Wealth Management, UBS Global Research, Morgan Stanley, Macquarie dan BNP Paribas masing-masing memperkirakan satu kali kenaikan tambahan sebesar 25 basis poin, umumnya pada Desember.

Dengan skenario tersebut, suku bunga acuan The Fed diproyeksikan berada pada kisaran 4%-4,25% pada akhir 2026.

Citigroup menjadi salah satu yang berbeda dari mayoritas broker besar dengan memperkirakan tidak ada perubahan kebijakan tambahan.

Proyeksi Citi menempatkan suku bunga The Fed tetap di kisaran 3,75%-4% pada akhir 2026.

Baca Juga: Stok Minyak Singapura Capai 42,64 Juta Barel, Indonesia Serap Ekspor Bensin Terbesar

Pasar melihat peluang kenaikan berikutnya

Ekspektasi kenaikan tambahan juga tercermin di pasar suku bunga. Data CME Group FedWatch menunjukkan, kontrak berjangka suku bunga saat ini mencerminkan sekitar 90% probabilitas kenaikan 25 basis poin hingga akhir tahun.

Kenaikan terbaru The Fed dilakukan ketika tekanan inflasi masih menjadi perhatian. Bank sentral AS juga menaikkan proyeksi inflasi dan memperkirakan suku bunga kebijakan berada di kisaran 4%-4,25% pada akhir 2026.

Perubahan ekspektasi kebijakan tersebut turut memengaruhi pasar keuangan. Imbal hasil Treasury AS meningkat dan dolar menguat setelah keputusan The Fed, mencerminkan penyesuaian pasar terhadap prospek suku bunga yang lebih tinggi.

Bagi pasar global, arah kebijakan The Fed menjadi perhatian karena suku bunga AS yang lebih tinggi dapat memengaruhi arus modal, imbal hasil obligasi dan nilai tukar negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Baca Juga: Bank Sentral Taiwan Tahan Suku Bunga, Proyeksi Ekonomi 2026 Naik Jadi 11,48%