The Fed cemaskan inflasi dan suku bunga



WASHINGTON. Dalam hasil rekapan pertemuan yang digelar pada akhir oktober lalu, pejabat the Federal Reserve mencemaskan tingkat inflasi akan tetap rendah untuk beberapa waktu ke depan, meski bank sentral sudah menggelontorkan multi triliun dollar untuk menggairahkan ekonomi.

Rekapan yang dirilis pada Rabu sore waktu setempat juga menuliskan, para anggota Open Market Committee mendiskusikan mengenai kemungkinan the Fed menaikkan suku bunga acuan seiring normalisasi kebijakan moneter. The Fed mengkhawatirkan volatilitas pasar selama proses tersebut dilaksanakan.

"Anggota the Fed mengantisipasi bahwa inflasi masih akan tertekan dalam jangka pendek dengan penurunan harga energi dan faktor lain, namun akan bergerak menuju target yang dipatok Committe sebesar 2% dalam beberapa tahun ke depan, meski demikian ada juga sedikit kecemasan bahwa inflasi akan berada di bawah target Committe untuk beberapa waktu ke depan," demikian tertulis dalam rekapan meeting tersebut.


The Fed pada pertemuan Oktober juga melakukan voting untuk mengakhiri program pembelian obligasi bulanan yang dikenal dengan quantitative easing. Hanya ada satu orang anggota yakni pimpinan the Fed Minneapolis Narayana Kocherlakota, yang menginginkan QE dilanjutkan ingga tingkat inflasi naik.

"Mr Kocherlakota tak menyetujui karena dia percaya bahwa rendahnya outlook tingkat inflasi dan penurunan tipis di pasar saham, Committe harus berkomitmen untuk mempertahankan range target suku bunga acuan dalam satu atau dua tahun ke depan hingga tingkat inflasi bisa kembali ke level 2%," jelas the Fed.

Dalam diskusi lainnya, mayoritas anggota the Fed mengindikasikan bahwa mereka melihat perekonomian tumbuh moderat, sementara pasar tenaga kerja cukup membaik. Sedangkan untuk pasar perumahan, the Fed menilai tumbuh melambat.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie