The Fed Diperkirakan Tahan Suku Bunga, Inflasi dan Perang Iran Jadi Sorotan Utama



KONTAN.CO.ID – WASHINGTON. Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan kebijakan yang berakhir Rabu (17/6/2026). Pertemuan ini menjadi yang pertama dipimpin oleh Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh.

Selain keputusan suku bunga, pelaku pasar juga menantikan pernyataan kebijakan terbaru serta proyeksi ekonomi yang diperkirakan mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap tekanan inflasi akibat perang Iran, meskipun harga minyak dunia mulai melemah seiring munculnya harapan tercapainya kesepakatan damai.

Sejumlah data ekonomi terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja Amerika Serikat masih kuat. Tingkat pengangguran berada di level relatif rendah sebesar 4,3%, sementara inflasi masih bertahan jauh di atas target The Fed sebesar 2%.


Kondisi tersebut membuat banyak analis memperkirakan The Fed akan menghapus frasa mengenai "penyesuaian tambahan" terhadap suku bunga acuannya dari pernyataan resmi kebijakan. Sebelumnya, frasa tersebut digunakan sebagai sinyal kemungkinan penurunan biaya pinjaman di masa mendatang.

Baca Juga: Bursa Eropa Bergerak Datar, Investor Menanti Kesepakatan Damai AS-Iran dan The Fed

Kevin Warsh diketahui kurang menyukai penggunaan panduan kebijakan (forward guidance) dalam komunikasi moneter. Sejumlah pejabat The Fed juga menilai sudah saatnya menghilangkan kecenderungan kebijakan yang mengarah pada pelonggaran (easing bias) dan menggantinya dengan bahasa yang lebih netral sehingga membuka kemungkinan kenaikan suku bunga apabila diperlukan.

Saat ini, investor memperkirakan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) berpotensi menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember mendatang.

Kepala Ekonom AS JP Morgan, Michael Feroli, memperkirakan perubahan bahasa dalam pernyataan kebijakan akan cukup signifikan.

"Kami memperkirakan adanya kecenderungan yang lebih netral. Ada kemungkinan komite di bawah kepemimpinan Warsh benar-benar memangkas panduan mengenai arah suku bunga dalam pernyataan tersebut, baik pada pertemuan kali ini maupun di masa mendatang," tulis Feroli.

Menurutnya, perubahan itu juga berpotensi menyatukan pandangan seluruh anggota FOMC, termasuk tiga pejabat yang sebelumnya menyampaikan perbedaan pendapat dan menginginkan bahasa kebijakan yang lebih agresif pada pertemuan April lalu.

Keputusan suku bunga, pernyataan kebijakan, dan proyeksi ekonomi terbaru akan diumumkan pukul 14.00 waktu setempat, sementara Kevin Warsh dijadwalkan menggelar konferensi pers sekitar 30 menit setelahnya.

Warsh menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed bulan lalu, namun Powell masih tetap menjadi anggota Dewan Gubernur dan memiliki hak suara dalam FOMC.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Anjlok di Bawah US$80, Pasar Sambut Kembalinya Minyak Iran

Hubungan dengan Gedung Putih Jadi Sorotan

Kevin Warsh mengambil alih kepemimpinan The Fed di tengah hubungan yang sebelumnya memanas antara Jerome Powell dan Gedung Putih.

Ketegangan tersebut dipicu oleh penolakan Powell untuk memangkas suku bunga secara agresif sebagaimana diinginkan Presiden Donald Trump. Perselisihan itu bahkan ditandai dengan upaya pemerintahan Trump untuk memberhentikan Gubernur The Fed Lisa Cook serta peluncuran penyelidikan pidana terhadap Powell yang kemudian dibatalkan.

Mahkamah Agung Amerika Serikat dijadwalkan memutuskan perkara terkait status Lisa Cook pada bulan ini. Meskipun putusannya diperkirakan berpihak kepada Cook, hasil tersebut dinilai dapat membawa implikasi penting terhadap tata kelola The Fed di masa depan.

Proyeksi Ekonomi Berpotensi Berubah

Di bawah kepemimpinan Warsh, peluang penurunan suku bunga diperkirakan semakin menyempit.

Proyeksi ekonomi triwulanan yang akan dirilis pekan ini diperkirakan menunjukkan bahwa mayoritas pejabat The Fed tidak lagi melihat adanya penurunan suku bunga sepanjang tahun ini. Sebaliknya, suku bunga diproyeksikan tetap berada pada kisaran 3,50% hingga 3,75% karena ekspektasi inflasi yang lebih tinggi dan kemungkinan tingkat pengangguran yang lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Bahkan, sebagian pejabat diperkirakan mulai memasukkan skenario kenaikan suku bunga ke dalam proyeksinya.

Konferensi pers perdana Warsh sebagai Ketua The Fed juga diperkirakan akan didominasi pertanyaan mengenai arah reformasi lembaga tersebut. Sebelum ditunjuk memimpin bank sentral AS, Warsh dikenal sering mengkritik pendekatan kebijakan dan strategi komunikasi yang diterapkan era Jerome Powell, termasuk mendorong pengurangan kepemilikan aset keuangan The Fed.

Konflik Iran dan Harga Minyak Jadi Faktor Penting

Perkembangan terbaru di Timur Tengah turut menjadi perhatian utama The Fed.

Berakhirnya perang yang didukung Amerika Serikat terhadap Iran serta kembali dibukanya Selat Hormuz telah mendorong harga minyak dunia turun mendekati level sebelum konflik pecah pada akhir Februari lalu.

Baca Juga: G7 Desak Gencatan Senjata di Lebanon, Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran

Meski demikian, pejabat The Fed masih harus menilai sejauh mana lonjakan harga energi sebelumnya akan memengaruhi inflasi serta bagaimana proses normalisasi distribusi komoditas global melalui jalur strategis tersebut.

Kepala Ekonom AS Goldman Sachs, David Mericle, menilai dampak inflasi dari kenaikan harga minyak sejauh ini masih bersifat normal.

"Sejauh ini dampaknya terhadap inflasi lebih menyerupai efek rambatan yang biasa terjadi akibat guncangan besar harga minyak dan tidak akan memaksa Warsh untuk menaikkan suku bunga," tulis Mericle dalam analisanya.

Namun demikian, ia memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga kemungkinan baru terbuka paling cepat pada pertengahan tahun depan, jika memang terjadi.

Inflasi utama diperkirakan akan naik di atas 4% dalam beberapa bulan ke depan dan tetap bertahan di atas 3% sepanjang 2026.

"Jeda yang panjang akan meningkatkan kemungkinan FOMC memutuskan bahwa suku bunga dana federal saat ini sudah berada pada tingkat yang tepat apabila perekonomian terus menunjukkan kinerja yang baik. Kami memandang skenario suku bunga yang tetap datar sebagai alternatif yang masuk akal," ujar Mericle.