The Fed Diperkirakan Tahan Suku Bunga, Namun Peluang Kenaikan Masih Terbuka



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan 27–28 Oktober 2026. Namun, meningkatnya tekanan inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang solid membuat pelaku pasar menilai jeda kenaikan suku bunga tersebut kemungkinan tidak akan berlangsung lama.

Mengutip Reuters, Senin (26/10/2026), para pejabat The Fed telah memberikan sinyal bahwa mereka tidak akan kembali menaikkan biaya pinjaman jangka pendek pada pertemuan pekan ini. Suku bunga diperkirakan tetap berada di kisaran 3,75%–4,00%.

Meski demikian, data ekonomi yang akan dirilis sehari setelah keputusan The Fed diperkirakan memperkuat alasan untuk kembali menaikkan suku bunga. Inflasi AS meningkat pada bulan lalu dan tekanan harga meluas, tidak hanya berasal dari kenaikan harga bahan bakar.


Selain itu, pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan meningkat pada kuartal terakhir. Penguatan tersebut didorong oleh konsumsi rumah tangga yang solid serta lonjakan investasi bisnis seiring meningkatnya permintaan terhadap teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Baca Juga: Houthi Serang Jalur Pipa Minyak Arab Saudi dan Bandara Riyadh, Konflik Meluas

Di sisi lain, pasar tenaga kerja AS masih menunjukkan stabilitas. Tingkat pengangguran tercatat sebesar 4,2% pada bulan lalu, sedangkan klaim tunjangan pengangguran mingguan berada pada level terendah sepanjang masa hidup Ketua The Fed Kevin Warsh.

Kepala Ekonom Nationwide, Kathy Bostjancic, menilai data ekonomi sebenarnya telah mendukung kenaikan suku bunga.

"Menurut saya, data yang ada memang mendukung kenaikan suku bunga," ujar Bostjancic.

Ia menambahkan, data sejak pertemuan terakhir The Fed menunjukkan kondisi ekonomi dan konsumsi yang kuat, pasar tenaga kerja yang solid, serta inflasi yang memburuk.

"Ekonomi kuat, konsumen kuat, pasar tenaga kerja kuat, dan inflasi memburuk, arahnya justru bergerak ke arah yang salah," katanya.

Imbal Hasil Obligasi AS Jadi Pertimbangan The Fed

Menurut Bostjancic, kenaikan tajam imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury dalam beberapa pekan setelah kenaikan suku bunga pada September membuat para pejabat The Fed lebih berhati-hati.

Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun sempat mendekati level tertinggi dalam hampir 25 tahun. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memperketat kondisi keuangan dan memperlambat perekonomian lebih besar daripada yang diinginkan bank sentral.

Kenaikan imbal hasil itu mendorong sejumlah pejabat The Fed, termasuk Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams dan Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson, memberi sinyal bahwa bank sentral dapat menunggu data ekonomi tambahan sebelum menentukan langkah berikutnya.

Sinyal tersebut kemudian mengubah ekspektasi pasar keuangan. Berdasarkan perdagangan kontrak berjangka suku bunga hingga Jumat, pasar memperkirakan peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober mencapai 90%.

Ketua The Fed Dihadapkan pada Tekanan Politik

Keputusan suku bunga kali ini juga berlangsung menjelang pemilihan umum pada 3 November 2026, yang akan menentukan apakah Partai Republik pimpinan Presiden Donald Trump mampu mempertahankan kendali atas kedua kamar Kongres AS.

Kondisi tersebut menghadirkan tantangan tersendiri bagi Warsh. Ia perlu memastikan bahwa keputusan bank sentral tidak menimbulkan kesan dipengaruhi kepentingan politik.

Kepala Ekonom EY-Parthenon, Gregory Daco, mengatakan Warsh harus menjelaskan alasan di balik keputusan mempertahankan suku bunga tanpa mengurangi kredibilitas The Fed dalam mengendalikan inflasi.

Baca Juga: Arab Saudi, Pakistan, dan Turki Temui Iran, Upaya Redam Konflik Timur Tengah

"Ketua Warsh harus menghilangkan kesan bahwa keputusan tersebut didasarkan pada pertimbangan politik dalam bentuk apa pun," kata Daco.

Menurut dia, keputusan The Fed berpotensi dianggap menguntungkan salah satu kubu politik oleh pihak lainnya. Isu keterjangkauan biaya hidup juga menjadi perhatian utama pemilih AS di tengah ketidakpuasan terhadap penanganan ekonomi oleh pemerintahan Trump.

Inflasi yang masih berlangsung dan kenaikan suku bunga turut berkontribusi terhadap meningkatnya biaya hidup masyarakat.

Daco menilai Warsh juga perlu mempertahankan ekspektasi bahwa kenaikan suku bunga berikutnya masih mungkin dilakukan.

"Jika Ketua Warsh tidak memberikan petunjuk apa pun atau pada dasarnya mengatakan bahwa The Fed sedang menunggu bukti lebih lanjut mengenai penurunan inflasi, hal itu akan menjadi sinyal bahwa The Fed tidak kredibel. Kondisi tersebut kemungkinan memicu lonjakan imbal hasil obligasi yang dampaknya terhadap perekonomian justru lebih besar daripada kenaikan suku bunga itu sendiri," ujarnya.

"Ia harus menjelaskan mengapa suku bunga ditahan pada Oktober, tetapi menyampaikannya dengan cara yang tidak merusak kredibilitas The Fed dalam memerangi inflasi," tambah Daco.

Namun, Warsh dikenal kurang menyukai pemberian panduan kebijakan moneter ke depan atau forward guidance. Karena itu, pelaku pasar memperkirakan pernyataannya akan tetap terbatas.

Investor akan mencermati pernyataan resmi The Fed setelah rapat maupun konferensi pers Warsh. Perhatian terutama tertuju pada penilaiannya terhadap kondisi keuangan dan risiko inflasi yang telah berada di atas target bank sentral selama lebih dari lima tahun.

Peluang Kenaikan Suku Bunga Masih Terbuka

Pergerakan imbal hasil obligasi AS yang mereda pada akhir pekan lalu turut mempersulit pengambilan keputusan The Fed. Penurunan tersebut terjadi di tengah aksi jual saham yang dipicu kekhawatiran terhadap keberlanjutan permintaan teknologi AI.

Warsh sebelumnya beberapa kali menyoroti pengetatan kondisi keuangan sebagai faktor yang dapat mengurangi kebutuhan untuk kembali menaikkan suku bunga acuan.

Selain itu, terdapat sejumlah indikator yang dapat mendukung keputusan untuk menahan suku bunga. Salah satunya adalah pertumbuhan upah per jam yang selama enam bulan terakhir berada di bawah inflasi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja tidak memberikan tambahan tekanan inflasi yang signifikan.

Notulen rapat The Fed pada September juga menunjukkan bahwa sejumlah pejabat memandang kenaikan suku bunga saat itu sebagai langkah antisipasi terhadap risiko inflasi yang meningkat. Risiko tersebut berpotensi mereda, terutama apabila konflik di Timur Tengah dapat diselesaikan.

Meski demikian, Kepala Ekonom AS BMO, Scott Anderson, menilai keputusan The Fed pada Oktober masih cukup berimbang.

Baca Juga: Harga Emas Naik Seiring Pelemahan Harga Minyak, Pasar Cermati Keputusan The Fed

"Saya menilai keputusan pada pertemuan Oktober akan jauh lebih ketat daripada yang diperkirakan pasar," kata Anderson.

Ia memperkirakan setidaknya satu pejabat akan menyatakan perbedaan pendapat terhadap keputusan mayoritas yang menahan suku bunga. Salah satu yang berpotensi mengambil sikap tersebut adalah Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack, yang dikenal memiliki pandangan lebih hawkish atau cenderung mendukung kebijakan moneter ketat.

Anderson sendiri memperkirakan The Fed masih akan menaikkan suku bunga sebanyak dua kali lagi untuk menekan inflasi.

The Fed menargetkan inflasi sebesar 2% berdasarkan perubahan tahunan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau personal consumption expenditures (PCE).

Data inflasi PCE September dijadwalkan terbit pada Kamis. Para ekonom memperkirakan inflasi meningkat menjadi 3,6% secara tahunan, dari 3,4% pada Agustus.

Kenaikan tersebut diperkirakan dipengaruhi oleh harga bensin yang meningkat akibat konflik di Timur Tengah. Namun, tekanan harga juga meluas ke sejumlah komponen lain, termasuk tiket pesawat, biaya sewa tempat tinggal, dan komputer.

Anderson menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan The Fed dalam mengendalikan inflasi belum selesai.

"Saya menilai ada alasan yang cukup kuat bahwa mereka masih memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan," ujarnya.