KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Federal Reserve (The Fed) diperkirakan akan menahan suku bunga acuan Amerika Serikat setidaknya hingga September 2026. Proyeksi ini didasarkan pada hasil jajak pendapat Reuters terhadap para ekonom, di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat konflik di Timur Tengah. Survei yang dilakukan pada 20–25 Maret menunjukkan mayoritas ekonom masih mempertahankan ekspektasi adanya setidaknya satu kali penurunan suku bunga tahun ini. Namun, tekanan inflasi yang dipicu lonjakan harga energi membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter semakin terbatas.
Lonjakan Harga Minyak Ubah Ekspektasi Pasar
Pasar keuangan kini tidak lagi memperkirakan adanya penurunan suku bunga pada 2026, bahkan mulai memasukkan peluang hampir 30% untuk kenaikan suku bunga. Hal ini dipicu oleh konflik antara AS-Israel dan Iran yang telah memasuki pekan keempat dan mendorong harga minyak mentah melonjak lebih dari 40%.
Meski demikian, para ekonom menilai dampak guncangan energi terhadap inflasi kemungkinan bersifat terbatas dan tidak berlangsung lama. Sebelum konflik, inflasi AS sudah berada sekitar satu poin persentase di atas target The Fed sebesar 2%.
Baca Juga: Lobi Anwar Ibrahim berhasil, Iran Izinkan Kapal-Kapal Malaysia Melintas Selat Hormuz Sinyal The Fed: Inflasi Masih Jadi Prioritas
Pekan lalu, The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75%. Sejumlah pejabat bank sentral juga menegaskan bahwa risiko inflasi yang masih tinggi tetap menjadi perhatian utama, sehingga peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat dinilai kecil. Sebanyak 61 dari 82 ekonom dalam survei memperkirakan suku bunga tidak berubah pada kuartal berikutnya. Angka ini meningkat dibandingkan dua pekan sebelumnya, ketika sekitar dua pertiga responden masih memperkirakan penurunan suku bunga pada akhir Juni. Lebih dari dua pertiga responden bahkan memperkirakan tidak ada pemangkasan suku bunga hingga setidaknya September. Jonathan Millar, ekonom senior AS di Barclays, mengatakan bahwa The Fed membutuhkan waktu lebih lama untuk memastikan inflasi kembali ke jalur target. “Ini akan memakan waktu lebih lama bagi The Fed untuk yakin inflasi kembali ke target 2%. Kami tidak melihat itu terjadi sebelum September,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa penundaan penurunan suku bunga hingga tahun depan sangat mungkin terjadi.
Tekanan Politik dan Perbedaan Pandangan
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump terus mengkritik Ketua The Fed Jerome Powell karena dinilai lambat dalam menurunkan suku bunga. Trump juga telah mencalonkan Kevin Warsh sebagai kandidat ketua The Fed berikutnya. Namun, para ekonom menilai dorongan untuk pemangkasan suku bunga besar-besaran akan sulit mendapatkan konsensus dalam waktu dekat, terutama di tengah ketidakpastian inflasi akibat konflik geopolitik.
Baca Juga: Korban Tewas Perang Iran Tembus Ribuan, Konflik Meluas di Timur Tengah Jan Groen, ekonom utama AS di Societe Generale, menilai bahwa dampak perang Iran terhadap pasar minyak menjadi faktor utama yang meningkatkan kekhawatiran inflasi.
Proyeksi Inflasi Meningkat
Para ekonom juga merevisi naik proyeksi inflasi dalam beberapa pekan terakhir. Indeks Personal Consumption Expenditures (PCE), yang menjadi indikator utama inflasi The Fed, diperkirakan mencapai 3,3% pada kuartal kedua, 3,1% pada kuartal ketiga, dan 2,9% pada kuartal keempat. Angka-angka tersebut sekitar 50 basis poin lebih tinggi dibandingkan proyeksi dua pekan sebelumnya dan juga melampaui perkiraan terbaru dari The Fed. Dengan kondisi ini, arah kebijakan suku bunga AS ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi dan stabilitas harga energi global, terutama di tengah konflik geopolitik yang masih berlangsung.