The Fed Diproyeksi Masih Hawkish, Ini Potensi Dampaknya



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Stockbit Sekuritas memperkirakan Federal Reserve (The Fed) masih bersikap hawkish sebab inflasi masih di atas target bank sentral. Sikap ini diproyeksi dapat berdampak pada prospek rupiah. 

Seperti diketahui, data ketenagakerjaan AS yang dirilis oleh ADP mencatat bahwa tenaga kerja AS di sektor swasta hanya tumbuh 98.000 pada Juni 2026, di bawah ekspektasi konsensus di level 113.000.

Secara terpisah, Ketua The Fed Kevin Warsh, mengatakan bahwa pihaknya melihat risiko inflasi mulai melandai, meski inflasi AS mencapai 4,2% secara year on year (YoY) pada Mei 2026 dan jauh melampaui target The Fed di level 2%. 


Baca Juga: IHSG Melonjak 2% ke 5.863 di Pagi Ini (3/7), Top Gainers LQ45: AMMN, ANTM, HRTA

Warsh sendiri tetap menolak memberikan sinyal arah kebijakan suku bunga The Fed, sejalan dengan rencananya untuk menghapus forward guidance guna membiarkan pasar keuangan bergerak secara mandiri dengan lebih sedikit ‘intervensi’ dari bank sentral.

Stockbit Sekuritas mengatakan bahwa selain data non–farm payroll dan tingkat pengangguran AS, investor juga perlu memonitor data inflasi AS yang dijadwalkan rilis pada 14 Juli 2026. 

“Rilis data–data makroekonomi tersebut memiliki implikasi terhadap arah kebijakan suku bunga AS, yang pada ujungnya memengaruhi prospek nilai tukar rupiah. Dari dalam negeri, review sovereign credit rating Indonesia oleh S&P juga kemungkinan akan dirilis pada periode Juli 2026, sehingga turut perlu dicermati oleh investor,” ujar Stockbit Sekuritas dalam risetnya, Kamis (2/7/2026) malam. 

Di sisi lain, market masih mencerminkan ekspektasi sikap hawkish dari The Fed. Menurut analisis dari CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed hingga Desember 2026 berada di level 83% per Kamis (2/7), sedikit lebih tinggi dari pekan lalu di level 81%. 

Sebelumnya, pejabat The Fed pada Juni 2026 memproyeksikan suku bunga acuannya akan naik 1 kali sebesar 25 bps ke kisaran 3,75% – 4% hingga akhir 2026.

Meski ditunjuk Presiden Donald Trump yang mendorong penurunan suku bunga, Warsh tetap menegaskan independensi The Fed. Ia sebelumnya menggantikan Powell yang dinilai terlambat memangkas suku bunga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News