KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam rapat kebijakan yang berakhir pada Rabu (29/7/2026) waktu setempat. Meski demikian, hasil rapat masih diselimuti ketidakpastian karena Ketua The Fed Kevin Warsh menerapkan pendekatan komunikasi baru yang minim panduan (forward guidance). Ketidakpastian tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran sejumlah pejabat The Fed terhadap inflasi, meskipun tekanan harga mulai menunjukkan tanda-tanda mereda dalam beberapa pekan terakhir.
Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada pukul 14.00 EDT atau 18.00 GMT. Setelah itu, Kevin Warsh akan menggelar konferensi pers sekitar 30 menit kemudian.
Keputusan Bergantung pada Kevin Warsh
Kevin Warsh, yang mulai menjabat sebagai Ketua The Fed pada Mei 2026, dikenal memiliki sikap tegas terhadap inflasi. Ia sebelumnya menegaskan bahwa dirinya "tidak memiliki toleransi terhadap inflasi" yang telah bertahan di atas target 2% selama lebih dari lima tahun. Pada rapat 16–17 Juni lalu, seluruh anggota FOMC sepakat mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%. Namun, pada saat yang sama, para pembuat kebijakan terbelah mengenai arah kebijakan berikutnya, sehingga keputusan dalam rapat kali ini sangat bergantung pada sikap Warsh.
Baca Juga: OCBC Percepat Pembukaan Rekening Nasabah Kaya dengan Agentic AI Berbeda dengan pendahulunya, Jerome Powell, Warsh memilih untuk tidak memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter ke depan. Kebijakan tersebut membuat pasar lebih sulit memprediksi langkah The Fed.
Inflasi Mulai Melandai
Sejak rapat bulan Juni, tekanan inflasi mulai mereda. Inflasi harga konsumen Amerika Serikat turun menjadi 3,5% secara tahunan pada Juni, dari 4,2% pada Mei. Selain itu, harga minyak dunia juga turun tajam pada pekan ini setelah kembali muncul harapan tercapainya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Meski demikian, sejumlah pejabat The Fed masih menilai risiko inflasi belum sepenuhnya hilang. Krishna Guha, Wakil Ketua Evercore ISI, memperkirakan The Fed kemungkinan besar belum akan menaikkan suku bunga pada rapat kali ini. "Kami memperkirakan The Fed kemungkinan besar tidak akan menaikkan suku bunga. Akan terasa janggal jika langkah itu diambil tepat setelah data inflasi Juni yang lebih baik, mengingat mereka masih memiliki jalur yang jelas untuk menaikkan suku bunga pada September jika memang diperlukan," ujar Guha. Namun ia mengingatkan bahwa ketidakjelasan strategi Kevin Warsh membuat kemungkinan kenaikan suku bunga tetap tidak bisa diabaikan. "Namun, kami juga tidak bisa menganggap peluangnya terlalu kecil mengingat Warsh menolak menjelaskan strateginya. Kami tidak melihat adanya tekanan luas di dalam komite untuk menaikkan suku bunga sekarang. Tetapi suara yang dibutuhkan sudah tersedia apabila Warsh menginginkannya," tambahnya.
Sejumlah Pejabat Dukung Kenaikan Suku Bunga
Menjelang rapat pekan ini, Presiden The Fed Dallas Lorie Logan dan Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap kenaikan suku bunga demi mengembalikan inflasi menuju target 2%. Ekonom memperkirakan setidaknya salah satu dari mereka akan menyampaikan perbedaan pendapat (dissent) apabila mayoritas anggota FOMC memutuskan mempertahankan suku bunga. Saat ini, pasar keuangan memperkirakan peluang sekitar sepertiga bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Baca Juga: Yield Treasury AS Naik Lagi Rabu (29/7), Pasar Tunggu Keputusan Suku Bunga The Fed Neil Dutta, Kepala Ekonom Renaissance Macro Research, bahkan menilai langkah tersebut sebaiknya dilakukan lebih cepat. "Lebih baik melakukan sedikit pengetatan sekarang daripada harus melakukan pengetatan yang jauh lebih besar di kemudian hari," tulis Dutta dalam catatannya. Menurut Dutta, apabila tahun lalu The Fed memangkas suku bunga sebagai bentuk perlindungan terhadap perlambatan pasar tenaga kerja, maka tahun ini saatnya sebagian stimulus tersebut ditarik kembali. "Jika tahun lalu bertujuan memberikan perlindungan, maka tahun ini saatnya mengurangi sebagian perlindungan tersebut," katanya.
Trump Masih Ingin Suku Bunga Lebih Rendah
Di sisi lain, kenaikan suku bunga diperkirakan tidak akan disambut baik oleh Gedung Putih. Presiden Amerika Serikat Donald Trump selama ini berulang kali mengkritik kebijakan The Fed yang dinilai terlalu ketat. Ia sebelumnya menunjuk Kevin Warsh dengan harapan bank sentral akan lebih longgar dalam menetapkan kebijakan moneter. Namun hingga kini Trump justru menyalahkan anggota Dewan Gubernur The Fed yang dianggap menghambat ruang gerak Warsh. "Kita seharusnya memiliki suku bunga terendah di dunia. Kevin luar biasa, tetapi dia memiliki dewan, dan para anggota dewan itu sangat politis," kata Trump kepada wartawan di dalam pesawat Air Force One pada Senin. Meski demikian, peluang penurunan suku bunga hampir tidak mendapat dukungan dari para pembuat kebijakan The Fed. Proyeksi terbaru yang dirilis setelah rapat Juni menunjukkan hanya satu anggota FOMC yang memperkirakan suku bunga akan lebih rendah pada akhir tahun ini.
Pasar Dibayangi Spekulasi
Di tengah minimnya komunikasi dari Ketua The Fed, muncul berbagai spekulasi mengenai kemungkinan kejutan kebijakan. Analis LH Meyer, Derek Tang, bahkan sempat mengulas skenario kenaikan suku bunga sebesar 50 basis poin, meski ia menilai langkah tersebut lebih didorong oleh upaya memperkuat kredibilitas The Fed dalam memerangi inflasi dibanding kebutuhan ekonomi.
Baca Juga: Bursa Saham Negara Berkembang Tertekan Rabu (29/7), Jelang Keputusan The Fed "Menurut pandangan kami, jika The Fed menaikkan suku bunga—terutama sebesar 50 basis poin—langkah itu lebih didorong oleh upaya membangun citra dan menjaga kredibilitas," tulis Tang. Ia menambahkan bahwa langkah tersebut juga akan menghapus keraguan bahwa Warsh tunduk terhadap tekanan politik dari Presiden Trump serta menjadi bukti perubahan rezim kebijakan yang dijanjikan oleh ketua baru The Fed.
Dalam konferensi pers usai rapat Juni, Warsh menjelaskan bahwa ia menganggap pasar keuangan sebagai salah satu sumber informasi terpenting bagi bank sentral. Karena itu, ia sengaja tidak ingin memberi tahu pasar mengenai arah suku bunga yang dipikirkannya agar investor lebih fokus pada data ekonomi dibandingkan pernyataan pejabat bank sentral. Ekonom Barclays menilai pendekatan tersebut justru memicu spekulasi di pasar. "Dengan minimnya panduan mengenai fungsi reaksi ketua baru, pasar mengisi kekosongan tersebut dengan spekulasi bahwa Warsh mungkin sedang mempertimbangkan kenaikan suku bunga secara mengejutkan untuk memperkuat kredibilitas dalam memerangi inflasi. Risikonya, spekulasi itu sendiri mulai membentuk arah kebijakan," tulis ekonom Barclays dalam sebuah catatan.