KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh dikenal tidak menyukai pemberian panduan mengenai arah suku bunga Amerika Serikat (AS) ke depan. Namun, inflasi yang masih tinggi, harga minyak yang menembus US$100 per barel, serta penekanannya terhadap pentingnya menjaga stabilitas harga dan memperhatikan sinyal dari pasar keuangan membuat arah kebijakan The Fed berikutnya semakin sulit untuk diabaikan. The Fed akan mengumumkan keputusan kebijakan moneter pada pukul 14.00 EDT (18.00 GMT) pada Rabu setelah mengakhiri pertemuan selama dua hari. Pasar keuangan saat ini memperkirakan kuat bahwa para pembuat kebijakan The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 3,75%-4,00%. Pasar juga memperkirakan bank sentral AS akan memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga lanjutan masih terbuka. Baca Juga: Bank Global Ramai-ramai Prediksi The Fed Naikkan Suku Bunga Pekan Ini Keputusan tersebut dapat menempatkan Warsh dalam posisi sulit. Presiden AS Donald Trump memilih Warsh dengan harapan suku bunga akan dipangkas. Namun, hingga saat ini Trump belum menyalahkan Warsh karena gagal memenuhi harapan tersebut dan justru menyebut kegagalan itu sebagai kesalahan rekan-rekannya di bank sentral yang dianggap "politis". Belum jelas bagaimana Trump akan merespons kenaikan suku bunga, terutama karena keputusan tersebut terjadi tidak lama sebelum pemilu November. Dalam pemilu tersebut, Partai Republik yang dipimpin Trump berupaya mempertahankan mayoritas tipisnya di Kongres. Keputusan menaikkan suku bunga, terutama jika disertai proyeksi para pejabat The Fed mengenai kenaikan tambahan tahun ini seperti yang kini diperkirakan sejumlah analis, juga dapat memaksa Warsh memberikan sedikit petunjuk mengenai arah suku bunga dan pandangannya terhadap perekonomian. Kondisi tersebut akan terjadi kecuali Warsh merasa nyaman membiarkan pintu terbuka lebar terhadap kenaikan suku bunga berikutnya. "Warsh juga perlu berjalan di garis tipis dalam pernyataannya jika dia masih bertujuan untuk tidak memberikan panduan ke depan," tulis ekonom TD Securities Oscar Munoz. "Jika The Fed memutuskan untuk memperketat kebijakan, dia pasti akan ditanya mengenai kenaikan suku bunga di masa depan. Bagi kami cukup jelas bahwa pengetatan lebih lanjut akan masuk dalam agenda jika The Fed memilih jalur kenaikan pada September. Akan menarik untuk melihat bagaimana ketua The Fed menjalankan keseimbangan tersebut," ujar Munoz. Ekonom EY-Parthenon Gregory Daco memperkirakan Waller dan Williams akan mendukung kenaikan suku bunga karena proses disinflasi dinilai belum cukup cepat. "Kami memperkirakan Waller dan Williams akan mendukung kenaikan suku bunga dengan alasan bahwa 'kecepatan' proses disinflasi tidak memuaskan," tulis Daco. "Dengan hanya satu atau dua suara berbeda yang mendukung keputusan untuk mempertahankan suku bunga, Ketua Warsh kemungkinan akan memanfaatkan dukungan mayoritas tersebut untuk memimpin dari belakang dan juga memberikan suara mendukung kenaikan suku bunga," lanjutnya. Dengan demikian, keputusan The Fed pada September bukan hanya akan menentukan tingkat suku bunga AS, tetapi juga menjadi ujian penting bagi Warsh dalam menyeimbangkan tekanan inflasi, ekspektasi pasar keuangan, kebijakan ekonomi pemerintahan Trump, serta kredibilitas bank sentral dalam menjaga stabilitas harga.
The Fed Hadapi Tekanan Naikkan Bunga Saat Inflasi AS Kembali Memanas
Senin, 14 September 2026 17:47 WIB
Oleh: Handoyo | Editor: Handoyo
TAG: