The Fed Hawkish, Dolar AS Menguat ke Level Tertinggi 7 Pekan Kamis (17/9)



KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) bertahan di level tertinggi dalam tujuh pekan pada Kamis (17/9/2026), setelah Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga dan mengisyaratkan kemungkinan kenaikan lanjutan dalam beberapa bulan mendatang.

Penguatan dolar terjadi seiring kenaikan imbal hasil US Treasury setelah The Fed secara bulat menaikkan suku bunga acuan.

Proyeksi terbaru para pejabat The Fed juga mengindikasikan masih ada satu kenaikan suku bunga pada 2026.


Baca Juga: Jumlah Miliarder Vietnam Turun Jadi 7 Orang, Ini Daftar Terbarunya

Strategis valuta Commonwealth Bank of Australia Carol Kong mengatakan, Ketua The Fed Kevin Warsh terdengar lebih hawkish dari perkiraan pasar.

"(Warsh) jelas terdengar lebih hawkish dari yang diperkirakan, dan fakta bahwa ia memberikan panduan mengenai kenaikan di masa depan mengejutkan pasar, menyebabkan pasar menyesuaikan ekspektasi kebijakan ke arah yang lebih ketat, yang pada akhirnya mendorong dolar AS menguat," ujar Kong, seperti dikutip Reuters.

Menurut dia, panduan mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga berikutnya mengejutkan pasar dan mendorong pelaku pasar menyesuaikan kembali ekspektasi kebijakan moneter ke level yang lebih tinggi. Kondisi tersebut kemudian menopang dolar AS.

Pasar berjangka suku bunga kini memperkirakan sekitar 90% peluang The Fed kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun ini, berdasarkan CME Group FedWatch Tool.

Baca Juga: Bursa Australia Naik 0,4% Kamis (17/9) Pagi, Saham Bank Jadi Penopang Utama

Dolar Tekan Euro dan Yen

Penguatan dolar AS menekan sejumlah mata uang utama. Euro berada di US$1,1456, mendekati level terendah dalam tujuh pekan.

Poundsterling relatif datar di US$1,3377 menjelang keputusan suku bunga Bank of England (BoE) pada Kamis.

Sementara itu, yen Jepang berada di sekitar 156,20 per dolar AS, mendekati level terendah dalam dua pekan.

Indeks dolar, yang mengukur kinerja greenback terhadap sejumlah mata uang utama, berada di 100,33. Posisi tersebut merupakan level tertinggi sejak 31 Juli.

Dolar Australia berada di US$0,7096, sedangkan dolar Selandia Baru bergerak datar di US$0,5713.

Baca Juga: OpenAI Ungkap 6 Kasus Perilaku AI Tak Terduga, Siap Rutin Laporkan

Pasar Alihkan Perhatian ke BOJ

Setelah keputusan The Fed, perhatian investor kini beralih ke Bank of Japan (BOJ) yang akan mengumumkan keputusan kebijakan moneter pada Jumat (18/9).

BOJ diperkirakan menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun. Pasar juga mencermati sinyal Gubernur BOJ Kazuo Ueda mengenai waktu dan kecepatan kenaikan suku bunga berikutnya.

Analis OCBC menilai, arah kebijakan BOJ setelah September akan menjadi perhatian utama pasar, terutama apakah bank sentral akan memberikan sinyal normalisasi kebijakan moneter yang lebih cepat di tengah inflasi yang masih tinggi.

Perubahan ekspektasi tersebut juga menjadi ujian bagi yen. Mata uang Jepang sempat menguat ke level tertinggi dalam tujuh bulan terhadap dolar AS pada pekan lalu seiring meningkatnya spekulasi bahwa BOJ akan melanjutkan pengetatan kebijakan.

Baca Juga: Australia Pangkas Migrasi, Mahasiswa Asing Dilarang Bawa Pasangan dan Anak

Namun, investor ritel Jepang masih mempertahankan posisi jual terhadap yen karena memperkirakan penguatan yen dalam beberapa waktu terakhir tidak akan berlangsung lama.

Di pasar aset kripto, Bitcoin bergerak relatif datar di US$76.562,25.