The Fed Masih Waspadai Inflasi, Sinyal Kenaikan Suku Bunga Belum Mereda



KONTAN.CO.ID - Presiden Federal Reserve (The Fed) Kansas City Jeff Schmid menegaskan bahwa kebijakan moneter yang lebih ketat masih diperlukan untuk menurunkan inflasi Amerika Serikat (AS) yang dinilainya masih terlalu tinggi dan belum kembali ke target bank sentral sebesar 2%.

Mengutip Reuters, Selasa (4/8/2026), Schmid mengatakan perekonomian AS secara umum masih menunjukkan kinerja yang baik. Namun, inflasi tetap menjadi perhatian utama karena tekanan harga masih belum mereda sesuai harapan.

Baca Juga: Proyeksi Pendapatan AMD Lampaui Ekspektasi, Saham Justru Anjlok 9%


"Ekonomi tampaknya berkinerja baik, dengan pengecualian utama yaitu inflasi," kata Schmid dalam naskah pidatonya yang disampaikan pada sebuah acara yang diselenggarakan Federal Reserve Kansas City mengenai sektor pertanian.

Menurut Schmid, data ekonomi terbaru menunjukkan kebijakan moneter saat ini belum cukup ketat untuk menekan tekanan inflasi.

"Kekhawatiran utama saya adalah inflasi. Berdasarkan data terbaru, kebijakan moneter saat ini belum cukup restriktif untuk melawan tekanan harga. Karena itu, saya meyakini bahwa untuk membawa inflasi kembali ke target 2%, diperlukan kebijakan yang lebih ketat," ujarnya.

Meski demikian, Schmid tidak mengungkapkan kapan maupun seberapa besar kenaikan suku bunga yang menurutnya diperlukan. Ia juga tidak memiliki hak suara dalam rapat penetapan suku bunga Federal Open Market Committee (FOMC) tahun ini.

Baca Juga: Pengangguran Selandia Baru Naik ke Level Tertinggi dalam Satu Dekade

Pernyataan tersebut menjadi komentar pertama Schmid sejak pertemuan FOMC pekan lalu. Dalam rapat itu, The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75%, meski kekhawatiran terhadap inflasi yang masih tinggi tetap membayangi.

Pada pertemuan tersebut, tiga pejabat The Fed memilih menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi, sementara sejumlah pejabat lainnya juga menyatakan terbuka terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan lebih lanjut bergantung pada perkembangan data ekonomi.

Pelaku pasar kini masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan. Namun, arah kebijakan menjadi lebih sulit diprediksi karena Ketua The Fed Kevin Warsh belum memberikan panduan yang jelas mengenai pandangannya terhadap prospek suku bunga.

Dalam pidatonya, Schmid juga mengingatkan agar bank sentral tidak mengabaikan inflasi yang dipicu oleh gangguan sisi pasokan (supply shock).

Baca Juga: AS Siapkan Tarif dan Harga Minimum Polysilicon, Tekan Dominasi China di Industri Chip

Menurutnya, penurunan inflasi yang terjadi pada Juni belum cukup untuk menjadi dasar optimisme, terutama karena harga minyak kembali meningkat di tengah konflik geopolitik di Timur Tengah.

"Meski data inflasi Juni menunjukkan perlambatan yang menggembirakan, masih terlalu dini untuk memberikan bobot berlebihan pada satu data tersebut dibandingkan tren yang terjadi belakangan ini," kata Schmid.

Ia menambahkan, kenaikan kembali harga minyak membuat prospek penurunan inflasi energi masih penuh ketidakpastian.

Selain itu, Schmid menilai inflasi inti juga masih berada di atas target The Fed. Ia bahkan menyoroti besarnya investasi pada infrastruktur kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang dinilai turut mendorong tekanan inflasi dan tidak bisa diabaikan oleh bank sentral.

Dengan kondisi tersebut, Schmid menegaskan The Fed perlu tetap fokus menjaga stabilitas harga melalui kebijakan moneter yang memadai agar inflasi dapat kembali ke target jangka panjang sebesar 2%.