The Fed Melunak, Potensi Aliran Modal Asing Masuk ke Indonesia



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) pada pertemuan bulan Desember 2022.

Meski ada kenaikan suku bunga acuan, ini tak setinggi dari kenaikan pada pertemuan-pertemuan sebelumnya yang mencapai 75 bps.

Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman melihat, melambatnya laju kenaikan suku bunga acuan The Fed memberi angin segar bagi aliran modal asing ke pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.


Namun, Faisal mengingatkan, masih ada tantangan terkait aliran masuk modal asing ke pasar negara berkembang. Yaitu, suku bunga acuan The Fed yang tinggi dan nampaknya akan berlangsung lebih lama.

“Ini masih menimbulkan ketidakpastian, sehingga akan memberikan tekanan untuk masuknya modal asing ke pasar keuangan dalam negeri. Ini juga akan membawa tekanan pada nilai tukar,” tutur Faisal kepada Kontan.co.id, Kamis (15/12).

Baca Juga: The Fed Isyaratkan Kenaikan Suku Bunga Berlanjut, Meski Dibayangi Perlambatan Ekonomi

Kabar baiknya, Faisal melihat Indonesia cukup bisa meredam potensi negatif tersebut. Ini seiring dengan fundamental ekonomi Indonesia yang solid juga inflasi dalam negeri yang terjaga.

Lebih lanjut, Faisal juga melihat Bank Indonesia (BI) masih akan mengerek suku bunga acuan pada bulan Desember 2022. Dengan demikian, suku bunga acuan BI pada akhir tahun 2022 akan berada di level 5,50%.

Kenaikan suku bunga acuan BI tak akan berhenti pada tahun ini saja. Pada tahun 2023, BI diperkirakan mengerek suku bunga acuan lagi sehingga pada akhir tahun depan, suku bunga akan bergerak di level 5,75%.

Ini seiring dengan potensi inflasi dalam negeri masih berada di atas target BI yang sebesar 2% YoY hingga 4% YoY.

Setidaknya hingga paruh pertama tahun depan, Faisal memperkirakan inflasi masih bergerak di level 5% YoY hingga 6% YoY

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News