KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Bank sentral AS mempertahankan suku bunga acuannya pada Rabu (18/3/2026) dan memproyeksikan inflasi yang lebih tinggi, pengangguran yang stabil, dan satu kali penurunan biaya pinjaman tahun ini. Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengungkapkan, langkah ini dilakukan di tengah ketidakpastian yang luar biasa tinggi karena para pembuat kebijakan mempertimbangkan dampak perang AS dan Israel dengan Iran. "Dalam jangka pendek, harga energi yang lebih tinggi akan mendorong inflasi secara keseluruhan, tetapi masih terlalu dini untuk mengetahui cakupan dan durasi potensi dampaknya terhadap perekonomian," kata Powell dalam konferensi pers setelah keputusan Fed, seperti dilansir
Reuters, Kamis (19/3/2026).
Baca Juga: Iran Hantam Fasilitas Minyak Qatar dan Saudi, Hormuz Resmi Ditutup! The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan overnight di kisaran 3,50%-3,75% dengan suara 11-1. "Yang benar-benar ingin saya tekankan adalah bahwa tidak ada yang tahu: dampak ekonominya bisa lebih besar, bisa lebih kecil; bisa jauh lebih kecil atau jauh lebih besar; kita tidak tahu." Proyeksi baru menunjukkan para pembuat kebijakan Fed secara keseluruhan memperkirakan akan memangkas suku bunga kebijakan sebesar seperempat poin persentase pada akhir tahun ini, pandangan yang secara sepintas tidak berubah dari proyeksi terakhir mereka pada bulan Desember. Namun, Powell mencatat bahwa proyeksi individual menunjukkan sejumlah besar pembuat kebijakan memperkirakan pelonggaran kebijakan moneter yang lebih sedikit tahun ini dibandingkan tiga bulan lalu.
Baca Juga: Sejumlah Negara Tegas Menolak Ajakan Koalisi Militer Donald Trump Rebut Selat Hormuz Dan kemungkinan langkah Fed selanjutnya "mungkin berupa kenaikan suku bunga memang muncul dalam pertemuan tersebut, seperti halnya pada pertemuan terakhir," kata Powell, meskipun ia menambahkan bahwa sebagian besar pejabat tidak menjadikan hal itu sebagai skenario dasar mereka. "Kebijakan moneter berada pada posisi yang baik untuk menentukan besarnya dan waktu penyesuaian tambahan terhadap suku bunga kebijakan kita berdasarkan data yang masuk, prospek yang berkembang, dan keseimbangan risiko." Pernyataan Powell mendorong para pedagang untuk bertaruh bahwa Fed akan menunggu hingga tahun depan untuk memangkas suku bunga. Saham AS merosot, dengan indeks S&P 500 turun sekitar -1,4% ke penutupan terendah dalam hampir empat bulan. Dolar melonjak terhadap sekeranjang mata uang sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS naik. The Fed berada dalam posisi sulit karena perlu menyeimbangkan risiko inflasi yang lebih tinggi di tengah guncangan baru dan risiko penurunan pasar tenaga kerja, kata Powell, yang masa jabatannya sebagai kepala Fed berakhir pada Mei. "Saya tidak akan mengatakan bahwa jelas salah satu lebih berisiko daripada yang lain."
Satu Pejabat Berbeda Pendapat
Para pembuat kebijakan Fed sekarang memperkirakan inflasi, sebagaimana diukur oleh indikator pilihan bank sentral, akan berakhir tahun ini pada 2,7%, tidak jauh di bawah tingkat saat ini dan lebih tinggi dari 2,4% yang diproyeksikan pada Desember, mencerminkan dampak dari lonjakan harga minyak global yang terjadi setelah dimulainya kampanye pengeboman terhadap Iran. Tetapi Powell bilang, proyeksi inflasi yang lebih tinggi juga disebabkan oleh inflasi yang lebih sulit dikendalikan akibat tarif yang memperlambat kemajuan menuju target inflasi 2% Fed. “Hal yang benar-benar penting yang kita lihat tahun ini adalah kemajuan dalam inflasi melalui pengurangan inflasi barang,” katanya. Suku bunga baru dan proyeksi ekonomi menunjukkan bahwa The Fed, untuk saat ini, mayoritas mengabaikan guncangan harga minyak, dengan para pembuat kebijakan masih memperkirakan akan menurunkan suku bunga tahun ini dan mengantisipasi inflasi sebesar 2,2% pada akhir tahun 2027.
Baca Juga: Harga Minyak Melonjak 5% Usai Ancaman Serangan Iran Yang perlu diperhatikan, tidak ada pembuat kebijakan yang memperkirakan suku bunga perlu dinaikkan pada akhir tahun ini, meskipun seorang pejabat mengantisipasi kenaikan suku bunga pada tahun 2027. Pertumbuhan ekonomi sedikit ditingkatkan, menjadi 2,4% untuk tahun 2026 dibandingkan 2,3% pada bulan Desember, dan proyeksi tingkat pengangguran tidak berubah pada 4,4%.
Gubernur Fed Stephen Miran melanjutkan serangkaian perbedaan pendapatnya, dengan memberikan suara menentang keputusan kebijakan tersebut dan memilih untuk menurunkan suku bunga.
Pernyataan Kebijakan Tak Banyak Berubah
Keputusan untuk mempertahankan suku bunga kebijakan tetap stabil telah banyak diperkirakan di pasar keuangan, tetapi proyeksi tersebut memberikan informasi baru tentang bagaimana bank sentral AS menilai dampak ekonomi dari perang yang telah mengganggu pasar minyak global. Harga minyak telah melonjak dari di bawah US$ 80 per barel menjadi US$ 108 menjelang keputusan kebijakan Fed, dengan harga bensin AS juga melonjak dan data inflasi baru menunjukkan harga grosir naik lebih cepat dari yang diperkirakan bahkan sebelum konflik dimulai. Selain referensi tentang perang, pernyataan baru Fed hampir tidak berubah dari pernyataan yang dikeluarkan pada akhir pertemuan 27-28 Januari.