KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keputusan Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 3,75%-4,00% pada 15 September 2026 dinilai belum mengubah fundamental kebijakan moneter secara signifikan. Namun, nada yang disampaikan Ketua The Fed Warsh justru memicu gejolak di pasar keuangan. Ekonom Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto dalam riset Kamis (17/9/2026) menilai hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) September lebih solid dari perkiraan sebelumnya. The Fed memutuskan kenaikan suku bunga dengan suara bulat, yakni 12-0. Hasil tersebut menjadi perhatian karena sebelumnya muncul spekulasi bahwa sejumlah anggota FOMC dari kubu dovish berpotensi berbeda pendapat. Sebagai pembanding, pada rapat Juli lalu keputusan mempertahankan suku bunga diambil dengan suara 9-3.
Baca Juga: KPK Geledah Sejumlah Ruangan di Kantor ATR/BPN "Suara bulat tersebut menunjukkan Gubernur The Fed Warsh telah mengonsolidasikan dukungan komite lebih cepat dari yang tercermin dalam keputusan 9-3 pada Juli," ujar Rully dalam risetnya. Meski demikian, menurut Rully, sinyal yang lebih penting bukan sekadar posisi median suku bunga The Fed saat ini, melainkan arah kebijakan ke depan. Ia menjelaskan, jika angka dalam dot plot disesuaikan dengan konvensi yang digunakan, proyeksi median suku bunga The Fed sebesar 4,125% untuk 2026 dan 2027 sebenarnya setara dengan kisaran target 4,00%-4,25%. Hal ini lantaran dot plot menggunakan titik tengah kisaran target suku bunga, sementara proyeksi terminal rate yang digunakan dalam riset Mirae Asset mengacu pada batas atas kisaran. "Dengan demikian, angka 4,125% median untuk 2026 dan 2027 secara langsung diterjemahkan menjadi kisaran 4,00%-4,25%, sejalan dengan proyeksi terminal rate kami di 4,25%, bukan sekadar mendekatinya," jelas Rully. Dengan kata lain, Mirae Asset melihat tidak terdapat perubahan fundamental besar dalam proyeksi suku bunga The Fed dibandingkan ekspektasi sebelumnya. Pergerakan pasar yang terjadi setelah keputusan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh komunikasi atau retorika The Fed. Rully mencatat, harga pasar untuk Desember 2027 di CME masih berada di kisaran 4,50%-4,75%, lebih tinggi dibandingkan proyeksi FOMC yang tetap berada di kisaran 4,00%-4,25%. Setelah keputusan FOMC, indeks dolar AS (DXY) mencatat kenaikan harian terbesar sejak pertengahan Juni. Di saat yang sama, pasar saham berbalik melemah dan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun kembali menyentuh level tertinggi dalam 52 minggu. Menurut Rully, pergerakan tajam tersebut bukan disebabkan oleh perubahan angka proyeksi The Fed, melainkan respons pasar terhadap nada yang disampaikan Warsh. "Kami melihat reaksi tersebut sebagai respons terhadap retorika yang melampaui substansi," kata Rully.
Baca Juga: Biaya JKN Tembus Rp191,3 Triliun, BPJS Kesehatan Ubah Skema Layanan Ia memperkirakan pricing pasar terhadap terminal rate yang saat ini lebih tinggi dibandingkan proyeksi The Fed akan kembali moderat seiring dengan penyesuaian posisi investor terhadap fundamental yang tidak banyak berubah. Dampak dari penguatan dolar AS dan pergerakan rupiah juga menjadi perhatian bagi Bank Indonesia (BI). Rully menilai BI masih memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 22-23 September 2026. Menurut dia, respons kebijakan BI terhadap tekanan rupiah tetap mengikuti hierarki yang sama. Intervensi valuta asing (valas) dan instrumen SRBI menjadi lini pertahanan pertama karena dapat dilakukan secara cepat dan relatif mudah dibalikkan. Sementara itu, kenaikan suku bunga menjadi opsi terakhir apabila tekanan terhadap rupiah semakin besar. Yang berubah, menurut Rully, adalah komposisi penggunaan instrumen pada lini pertama tersebut. Lelang SRBI tercatat menurun tajam di bawah kepemimpinan Gubernur BI Destry Damayanti, dari delapan kali pada Juli menjadi tiga kali pada Agustus dan baru satu kali pada September. Dengan kondisi tersebut, intervensi valas kini menjadi instrumen yang lebih banyak digunakan untuk menjaga stabilitas rupiah. Rully memperkirakan BI masih akan mempertahankan suku bunga pada RDG September. Menurut dia, BI kemungkinan tetap berada pada lini pertahanan pertama sembari menunggu dampak lonjakan DXY mereda. "Kami memperkirakan BI akan menahan suku bunga pada RDG 22-23 September, tetap berada dalam lini pertama tersebut seiring lonjakan DXY yang kami nilai sebagai reaksi sementara pasar terhadap retorika The Fed," ujarnya.
Namun, pergerakan rupiah tetap menjadi faktor penting yang perlu dicermati. Rully menempatkan level rupiah di sekitar Rp17.850-Rp17.900 per dolar AS sebagai titik yang dapat menguji perubahan arah kebijakan BI. Jika rupiah bergerak melemah hingga level tersebut, BI berpotensi kembali mengandalkan SRBI lebih agresif atau bahkan mulai mempertimbangkan kenaikan suku bunga. "Level Rp 17.850-Rp 17.900 menjadi level yang perlu diperhatikan, karena dapat menguji pembalikan kembali ke SRBI atau pergerakan menuju kenaikan suku bunga yang masih kami lihat memiliki ruang, hingga 6%," tutur Rully. Per Agustus 2026, posisi BI rate masih di level 5,75%. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News