The Fed Menaikkan Suku Bunga, Bursa Asia Kompak Turun pada Kamis (15/12)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mayoritas indeks saham di Asia sore ini, Kamis (15/12) ditutup turun. Tim riset Phillip Sekuritas Indonesia menilai, turunnya bursa Asia terjadi setelah bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve, menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis points (bps) ke level tertinggi dalam 15 tahun. The Fed juga memberi sinyal bahwa tahun depan suku bunga acuan akan terus merangkak naik lebih tinggi dari yang di antisipasi investor.

Ketua Federal Reserve Jerome Powell membuka pintu lebar-lebar bagi wacana kenaikan suku bunga 50 bps atau lebih kecil dari 50 bps pada pertemuan kebijakan berikutnya bulan Februari. Ini sekaligus menghempas spekulasi adanya perubahan kebijakan (penurunan suku bunga) tahun depan.

Dari Asia, investor mencerna rilis data Neraca Perdagangan Jepang yang memperpanjang defisit menjadi 16 bulan beruntun seiring dengan lonjakan impor pada saat pertumbuhan ekspor ke China melambat. Hal ini memicu kekhawatiran mengenai bagaimana gangguan akibat kebijakan anti Covid-19 di satu negara dapat mempengaruhi negara-negara lain.


Impor melonjak 30,3% year-on-year (YoY), dipimpin oleh pembelian minyak mentah, batubara, dan  gas alam cair (LNG) serta digelembungkan oleh 28,5% depresiasi nilai tukar yen Jepang terhadap dolar AS.

Baca Juga: The Fed Kembali Mengerek Suku Bunga, Investor Perlu Lebih Cermat Memilih Saham

Ekspor tumbuh 20%, sejalan dengan estimasi dan dipimpin oleh permintaan dari AS terhadap mobil dan peralatan/mesin pertambangan. Namun, pertumbuhan ekspor ke China hanya mencapai 3,5% akibat lemahnya permintaan atas mesin pembuat cip dan suku cadang otomotif. Padahal, selama bulan Juli hingga September,  ekspor ke China selalu mencatatkan pertumbuhan double-digit dan meningkat 7,7% YoY di bulan Oktober.

Neraca perdagangan Jepang mengalami defisit lebih dari ¥ 2 triliun atau setara US$ 15 miliar. Ini menandakan defisit neraca dagang melampaui ¥ 2 triliun selama empat bulan beruntun.

Dari China, data terkini memperlihatkan pemburukan pada kondisi ekonomi seiring dengan pemberlakuan kembali kebijakan lockdown di beberapa kota besar, lesunya sektor properti serta lemahnya permintaan global.

Produksi industri tumbuh 2,2% YoY di bulan November, lebih rendah dari estimasi kenaikan 3,6%. Produksi industri melambat secara tajam dari pertumbuhan 5,0% YoY di bulan Oktober.

Baca Juga: IHSG Melemah ke 6.751, Net Sell Asing Rp 1,7 Trilun di Pasar Reguler, Kamis (15/12)

Penjualan ritel China turun 5,9%, kontraksi terbesar sejak bulan Mei di tengah pelemahan sektor jasa. Analis memprediksi penjualan ritel menciut 3,7%, lebih buruk dari penurunan 0,5% di bulan Oktober.

Investasi asset tetap (fixed asset investment) mengalami ekspansi 5,3% YoY di 11 bulan pertama 2022. Namun, angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan ekspektasi sebesar 5,6% dan kenaikan 5,8% selama 10 bulan pertama 2022.

Perekrutan pegawai masih rendah karena perusahaan khawatir mengenai kondisi keuangan mereka. Tingkat pengangguran China naik menjadi 5,7% di bulan November dari sebelumnya 5,5% di bulan Oktober.

Dari dalam negeri, Indonesia mencatatkan surplus neraca dagang senilai US$ 5,16 miliar di bulan November. Realisasi ini lebih besar dari ekspektasi seiring dengan impor yang secara tak terduga terkontraksi 1,89% YoY, setelah melonjak 17,44% YoY di bulan Oktober. Sementara itu, ekspor tumbuh melambat menjadi 5,58% YoY dari sebelumnya 11,9% YoY.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati