KONTAN.CO.ID - JAKARTA.
Kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed) sebesar 25 basis poin (bps) kembali menjadi ujian bagi pasar saham Indonesia. Di tengah Bank Indonesia yang juga mempertahankan suku bunga pada level tinggi, investor kini harus menghadapi kombinasi yield obligasi Amerika Serikat yang meningkat, tekanan terhadap rupiah, hingga potensi tertahannya aliran dana asing. Kondisi tersebut membuat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga penghujung 2026 diperkirakan masih akan penuh dinamika. Head Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan kenaikan Fed Rate dan peluang kenaikan lanjutan masih menjadi tekanan bagi IHSG. Risiko tersebut terutama datang dari potensi kenaikan US Treasury yield 10 tahun (US10Y) di atas 5%, pelemahan rupiah, serta arus dana asing yang cenderung mixed-to-negative. "Fed hike 25bps dan peluang kenaikan lanjutan masih menjadi tekanan untuk IHSG, terutama lewat US10Y >5%, Rupiah dan foreign flow," ujar Liza kepada Kontan.
Baca Juga: Tantangan Biaya Awal Pabrik Karawang Bayangi INKP, Begini Prospek Sahamnya Meski menghadapi tekanan tersebut, target IHSG 2026 yang ditetapkan Liza di kisaran 7.250-7.700 belum langsung diubah. Namun, Liza melihat ruang gerak indeks saat ini lebih realistis jika diarahkan untuk setidaknya mampu menutup tahun di level 7.000, dengan peluang menuju 7.200. "Dengan kondisi sekarang saya lebih konservatif ke asal bisa tutup di kepala 7 aja (level psikologis 7000), up to 7.200," katanya. Target resmi belum buru-buru direvisi selama rupiah dan risiko sovereign masih berada dalam kondisi terkendali. Pandangan yang lebih konservatif datang dari analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama. Ia memperkirakan IHSG hingga akhir 2026 bergerak dalam rentang 6.250-6.900, dengan target akhir tahun berada di kisaran 6.700-6.900. Menurutnya, kenaikan Fed Rate dapat menekan pasar saham Indonesia melalui penguatan dolar AS, kenaikan yield US Treasury, serta berkurangnya minat investor terhadap aset di pasar negara berkembang. Namun, tekanan tersebut belum tentu berubah menjadi koreksi berkepanjangan karena sebagian sentimen sudah lebih dahulu diperhitungkan oleh pasar. "
Foreign flow berpotensi tetap fluktuatif dan selektif, terutama pada saham berkapitalisasi besar dengan fundamental kuat," ujarnya. Ruang IHSG juga masih sangat bergantung pada arah kebijakan The Fed berikutnya. Jika suku bunga kembali dinaikkan, rupiah melemah signifikan, dan yield obligasi global terus menanjak, target IHSG berpeluang kembali dikaji lebih konservatif.
Suku Bunga Tinggi, Rotasi Sektor Mengintai
Efek suku bunga tinggi tidak berhenti di level indeks. Tekanan juga berpotensi menjalar ke sejumlah sektor, terutama perusahaan yang membutuhkan pembiayaan besar.
Baca Juga: IHSG Diproyeksi Sideways Menguat pada Jumat (18/9), Cek Sentimennya Properti,
consumer discretionary, konstruksi, otomotif, teknologi, serta emiten dengan utang berbunga tinggi menjadi kelompok yang perlu dicermati. Kenaikan suku bunga dapat membuat biaya pendanaan semakin mahal dan pada akhirnya menekan ruang ekspansi maupun margin perusahaan. Sebaliknya, bank besar, consumer staples, telekomunikasi, energi dan komoditas, serta emiten dengan arus kas kuat cenderung memiliki karakter yang lebih defensif. Meski perbankan dapat memperoleh dukungan dari kenaikan asset yield, kondisi tersebut tidak otomatis berlaku bagi seluruh bank. Biaya dana, pertumbuhan kredit, likuiditas, serta kualitas aset tetap menjadi faktor penting. Bank dengan CASA tinggi, likuiditas kuat, dan kualitas aset yang baik dinilai memiliki daya tahan lebih baik dalam menghadapi periode suku bunga tinggi. Sementara itu, emiten komoditas berorientasi ekspor berpotensi mendapatkan keuntungan ketika dolar AS menguat. Kondisi ini membuka peluang terjadinya rotasi sektor, dari saham berbasis growth dan leverage tinggi menuju emiten dengan fundamental lebih kuat dan tingkat kepastian laba yang lebih tinggi. Liza sendiri menempatkan sektor bank, telekomunikasi, consumer, energi, dan infrastruktur dalam
positioning investasinya.
Neraca Jadi Penentu hingga 2027
Memasuki sisa 2026 hingga 2027, kekuatan neraca perusahaan diperkirakan semakin menentukan kemampuan emiten melewati era biaya dana yang mahal. Perusahaan dengan utang rendah, arus kas berulang, dan kemampuan menaikkan harga produk dinilai lebih mampu menjaga kinerja. Sebaliknya, emiten dengan utang besar perlu lebih ketat mengatur belanja modal,
refinancing, dan modal kerja. "Emiten dengan leverage rendah, pricing power dan recurring cash flow lebih mampu bertahan, sementara perusahaan yang banyak utang harus lebih disiplin capex, refinancing dan working capital," ujar Liza.
Baca Juga: ICOMEX Jadi Katalis Baru PT Timah Tbk, Cermati Rekomendasi Saham TINS Di sektor perbankan, penguatan CASA dan kualitas kredit menjadi perhatian. Adapun perusahaan properti dan otomotif perlu memperkuat skema pembiayaan, mengelola persediaan, dan memastikan ekspansi tetap ditopang permintaan riil. Prospek 2027 dapat kembali membaik apabila inflasi Amerika Serikat mulai melandai dan siklus suku bunga berbalik lebih longgar. Penurunan cost of capital kemudian dapat membuka ruang bagi pemulihan permintaan dan aktivitas bisnis. Bagi investor, periode suku bunga tinggi berarti strategi tidak lagi sekadar mengejar saham yang sedang bergerak cepat. Fundamental perusahaan dan valuasi menjadi semakin penting. Investor disarankan melakukan akumulasi secara bertahap ketika valuasi dan risk-reward sudah menarik, sembari menjaga sebagian dana dalam bentuk kas untuk menghadapi volatilitas. "Di era suku bunga tinggi saya lebih pilih quality first: balance sheet sehat, earnings nyata, valuasi masuk akal dan likuiditas baik," kata Liza. Investor juga perlu mencermati sejumlah indikator makro, mulai dari pergerakan rupiah, US Treasury yield, keputusan Bank Indonesia, hingga arus dana asing. Di tengah kondisi tersebut, sejumlah saham masih masuk dalam pilihan analis. Liza memilih ANTM dengan target harga Rp 4.800, KLBF Rp 970, BBNI Rp 4.100, BBRI Rp 3.600, dan JSMR Rp 3.850. Sementara itu, Elandry memasukkan BBCA dengan target harga indikatif Rp 7.000-Rp 7.300, TLKM Rp 3.500-Rp 3.700, ICBP Rp 11.500-Rp 12.000, serta ANTM Rp 3.400-Rp 3.600.
Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham CUAN, INDF, dan MAPA untuk Jumat (18/9) Pilihan tersebut mencerminkan preferensi terhadap kombinasi saham komoditas, perbankan besar, consumer staples, telekomunikasi, dan perusahaan dengan arus kas yang relatif stabil. Namun, dengan arah suku bunga global yang masih menjadi tanda tanya, strategi akumulasi secara bertahap menjadi pilihan yang disarankan sembari menunggu kejelasan mengenai terminal rate The Fed dan arah kebijakan Bank Indonesia. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News