KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menegaskan pemerintah tetap akan melanjutkan rencana penerbitan surat berharga negara (SBN) valuta asing atau global bond pada sisa tahun 2026, meski Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya, dan melanjutkan era higher for longer atau suku bunga global tinggi. Seperti diketahui, The Fed menaikkan Fed Rate sebesar 25 basis poin (bps) ke level 3,75%-4% dalam pertemuan komite Federal Open Market Committee (FOMC). Bahkan ekspektasi pasar juga memprediksi The Fed akan kembali menaikkan pada Desember 2026.
Juda mengatakan, kenaikan suku bunga The Fed berpotensi memicu repricing di pasar keuangan. Namun, pemerintah menilai kondisi tersebut masih berada dalam level yang wajar. Baca Juga: Rupiah Diproyeksi Melemah Terbatas Jumat (18/9), Simak Faktor Pendorongnya "Ya ini saya kira itu tentu saja ada repricing ya, tapi saya kira kita masih dalam level yang wajar lah," ujar Juda saat ditemui Kontan di Gedung Parlemen DPR, Kamis (17/9/2026). Meski era higher for longer masih berlanjut, Juda memastikan strategi diversifikasi penerbitan SBN valas tetap berjalan.
Bahkan Juda menyebut pemerintah bakal melanjutkan rencana penerbitan Global Bond di pasar Tiongkok melalui Panda Bond. "Oh iya itu tetap, tetap Panda Bond tetap," kata Juda.
Saat ditanya mengenai besaran global bond yang akan diterbitkan hingga akhir tahun, Juda belum memberikan angka pasti. Hanya saja, pemerintah masih memiliki kuota penerbitan global bond sebesar US$ 2 miliar sampai akhir tahun. Lebih lanjut, Juda mengatakan pemerintah akan memperbarui informasi terkait rencana penerbitan tersebut. "Iya itu nanti kita update ya," jawab Juda. Sebelumnya,
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto mengatakan, pemerintah masih berencana menerbitkan SBN valas pada sisa empat bulan 2026. Namun, waktu dan mata uang penerbitan masih akan menyesuaikan kondisi pasar. "Sisa tahun masih akan terbitin valas (global bond) cuma kapan dan currency-nya, nanti sambil lihat dengan market-nya juga," ujar Suminto saat ditemui di kantor Kementerian Keuangan, Selasa (15/9/2026). Suminto menyebut, pemerintah masih mempertimbangkan sejumlah mata uang untuk penerbitan global bond berikutnya, yakni dolar Amerika Serikat (USD), euro (EUR), renminbi (RMB), dan yen Jepang (JPY). "Fleksibel. Kita ya masih di sekitaran itu, masih USD, EUR, RMB, sama Yen," katanya.
Baca Juga: Saham CPO Grup Haji Isam Melonjak, Begini Prospek Kinerja dan Valuasinya Ia juga belum memastikan apakah penerbitan SBN valas berikutnya akan menyasar negara atau pasar baru. Menurutnya, pemerintah saat ini telah memiliki akses ke sejumlah denominasi SBN valas. "Belum. Ya kan kita udah lengkap (denominasi SBN Valas)," ujar Suminto.
Dengan ruang penerbitan SBN valas hingga akhir 2026, pemerintah tetap akan tetap mempertimbangkan kondisi pasar global serta kebutuhan pembiayaan pemerintah. Untuk diketahui, pemerintah melalui DJPPR Kemenkeu telah menerbitkan Panda Bond senilai CNY 7 miliar atau setara sekitar US$ 1,03 miliar. Nilai tersebut setara dengan sekitar Rp 18,53 triliun. Penerbitan Panda Bond tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk melakukan diversifikasi sumber pembiayaan sekaligus memperluas akses ke pasar keuangan internasional. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News