KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Keputusan Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%-4,00% pada September 2026 ini, turut juga menjadi pertimbangan Bank Indonesia (BI) dalam menentukan arah kebijakan moneter. Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz mengatakan, kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 bps merupakan kenaikan pertama sejak 2023. Keputusan tersebut dilakukan karena kekhawatiran inflasi kembali menjadi perhatian utama. Keputusan kenaikan suku bunga tersebut diambil secara bulat bersamaan dengan penilaian The Fed bahwa aktivitas ekonomi terus berkembang dengan kecepatan yang solid, didukung oleh pengeluaran domestik yang tangguh, produktivitas yang kuat, dan investasi modal.
Baca Juga: MotoGP Mandalika 2026 Bisa Jadi Mesin Baru Ekonomi dan Pariwisata NTB Dengan pasar tenaga kerja yang tetap tangguh, fokus The Fed telah bergeser lebih tegas ke arah pemulihan stabilitas harga. Faiz juga menyebut, proyeksi ekonomi September memperkuat alasan untuk mempertahankan kebijakan yang ketat. The Fed menaikkan perkiraan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) 2026/2027 menjadi masing-masing 2,3% dan 2,4% dari sebelumnya 2,2% dan 2,3%. Sementara itu, proyeksi pengangguran diturunkan menjadi 4,1% di kedua tahun tersebut dari sebelumnya 4,3%. Di sisi lain, inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) inti dan utama tahun 2026 direvisi sedikit lebih tinggi menjadi masing-masing 3,7% dan 3,4% dari sebelumnya 3,6% dan 3,3%. "Kombinasi pertumbuhan yang lebih kuat, pengangguran yang lebih rendah, dan inflasi jangka pendek yang lebih stabil memberi The Fed ruang lebih besar untuk memprioritaskan inflasi," ujar Irman dalam risetnya, Kamis (17/9/2026). Perubahan juga terlihat pada grafik titik atau
dot plot The Fed yang menjadi signifikan lebih agresif. Jalur median memperkirakan kenaikan 25 bps lagi pada akhir tahun. Selain itu, ia juga menyampaikan, proyeksi suku bunga dana The Fed median akhir tahun 2026 naik menjadi 4,1% dari 3,8% pada Juni. Sementara itu, median tahun 2027 melonjak 50 bps menjadi 4,1% dari 3,6%, sedangkan tahun 2028 naik menjadi 3,9% dari 3,4%.
Baca Juga: Kajian UI: Saldo PPN Lebih Bayar Menumpuk, Kas Korporasi Bisa Tercekik Menurut Faiz, perubahan tersebut menunjukkan jalur kebijakan The Fed yang jauh lebih tinggi dan lebih lama. Meski demikian, titik-titik tersebut bukanlah panduan ke depan tanpa syarat. Titik-titik tersebut mewakili penilaian masing-masing pembuat kebijakan yang bergantung pada prospek ekonomi mereka masing-masing. Yang perlu diperhatikan, kata dia, meskipun ada revisi kenaikan 50 bps pada proyeksi suku bunga 2027, The Fed mempertahankan perkiraan PCE utama dan inti 2027 tidak berubah pada 2,3% dan 2,5%. "Menunjukkan kepercayaan yang lebih besar bahwa kebijakan restriktif dapat dipertahankan tanpa secara signifikan melemahkan pertumbuhan atau lapangan kerja," kata Faiz. Ketua The Fed Warsh juga memperkuat nada
hawkish selama konferensi pers. Ia menggambarkan kenaikan tersebut sebagai "menghapus akomodasi" daripada pengetatan dan menekankan bahwa The Fed berfokus pada tren daripada titik data individual. Ia juga menyatakan bahwa menunggu hingga 2029 untuk mengembalikan inflasi 2% akan terlalu lambat, memperkuat fokus baru pada sisi stabilitas harga dari mandat tersebut.
Proyeksi BI-Rate
Di tengah kebijakan The Fed yang lebih
hawkish, Faiz masih mempertahankan pandangannya bahwa kenaikan 25 bps pada September 2026 akan menjadi satu-satunya kenaikan The Fed tahun ini, meskipun ambang batas untuk kenaikan lain jelas telah turun. "Titik-titik dan komunikasi The Fed cenderung
hawkish, tetapi kami tidak berpikir itu memerlukan perubahan segera pada prediksi suku bunga kami," jelasnya. The Fed masih memperkirakan inflasi PCE inti dan utama akan melambat secara substansial menjadi 2,3% dan 2,5% pada 2027. Faiz memperkirakan para pembuat kebijakan akan menilai apakah dorongan inflasi baru-baru ini, khususnya dari sektor energi, akan tertanam dalam harga-harga pokok sebelum kembali memperketat kebijakan.
Baca Juga: Kajian UI Ungkap Realisasi Restitusi PPN Masih Rendah, di Bawah Tingkat Kewajaran Oleh karena itu, skenario dasar Faiz tetap berupa kebijakan yang bertahan lama daripada siklus kenaikan suku bunga yang berkepanjangan. Ekonomi AS yang tangguh memberi The Fed ruang untuk mempertahankan kebijakan yang ketat lebih lama, sementara inflasi yang terus-menerus membatasi kemungkinan pelonggaran dalam jangka pendek. Namun demikian, risiko cenderung mengarah pada pengetatan lebih lanjut jika inflasi inti, ekspektasi inflasi, atau dampak inflasi terhadap energi tetap tinggi.
Bagi Indonesia, kondisi keuangan AS yang ketat secara terus-menerus memperkuat stabilitas eksternal sebagai kendala utama bagi BI. Imbal hasil obligasi AS yang lebih tinggi dan dolar AS yang kuat dapat membatasi arus masuk portofolio dan menekan rupiah. Sementara itu, harga minyak yang tinggi menambah tekanan melalui saluran perdagangan dan neraca transaksi berjalan. "Kami mempertahankan perkiraan suku bunga BI akhir tahun kami di 6,25%, dengan intervensi valuta asing dan langkah-langkah non-suku bunga kemungkinan akan tetap menjadi lini pertahanan pertama," pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News