The Fed Naikkan Suku Bunga, Begini Nasib Rupiah ke Depan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah diperkirakan akan tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini tidak terlepas dari kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS, The Federal Reserve, yang membuat indeks dolar AS terkerek. 

Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin mengatakan pergerakan rupiah masih akan tertekan karena dampak keputusan The Fed yang kembali menaikkan suku bunga acuan 75 bps dan mengantarkan suku bunga acuan pada 3,25%. 

"Namun, pembuat kebijakan juga mengisyaratkan kenaikan yang lebih besar dalam proyeksi baru yang menunjukkan tingkat kebijakannya naik menjadi 4,40% pada akhir tahun ini sebelum mencapai 4,60% pada tahun 2023. Ini naik dari proyeksi pada bulan Juni masing-masing sebesar 3,4% dan 3,8%," ujar Nanang kepada Kontan.co.id, Kamis (22/9). 


Baca Juga: Loyo, Rupiah Spot Melemah 0,19% ke Rp 15.025 Per Dolar AS Pada Kamis (22/9) Siang

Laju inflasi yang masih tinggi membuat The Fed berjuang untuk menjinakkannya.

Ditambah lagi, permintaan dolar yang tinggi di tengah kembali memanasnya eskalasi di Eropa Timur. Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan untuk memobilisasi 300.000 pasukan cadangan ke Ukraina sehingga Rusia meningkatkan perangnya terhadap Ukraina. 

Sanksi Uni Eropa yang melarang impor minyak mentah Rusia melalui laut akan mulai berlaku pada 5 Desember kian menekan ekonomi global. 

"Bisa dikatakan dolar diuntungkan karena permintaan yang tinggi karena suku bunga dan kondisi global yang tidak baik-baik saja saat ini. Ancaman inflasi dan geopolitik menjadi pemicu safe haven," tuturnya. 

Nanang menjelaskan pasca penutupan di atas index dolar di level 110.60, maka potensi penguatan lanjutan indeks dolar pun tidak bisa ditahan di target 112.50.

Sementara pergerakan rupiah sangat riskan saat ini, dimana zona pencapaian level psikologis sudah kembali ditembus yakni Rp 15.000, hal ini memberi ruang pelemahan lanjutan terdekat Rp 15.150 dan selanjutnya Rp 15.275.

Nanang mengatakan sentimen positif dari dalam negeri berasal dari anggaran subsidi dan kompensasi untuk sektor energi yang naik menjadi Rp 338,2 triliun dalam pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN 2023). 

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan anggaran cadangan sebesar Rp 127,27 triliun tahun depan. Pencadangan dana ini dilakukan untuk mengantisipasi saat terjadi kenaikan harga minyak mentah di atas asumsi APBN dan kurs rupiah yang melemah.

Pemerintah akan mengalokasikan anggaran Rp 95 triliun untuk mengatasi krisis pangan di tahun depan. Anggaran tersebut meningkat 0,9% dari outlook tahun ini yang sebesar Rp 94,1 triliun. 

Baca Juga: Suku Bunga the Fed Naik, Rupiah Tertekan, Berapa Kekuatan Cadangan Devisa RI

"Anggaran tersebut dipersiapkan untuk memastikan ketersediaan pangan tetap aman ditengah sejumlah risiko global yang akan menghantui pada tahun depan," tuturnya. 

Sementara sentimen negatif berasal dari perkembangan eskalasi dan keseriusan Putin yang siap menggunakan nuklir untuk melindungi wilayahnya diperkirakan akan menjadi memanasnya geopolitik. Ditambah lagi kebijakan agresif bank sentral dunia lainnya.

"Target terdekat rupiah bila penutupan di atas Rp 15.100 - Rp 15.300 maka potensi akhir tahun pada rentang Rp 14.600 - Rp 14.800," ucapnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi