The Fed Pilih Bersabar, Daly: Belum Ada Bukti Perlu Ubah Suku Bunga



KONTAN.CO.ID - Presiden Federal Reserve Bank of San Francisco Mary Daly mengatakan, Federal Reserve (The Fed) masih fokus menjalankan mandatnya, terutama mengembalikan inflasi Amerika Serikat (AS) ke target 2%, di tengah langkah Departemen Keuangan AS mengelola penerbitan utang pemerintah.

Daly mengatakan, terlalu dini untuk menilai dampak perubahan strategi penerbitan utang Treasury terhadap efektivitas kebijakan moneter The Fed.

"Ini masih tahap awal, dan saya tidak ingin mendahului dengan membahas hal-hal tersebut sebelum kami memiliki kesempatan untuk memikirkan persoalan itu secara menyeluruh," ujar Daly dalam wawancara dengan Bloomberg TV, Kamis (20/8/2026).


Baca Juga: Rusia Gempur Ukraina, 16 Orang Tewas dan Zelenskiy Desak Tambahan Rudal Patriot

Pernyataan tersebut disampaikan sehari setelah Treasury meningkatkan ukuran program buyback untuk surat utang pemerintah AS bertenor panjang.

Langkah tersebut dilakukan ketika biaya pinjaman jangka panjang pemerintah AS meningkat akibat kekhawatiran inflasi dan persaingan mendapatkan aliran investasi.

Namun, dampak intervensi tersebut terhadap pasar obligasi hanya berlangsung sementara karena penurunan imbal hasil pada Rabu (19/8) berbalik pada Kamis (20/8).

Daly: Kenaikan Yield Jadi Persoalan Global

Daly menilai, kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang bukan hanya persoalan AS, melainkan fenomena global yang dipengaruhi berbagai faktor.

Menurut dia, pergerakan yield obligasi jangka panjang tidak memberikan banyak sinyal mengenai langkah yang harus diambil The Fed dalam menyesuaikan kebijakan moneternya.

Baca Juga: PM Malaysia Perintahkan Penyelidikan Anak Usaha Khazanah Nasional

Sebaliknya, pergerakan obligasi bertenor lebih pendek dinilai memberikan sinyal mengenai ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed.

"Obligasi dengan tenor lebih pendek mengindikasikan adanya kemungkinan pengetatan suku bunga The Fed dan tampaknya menunjukkan bahwa mereka memahami fungsi reaksi kami," kata Daly.

Daly juga menilai kebijakan moneter saat ini berada pada posisi yang tepat. Ia mendukung keputusan The Fed pada akhir Juli untuk mempertahankan target suku bunga federal funds pada kisaran 3,5%-3,75%.

Fed Tetap Jaga Independensi

Daly turut menanggapi kemungkinan Treasury mengubah strategi penerbitan utang dengan lebih banyak menerbitkan surat utang jangka pendek dibandingkan utang jangka panjang.

Peningkatan penerbitan di sisi jangka pendek dapat memberikan tekanan terhadap biaya pinjaman di pasar tersebut. Kondisi ini berpotensi memengaruhi cara The Fed mengelola kebijakan suku bunga.

Baca Juga: Harga Emas Tergelincir Setelah Capai Level Tertinggi dalam 2 Bulan

Sistem pengendalian suku bunga The Fed bergantung pada kemampuan bank sentral memengaruhi kondisi pasar uang melalui berbagai instrumen dan fasilitas likuiditas.

Namun, Daly menegaskan peran Menteri Keuangan AS berbeda dengan The Fed. Ia optimistis bank sentral tetap mampu menjalankan mandat yang diberikan Kongres, termasuk mengembalikan inflasi ke target 2%.

"Hal penting yang perlu diketahui masyarakat Amerika adalah bahwa Federal Reserve peduli terhadap independensi dan kredibilitasnya serta tetap berpegang pada mandatnya," ujar Daly.

Daly juga mengatakan kenaikan biaya pinjaman jangka panjang belum mengancam kredibilitas The Fed.

Ia menilai belum terdapat bukti kuat bahwa bank sentral perlu melakukan pemangkasan atau kenaikan suku bunga secara pre-emptive.

"Saya tidak melihat banyak bukti bahwa itu merupakan masalah mendesak yang harus diselesaikan," kata Daly.