The Fed Tahan Suku Bunga, Begini Prospek Bitcoin



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Federal Reserve (The Fed) kembali mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50%–3,75% dalam pernyataan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) terbaru.

Dalam rilis resminya Rabu (29/4/2026), The Fed menyebut aktivitas ekonomi AS masih tumbuh solid, dengan tingkat pengangguran relatif stabil dalam beberapa bulan terakhir. Namun, inflasi dinilai masih tinggi, sebagian dipicu kenaikan harga energi global.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur mengatakan, prospek Bitcoin setelah The Fed menahan suku bunga cenderung bergerak dalam fase konsolidasi dengan tekanan jangka pendek yang masih ada. Namun tetap memiliki peluang stabilisasi bahkan pemulihan secara bertahap. 


"Dari sisi makro, keputusan The Fed untuk menahan suku bunga di level tinggi tanpa sinyal penurunan dalam waktu dekat membuat sentimen pasar masih cenderung hati-hati," ujar Fyqieh kepada Kontan, Kamis (30/4/2026).

Baca Juga: Pendapatan dan Laba Jababeka (KIJA) Menyusut pada Kuartal I-2026

Fyqieh menambahkan, kebijakan “higher for longer” meningkatkan opportunity cost bagi investor untuk masuk ke aset seperti Bitcoin yang tidak memberikan imbal hasil. Sehingga dalam jangka pendek pergerakan harga berpotensi terbatas dan sensitif terhadap data inflasi serta arah kebijakan berikutnya. 

Selain itu, ketidakpastian geopolitik juga masih menjadi faktor yang bisa menahan agresivitas investor.

Namun di sisi lain, ada beberapa faktor yang bisa menopang prospek Bitcoin. Jika harga mampu bertahan di area support sekitar US$ 74.000, maka ada peluang konsolidasi di range US$ 74.000– US$ 78.000 sebelum menentukan arah berikutnya. 

Selain itu, kembalinya arus masuk ke ETF Bitcoin akan menjadi sinyal penting untuk menilai apakah minat institusional mulai pulih. Pergerakan ini perlu dicermati dalam 24–48 jam ke depan untuk melihat apakah tekanan jual dari investor besar mulai berkurang, karena hal tersebut akan berpengaruh terhadap stabilitas harga. 

Dalam perspektif yang lebih luas, selama tren jangka menengah masih terjaga, Fyqieh melihat Bitcoin memiliki peluang untuk kembali menguat seiring munculnya kejelasan arah penurunan suku bunga atau meredanya tekanan global.

Fahmi Almuttaqin, Analis Reku, menilai perpecahan internal The Fed terkait keputusan suku bunga justru membuka dinamika yang menarik bagi pasar kripto. Empat dissenter terbagi dua arah yang saling berlawanan, satu pihak menginginkan pemangkasan segera, pihak lain ingin menghapus bias pelonggaran dari pernyataan resmi. 

Bagi pasar kripto, ini punya makna ganda. Pemangkasan mungkin belum akan datang dalam waktu dekat, tapi kenaikan suku bunga juga kemungkinan tidak akan terjadi. 

"Kebekuan ini bisa menandai akhir dari ketidakpastian kebijakan moneter yang selama ini menghantui pasar," ujar Fahmi.

Ketua The Fed Jerome Powell sendiri menyebut empat supply shock berturut-turut yaitu pandemi, invasi Ukraina, tarif, dan perang Iran sebagai alasan mengapa perdebatan internal begitu tajam.

Di sisi lain, Kevin Warsh, calon pengganti Powell, telah lolos voting Komite Perbankan Senat dan kini tinggal menunggu konfirmasi penuh. Yang menarik perhatian pasar, Warsh pernah menyebut aset kripto sebagai "bagian dari fabric sistem keuangan."

"Namun investor perlu realistis. Warsh menggantikan kursi Miran, bukan kursi Powell. Transisi keseimbangan hawk-dove di tubuh The Fed kemungkinan akan lebih gradual dari yang diharapkan pasar. Tetap penting untuk tidak terlalu berspekulasi berdasarkan pergantian kepemimpinan saja," jelas Fahmi.

Selain itu, Fahmi mencermati adanya akumulasi institusional. Strategy menambah 145.837 BTC sepanjang 2026, mendorong total kepemilikannya ke 818.334 BTC. 

Di saat yang sama, sekitar US$ 3,5 miliar modal segar mengalir masuk ke ETF Bitcoin spot dalam dua bulan terakhir.

"Mesin pembelian institusional ini terus berjalan di saat harga BTC naik maupun turun dalam

jangka pendek. Ini adalah sinyal bahwa koreksi saat ini bukan cerminan kelemahan struktural Bitcoin, tapi justru sebaliknya," kata Fahmi.

Dari sisi regulasi, Clarity Act yaitu RUU yang berpotensi memformalkan BTC sebagai komoditas digital di bawah yurisdiksi CFTC, menghilangkan risiko overreach SEC, dan

memberikan safe harbor bagi bank untuk memegang aset kripto, sedang dalam proses legislasi. 

Jika disahkan, regulasi ini akan menjadi infrastruktur legal kuat yang ketiadaannya selama ini menjadi hambatan utama adopsi institusional secara masif. 

Bagi investor Indonesia, Fahmi menilai kombinasi faktor-faktor ini menyoroti periode saat ini sebagai momentum yang kuat untuk membangun atau memperkuat posisi di pasar kripto, khususnya Bitcoin sebagai instrumen diversifikasi sekaligus growth engine dalam portofolio investasi jangka panjang.

Koreksi yang dipicu kebijakan The Fed dalam konteks akumulasi institusional yang semakin agresif dan regulasi yang semakin matang justru menciptakan entry point yang menarik bagi investor dengan horizon jangka panjang. 

"Strategi dollar cost averaging (DCA) tetap menjadi pendekatan paling terukur untuk memanfaatkan momentum ini," kata Fahmi.

Fyqieh memproyeksikan harga Bitcoin pada kuartal II - 2026 diperkirakan akan bergerak dalam range yang cukup lebar, seiring tingginya ketidakpastian global. Dalam skenario dasar (base case), Bitcoin berpotensi bergerak di kisaran US$ 70.000–US$ 85.000, mencerminkan fase konsolidasi setelah reli sebelumnya, sambil menunggu katalis baru dari sisi makro maupun institusional.

Baca Juga: Pendapatan dan Laba Bersih Bumi Resources (BUMI) Kompak Meningkat di Kuartal I-2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: