KONTAN.CO.ID - Federal Reserve (The Fed) kembali mempertahankan suku bunga acuan pada Rabu (29/4/2026), namun keputusan kali ini menjadi salah satu yang paling terbelah sejak 1992, di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi dan arah kebijakan moneter ke depan. Dalam pernyataan kebijakan terbarunya yang dikutip
Reuters, The Fed mencatat meningkatnya tekanan inflasi yang sebagian dipicu kenaikan harga energi global. Bank sentral juga menghapus bahasa sebelumnya yang menyebut inflasi hanya “sedikit tinggi”, dan menggantinya dengan penegasan bahwa inflasi kini “tinggi”.
Baca Juga: Perang AS di Iran Telan Biaya US$25 Miliar, Tekan Politik hingga Harga Energi “Inflasi berada pada level tinggi, sebagian mencerminkan kenaikan harga energi global terbaru,” demikian pernyataan The Fed. Bank sentral juga menyoroti meningkatnya ketidakpastian ekonomi akibat perkembangan konflik di Timur Tengah. Voting Terpecah, Empat Pihak Tidak Sepakat Keputusan suku bunga kali ini menghasilkan voting 8-4, menjadi yang paling terbelah sejak Oktober 1992. Tiga pejabat menolak karena tidak setuju dengan masih digunakannya sinyal easing bias atau kecenderungan pelonggaran kebijakan.
Baca Juga: Senat AS Setujui Proses Awal Calon Bos The Fed, Warsh Makin Dekat ke Kursi Powell Empat penentang tersebut terdiri dari Cleveland Fed President Beth Hammack, Minneapolis Fed President Neel Kashkari, Dallas Fed President Lorie Logan, serta satu pejabat lainnya yang justru mendukung pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin. Ketiganya sepakat mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75%, tetapi menolak bahasa kebijakan yang mengindikasikan kemungkinan penurunan suku bunga ke depan. Tekanan Inflasi dan Harga Minyak Jadi Tantangan Dengan harga minyak global bertahan di atas US$100 per barel akibat konflik Iran yang didukung AS, The Fed menghadapi dilema antara risiko perlambatan ekonomi dan tekanan inflasi yang semakin kuat.
Baca Juga: OPEC+ Bergejolak: UEA Hengkang, Sementara Rusia Menegaskan Akan Bertahan Dalam pernyataannya, The Fed juga menyebut tingkat pengangguran relatif stabil dan ekonomi AS masih tumbuh dengan laju solid. Namun, ketidakpastian terkait dampak konflik terhadap harga energi membuat arah kebijakan moneter semakin sulit diprediksi. Transisi Kepemimpinan The Fed Pernyataan kebijakan kali ini diperkirakan menjadi yang terakhir di bawah kepemimpinan Jerome Powell. Di sisi lain, proses transisi menuju calon Ketua The Fed berikutnya, Kevin Warsh, semakin mendekati tahap akhir setelah Senat AS menyetujui pencalonannya di Komite Perbankan dengan suara 13-11.
Baca Juga: Rial Iran Anjlok ke Rekor Terendah, Tembus 1,81 Juta per Dolar AS Senat diperkirakan akan melakukan voting penuh pada bulan depan, dengan Warsh berpotensi menggantikan Powell setelah masa jabatannya berakhir pada 15 Mei. Powell dijadwalkan memberikan konferensi pers untuk menjelaskan arah kebijakan lebih lanjut serta kemungkinan langkah suku bunga ke depan. Ia juga diperkirakan akan mengklarifikasi apakah akan tetap bertahan sebagai gubernur The Fed hingga masa jabatannya berakhir pada 2028. Sinyal Kebijakan ke Depan Risalah rapat The Fed Maret sebelumnya menunjukkan semakin banyak pejabat membuka kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi tetap tinggi.
Hal ini memperkuat spekulasi bahwa arah kebijakan The Fed tidak lagi condong pada pelonggaran.
Baca Juga: Strategi Double T Chery: Gabungkan Kualitas Toyota dan Inovasi Tesla Sejak pertemuan Maret, inflasi menunjukkan tanda-tanda meningkat, terutama akibat harga energi global yang tinggi, yang dikhawatirkan dapat berubah dari guncangan sementara menjadi tekanan inflasi yang lebih persisten. Gubernur The Fed Stephen Miran kembali menjadi satu-satunya pihak yang mendukung pemangkasan suku bunga 25 basis poin, seperti pada pertemuan-pertemuan sebelumnya.