KONTAN.CO.ID - Presiden Federal Reserve San Francisco Mary Daly menilai, gejolak harga minyak akibat konflik Iran berpotensi memperlambat proses penurunan inflasi di Amerika Serikat (AS) menuju target bank sentral sebesar 2%. Dalam wawancara dengan
Reuters Jumat (10/4/2026), Daly mengatakan bahwa secara fundamental ekonomi AS masih solid, dengan pasar tenaga kerja yang stabil dan kebijakan moneter yang saat ini sudah cukup ketat untuk menekan inflasi tanpa mengganggu lapangan kerja.
Baca Juga: Gangguan Hormuz Picu Lonjakan Biaya Logistik, Rute Alternatif via AS Mulai Dilirik Namun, lonjakan harga minyak akibat konflik Iran mengubah dinamika tersebut. “Kami sudah punya pekerjaan untuk menurunkan inflasi sebelum terjadi lonjakan harga minyak. Dengan adanya
shock ini, prosesnya akan memakan waktu lebih lama,” ujar Daly. Dampak ke kebijakan suku bunga Saat ini, Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75% dalam dua pertemuan terakhir tahun ini. Sebelumnya, banyak pejabat The Fed memperkirakan inflasi akibat tarif akan mereda, sehingga membuka ruang untuk pemangkasan suku bunga.
Baca Juga: Gencatan Senjata Belum Redakan Konflik, Selat Hormuz Masih Tertutup Daly sendiri sempat memperkirakan kemungkinan satu hingga dua kali pemangkasan. Namun, perang Iran mendorong harga minyak melonjak tajam, bahkan sempat membuat harga bensin di AS menembus US$4 per galon. Dua skenario utama Daly memaparkan dua skenario yang menjadi perhatian bank sentral:
Jika konflik mereda dan gencatan senjata bertahan, harga minyak turun, inflasi kembali melandai, dan The Fed bisa melanjutkan normalisasi dengan pemangkasan suku bunga.
Jika gangguan pasokan energi berlanjut, inflasi bisa bertahan lebih lama sehingga The Fed perlu menahan suku bunga lebih lama. “Jika itu terjadi, kami kemungkinan akan tetap menahan suku bunga sampai yakin inflasi benar-benar terkendali,” jelasnya.
Baca Juga: PM Inggris dan Trump Bahas Opsi Militer untuk Amankan Selat Hormuz Risiko stagflasi mengintai Daly juga mengingatkan bahwa lonjakan harga energi berisiko menekan pertumbuhan sekaligus mendorong inflasi, kombinasi yang mendekati kondisi stagflasi. Meski demikian, ia menilai peluang kenaikan suku bunga lebih kecil dibandingkan opsi menahan atau menurunkan suku bunga. Di sisi lain, data terbaru menunjukkan tekanan inflasi masih cukup tinggi, dengan indikator harga konsumsi dan potensi kenaikan CPI yang diperkirakan menjadi yang tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir.
Baca Juga: BBM Dibatasi, Krisis Energi India Memburuk Dampak ke ekonomi riil Menurut Daly, dampak kenaikan harga energi sudah mulai terasa di berbagai sektor, antara lain:
- Harga bahan bakar meningkat
- Biaya pupuk melonjak, membebani petani
- Aktivitas perjalanan dan pariwisata menurun
- Daya beli masyarakat tertekan
“Inflasi penting untuk dikendalikan, tapi jika itu dilakukan dengan mengorbankan lapangan kerja, dampaknya juga besar bagi masyarakat,” tegas Daly. Dengan ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi, arah kebijakan suku bunga AS ke depan sangat bergantung pada stabilitas harga energi dan perkembangan konflik di Timur Tengah.