Tiga hal yang mengancam pertumbuhan kredit bank



JAKARTA. Semester I-2012, pertumbuhan kredit tidak merata. Sejumlah bank dengan rasio intermediasi (LDR) rendah, menikmati kenaikan kredit fantastis, di atas 25% hingga 40%. Namun, banyak pula bank mencatatkan pertumbuhan kredit tipis, di kisaran 10% - 20%.

Kesenjangan itu tampaknya tidak terulang lagi pada semester II-2012. Semua bank bakal menghadapi situasi yang sama, yakni pelambatan pertumbuhan kredit.


Sejumlah bankir yang dihubungi KONTAN menyebutkan tiga hal yang mengancam penyaluran kredit.

Pertama, penurunan ekspor-impor. Ekspor sudah terlihat melambat sejak awal tahun. Juni 2012, total ekspor US$ 15,36 miliar atau turun 16,44% jika disetahunkan. Maklum, permintaan barang di pasar global menurun, terpengaruh krisis di negara-negara maju.

Sementara impor juga ikut melambat, imbas tidak langsung penurunan ekspor. Di Juni 2012, total impor mencapai US$ 16,69 miliar, turun 2,05% dibandingkan Mei 2012 sebesar US$ 17,04 miliar.

Masalah di ranah perdagangan ini, kata Jerry Ng, Direktur Utama Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN), berpotensi menekan kredit korporasi. Perusahaan memilih menunda pencairan kredit, baik untuk investasi pabrik maupun belanja modal.

Di sisi lain, bank lebih selektif menilai debitur. Pengusaha yang tujuan ekspor ke negara pusat krisis atau mitra dagangnya, agak dihindari. Bank besar seperti Bank Mandiri, Bank BNI dan Bank Central Asia (BCA) melakukan hal ini. "Kami tidak menerima kredit valas sejak akhir tahun lalu," kata Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA.

Pelambatan kredit korporasi, terutama dalam valuta asing (valas), sudah terlihat sejak 2011. Bank Mandiri misalnya, hanya mencatatkan pertumbuhan kredit valas 8% menjadi Rp 43 triliun pada Juni 2012. Bandingkan dengan pencapaian tahun sebelumnya yang meningkat sekitar 10%.

Kedua, mulai efektifnya kebijakan loan to value (LTV) untuk kredit properti dan kendaraan bermotor. Kebijakan ini berdampak pada kredit konsumsi. Pengaruh itu sudah terlihat pada penjualan kendaraan bermotor semester I-2012 yang anjlok 8,1% menjadi 4,07 juta unit.

Potensi pelambatan di korporasi dan konsumsi ibarat pukulan beruntun bagi perbankan. Awalnya bankir berharap bisa mengompensasi penurunan kredit di korporasi dengan menggenjot kredit konsumsi. Bankir memprediksi kebijakan LTV bisa menurunkan kredit konsumsi sebesar 20%-30%.

Ketiga, pertumbuhan ekonomi yang mencapai 6,4% per Juni 2012, di atas prediksi ekonom. Kabar positif ini sekaligus mengindikasikan adanya ancaman overheating (pemanasan) ekonomi. Upaya "pendinginannya", bisa berdampak ke bisnis bank.

Bagi bank yang memiliki desain non-corporate, kendala tersebut bisa diatasi dengan memperbesar kredit usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Permintaaan kredit UMKM tinggi dan penetrasinya rendah. Per semester I 2012 kredit UMKM mencapai Rp 506,2 triliun atau tumbuh 21,21% (year on year/yoy).

Ketua Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D. Hadad tetap optimistis kredit akan tumbuh di kisaran 25%-26%, alias sesuai prediksi pertumbuhan kredit awal tahun. Menurutnya, masalah yang timbul saat ini tidak akan berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan kredit karena perbankan sangat dominan dalam pembiayaan domestik. "Bila pun ada penurunan kredit, penurunannya juga tidak besar," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News