Tiga Maskapai BUMN China Catat Rugi 7 Tahun Beruntun, Harga Avtur Jadi Beban



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tiga maskapai penerbangan milik negara terbesar di China kembali menghadapi tekanan keuangan. Lonjakan harga bahan bakar pesawat dan gangguan pada rute internasional membuat ketiganya membukukan kerugian pada semester I-2026.

Air China, China Eastern Airlines, dan China Southern Airlines mencatatkan kerugian bersih gabungan sekitar 8,2 miliar yuan atau sekitar US$1,22 miliar pada paruh pertama tahun ini.

Dengan hasil tersebut, ketiga maskapai mencatat kerugian semester I selama tujuh tahun berturut-turut, sekaligus menunjukkan masih rapuhnya pemulihan industri penerbangan China setelah pandemi Covid-19.


Kerugian tersebut juga berbalik tajam dari kondisi pada kuartal I-2026. Ketiganya sebelumnya membukukan laba gabungan sebesar 4,82 miliar yuan, terutama didorong tingginya permintaan perjalanan selama periode Tahun Baru Imlek.

Kerugian Tiga Maskapai Membengkak

Mengutip Reuters, Senin (31/8/2026), Air China membukukan rugi bersih sebesar 2,3 miliar yuan pada semester I-2026. Kerugian tersebut meningkat dibandingkan 1,81 miliar yuan pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga: Trump Sebut Minyak Venezuela Akan Isi Kembali Cadangan Strategis AS

Sementara itu, China Eastern Airlines mencatat rugi sebesar 2,2 miliar yuan, membesar dari 1,43 miliar yuan pada semester I-2025.

Adapun China Southern Airlines mengalami kerugian paling besar, yakni mencapai 3,7 miliar yuan. Angka tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan kerugian sebesar 1,53 miliar yuan pada periode yang sama tahun lalu.

Sebelumnya, ketiga maskapai telah memperingatkan bahwa kerugian gabungan semester pertama berpotensi mencapai 9 miliar yuan.

Kinerja tersebut menekan saham ketiga maskapai di bursa China dan Hong Kong pada perdagangan Senin.

Harga Avtur Jadi Beban Utama

Meningkatnya biaya bahan bakar pesawat menjadi salah satu faktor utama yang menekan profitabilitas maskapai.

China Eastern menggambarkan kondisi lingkungan bisnis saat ini sebagai "sangat dirusak" oleh gangguan rute internasional dan harga bahan bakar pesawat yang tetap tinggi akibat konflik di Timur Tengah.

Biaya bahan bakar ketiga maskapai tersebut masing-masing meningkat sekitar 35% hingga 38% pada semester I-2026.

Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi maskapai China karena berbeda dengan sejumlah maskapai di Asia dan Eropa, perusahaan penerbangan China relatif sedikit melakukan lindung nilai atau hedging terhadap pembelian bahan bakar.

Akibatnya, perubahan harga minyak dunia memberikan dampak yang lebih besar terhadap biaya operasional mereka.

China Southern bahkan menyatakan dalam laporan keuangannya bahwa saat ini "tidak tersedia cara yang efektif" untuk mengelola eksposur perusahaan terhadap fluktuasi harga bahan bakar pesawat.

Meskipun harga bahan bakar pesawat telah turun dari level puncaknya pada kuartal II, harganya masih lebih dari 50% di atas level sebelum perang.

Pendapatan Naik, tetapi Margin Tertekan

Di tengah kerugian tersebut, ketiga maskapai sebenarnya masih mencatat pertumbuhan pendapatan yang cukup kuat.

Pendapatan Air China meningkat 10,5%, sedangkan China Eastern tumbuh 11,1% dan China Southern naik 9,7%.

Baca Juga: Harga Emas Capai Level Terendah 2 Minggu, Terseret Sikap Hawkish Ketua The Fed

Pertumbuhan terutama didorong oleh meningkatnya permintaan penerbangan internasional. Rute menuju Eropa bahkan mencatat kinerja yang relatif kuat karena sebagian penumpang menghindari hub penerbangan di Timur Tengah yang terdampak perang Iran.

Namun, pertumbuhan pendapatan tersebut belum cukup untuk mengimbangi kenaikan biaya bahan bakar dan tekanan di pasar domestik.

Kondisi ekonomi China yang lebih lemah, ditambah persaingan dengan kereta cepat dan perjalanan menggunakan kendaraan pribadi, membatasi ruang maskapai untuk menaikkan tarif penerbangan domestik secara signifikan.

Maskapai China tidak bisa dengan mudah menaikkan harga tiket seperti yang terjadi di pasar Amerika Serikat karena kenaikan tarif yang terlalu besar berisiko menekan permintaan.

Musim Liburan China Terganggu Topan

Prospek kinerja maskapai pada kuartal III-2026 juga belum menunjukkan perbaikan signifikan.

Kuartal ketiga biasanya menjadi periode paling menguntungkan bagi maskapai China karena bertepatan dengan musim perjalanan musim panas. Namun, tahun ini aktivitas penerbangan justru terganggu oleh musim topan yang lebih kuat dari biasanya.

Data meteorologi menunjukkan sebanyak 21 topan telah terbentuk di wilayah barat laut Samudra Pasifik dan Laut China Selatan sepanjang tahun ini.

Jumlah tersebut sembilan topan lebih banyak dibandingkan rata-rata historis untuk periode yang sama.

Perusahaan data penerbangan Flight Master memperkirakan jumlah penumpang yang diangkut maskapai China pada rute domestik dan internasional selama Juli dan Agustus akan turun 3,6% secara tahunan menjadi sekitar 142 juta penumpang.

Jika terealisasi, penurunan tersebut akan menjadi kontraksi pertama pada musim perjalanan puncak sejak 2022, ketika sebagian besar wilayah China masih menerapkan pembatasan ketat akibat pandemi.

Proyeksi Kerugian 2026 Makin Besar

Tekanan terhadap industri penerbangan China bahkan diperkirakan berlanjut hingga akhir tahun.

Analis HSBC memperkirakan tiga maskapai terbesar China tersebut akan membukukan kerugian gabungan sekitar 16,8 miliar yuan sepanjang 2026.

Proyeksi tersebut berbanding terbalik dengan ekspektasi pasar sebelumnya yang memperkirakan ketiganya mampu mencatatkan laba gabungan sekitar 1,3 miliar yuan.

Di pasar saham, tekanan tersebut juga tercermin dari kinerja saham ketiga maskapai. Saham Air China, China Eastern, dan China Southern yang tercatat di Shanghai telah turun sedikitnya 36% sepanjang 2026.

Baca Juga: Harga Minyak Naik Lebih dari US$1, Konflik AS-Iran Memanas di Selat Hormuz

Melemahnya permintaan perjalanan domestik terus membebani prospek keuntungan maskapai. Ketiga perusahaan juga tidak membagikan dividen interim.

Perluas Armada Jet Buatan China

Di tengah tekanan keuangan, ketiga maskapai tetap melanjutkan ekspansi armada pesawat produksi dalam negeri China, COMAC.

China Eastern meningkatkan jumlah pesawat narrow-body COMAC C919 menjadi 17 unit setelah menerima tiga pesawat tambahan pada semester pertama tahun ini.

Sementara itu, Air China dan China Southern masing-masing mengoperasikan 11 unit C919. Air China menerima dua pesawat baru, sedangkan China Southern mendapatkan tiga unit tambahan selama periode tersebut.

Namun, China Eastern memangkas proyeksi penerimaan C919 untuk periode 2026-2028. Maskapai tersebut memperkirakan jumlah pesawat yang diterima akan 13 unit lebih sedikit dibandingkan proyeksi sebelumnya.

Air China masih mempertahankan proyeksi penerimaan C919 yang telah disampaikan sebelumnya. Sementara itu, China Southern tidak mengungkapkan proyeksi penerimaan pesawat tersebut dalam laporan interimnya.