KONTAN.CO.ID - Tiga pejabat Federal Reserve (The Fed) yang menentang keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS) untuk mempertahankan suku bunga pekan ini kompak menyerukan kenaikan suku bunga acuan. Mereka menilai inflasi masih terlalu tinggi dan diperlukan tindakan segera agar kembali ke target 2%. Presiden Federal Reserve Cleveland Beth Hammack mengatakan, inflasi telah bertahan di atas target 2% selama lebih dari lima tahun sehingga kecil kemungkinan akan turun dengan sendirinya.
Baca Juga: Proyeksi Mengecewakan, Apple Terancam Kehilangan Nilai US$500 Miliar "Inflasi tetap membandel di atas 2% selama lebih dari lima tahun, dan saya tidak yakin inflasi akan kembali ke target tanpa tindakan tambahan," kata Hammack dalam pernyataan resminya, Jumat (31/7/2026). Menurut Hammack, kenaikan suku bunga federal funds rate akan membantu menahan aktivitas ekonomi dan meredakan tekanan inflasi. Ia juga menilai pasar tenaga kerja yang masih kuat memungkinkan perekonomian menanggung suku bunga yang lebih tinggi. "Saya memilih mendukung kenaikan suku bunga pada pertemuan terakhir karena saya tidak melihat kebijakan moneter saat ini cukup restriktif," ujarnya. Pandangan serupa disampaikan Presiden Federal Reserve Minneapolis, Neel Kashkari. Ia menilai Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) seharusnya sudah mulai menaikkan suku bunga pada pertemuan pekan ini sebagai awal dari serangkaian pengetatan.
Baca Juga: Nilai Aset Vatikan Bertambah €89 Juta Ditopang Lonjakan Harga Emas "Untuk mengurangi risiko inflasi tinggi menjadi permanen, saya lebih memilih pengetatan secara bertahap sambil terus memantau perkembangan inflasi dan pasar tenaga kerja," kata Kashkari. Menurutnya, apabila inflasi tetap tinggi, serangkaian kenaikan suku bunga secara bertahap akan lebih baik dibanding menunggu hingga akhirnya harus mengambil langkah yang jauh lebih agresif. Sementara itu, Presiden Federal Reserve Dallas, Lorie Logan, yang juga mendukung kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan pekan ini, menilai kebijakan moneter saat ini belum cukup memberikan tekanan terhadap inflasi. "Tanpa adanya pengetatan kebijakan, inflasi kemungkinan akan tetap berada di atas target kecuali terjadi guncangan yang tidak terduga," ujar Logan. Ia menambahkan, kenaikan suku bunga dalam jumlah moderat dalam waktu dekat dapat mengurangi kebutuhan untuk melakukan pengetatan yang lebih agresif di masa mendatang.
Baca Juga: Chelsea Didenda £10 Juta atas Pelanggaran Aturan FA, Lolos dari Pengurangan Poin Pada rapat kebijakan Rabu (29/7), FOMC memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75% melalui hasil pemungutan suara 9 banding 3. Ketiga pejabat tersebut menjadi anggota yang memberikan suara berbeda (dissent) dengan menginginkan kenaikan suku bunga. Keputusan tersebut diambil di tengah inflasi yang masih bertahan tinggi. Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (
Personal Consumption Expenditures/PCE), yang menjadi acuan utama The Fed, tercatat naik 3,7% secara tahunan pada Juni dan masih menghadapi tekanan kenaikan. Reuters melaporkan, keputusan The Fed mempertahankan suku bunga serta pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh yang membuka peluang peninjauan kembali target inflasi memicu lonjakan yield obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun hingga menembus 5,2%, level tertinggi dalam 19 tahun.
Baca Juga: Obligasi AS Kirim Sinyal The Fed Mungkin Tak Lagi Naikkan Suku Bunga Inflasi di AS juga masih terdorong oleh kebijakan tarif impor Presiden Donald Trump, kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah, serta tingginya investasi di sektor kecerdasan buatan (AI). Meski demikian, Warsh menegaskan perbedaan pendapat di antara anggota FOMC merupakan bagian dari proses pengambilan keputusan. "Saya menginginkan perdebatan yang sehat di dalam FOMC, dan itu memang terjadi. Namun, mayoritas besar tetap mendukung keputusan yang kami ambil," ujar Warsh.