KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Presiden Amerika Serikat Donald Trump memasuki pekan ketiga konflik dengan Iran di tengah krisis yang kian kompleks dan sulit dikendalikan. Lonjakan harga energi global, minimnya dukungan sekutu, hingga peningkatan pengerahan pasukan menjadi tantangan besar bagi pemerintahan Trump. Dalam laporan Reuters, Sabtu (21/3), Trump menghadapi situasi yang berlawanan dengan janji awalnya bahwa konflik ini hanya akan menjadi operasi militer singkat. Kini, ketegangan justru meluas dengan dampak signifikan terhadap stabilitas energi global. Trump bahkan menyebut negara-negara anggota NATO sebagai “pengecut” karena menolak membantu pengamanan Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Meski demikian, Trump tetap bersikukuh bahwa operasi militer berjalan sesuai rencana dan mengklaim pertempuran telah “dimenangkan secara militer”.
Namun, klaim tersebut berbanding terbalik dengan realitas di lapangan. Iran tetap menunjukkan perlawanan dengan meluncurkan serangan rudal ke berbagai wilayah dan mengganggu distribusi minyak serta gas di kawasan Teluk.
Baca Juga: G7 Siap Ambil Langkah Jaga Pasokan Energi Global dan Keamanan Selat Hormuz Tekanan Politik dan Risiko Elektoral
Konflik ini juga menempatkan Trump dalam posisi sulit secara politik. Presiden yang sebelumnya berjanji menghindari intervensi militer “bodoh” kini dinilai tidak memiliki kendali penuh atas arah maupun narasi perang yang ia mulai. Ketiadaan strategi keluar (exit strategy) yang jelas meningkatkan risiko terhadap warisan politik Trump serta peluang Partai Republik dalam pemilu paruh waktu November mendatang, di tengah upaya mempertahankan mayoritas tipis di Kongres. Aaron David Miller, mantan negosiator Timur Tengah, menyebut Trump terjebak dalam konflik yang ia ciptakan sendiri. Sementara itu, pihak Gedung Putih membantah penilaian tersebut dengan menegaskan bahwa operasi militer telah berhasil, termasuk melemahkan kekuatan militer Iran secara signifikan.
Batas Kekuatan AS dan Minimnya Dukungan Sekutu
Dalam sepekan terakhir, keterbatasan kekuatan Trump—baik secara diplomatik, militer, maupun politik—semakin terlihat. Sejumlah negara sekutu menolak terlibat langsung dalam pengamanan Selat Hormuz, mencerminkan ketidaksetujuan terhadap konflik yang tidak melalui konsultasi sebelumnya. Sejumlah analis menilai sikap ini juga dipengaruhi oleh memburuknya hubungan Trump dengan sekutu tradisional sejak kembali menjabat. Perbedaan pandangan bahkan mulai muncul dengan Israel, terutama terkait koordinasi serangan terhadap fasilitas energi Iran. Trump mengklaim tidak mengetahui rencana tersebut, sementara pejabat Israel menyatakan sebaliknya.
Baca Juga: Trump: AS Sedang Mempertimbangkan untuk 'Mengakhiri' Perang Melawan Iran Persimpangan Strategi Militer
Saat ini, Trump berada di titik krusial dalam operasi militer yang dikenal sebagai Operation Epic Fury. Ia memiliki dua opsi utama: meningkatkan eskalasi militer atau mencari jalan keluar cepat. Eskalasi dapat mencakup penguasaan pusat minyak Iran di Pulau Kharg atau pengerahan pasukan tambahan di sepanjang pantai Iran. Namun, langkah ini berisiko menyeret AS ke konflik jangka panjang yang tidak populer di dalam negeri. Sebaliknya, Trump dapat mengklaim kemenangan dan menarik diri. Namun, opsi ini berpotensi mengecewakan sekutu di kawasan Teluk yang harus menghadapi Iran yang masih agresif dan berpotensi mengganggu jalur pelayaran.
Dampak Energi dan Tekanan Domestik
Konflik ini telah memicu gangguan serius pada pasokan energi global. Iran dilaporkan membatasi akses di Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama distribusi minyak dunia. Amerika Serikat juga telah mengerahkan ribuan personel tambahan ke Timur Tengah, meskipun belum ada keputusan untuk mengirim pasukan darat langsung ke Iran. Di dalam negeri, dukungan terhadap Trump mulai menunjukkan tanda-tanda melemah, termasuk dari kalangan basis politiknya sendiri. Kenaikan harga bahan bakar menjadi faktor krusial yang dapat mempengaruhi opini publik. Strategis Partai Republik, Dave Wilson, menilai tekanan ekonomi akan menjadi faktor penentu. Masyarakat mulai mempertanyakan dampak konflik terhadap biaya hidup, termasuk harga energi yang semakin tinggi.
Baca Juga: Resmi! Arab Saudi Usir Diplomat Iran, Ini Akar Permasalahannya Kesalahan Perhitungan dan Tantangan Narasi
Sejak konflik dimulai pada 28 Februari, muncul penilaian bahwa pemerintah AS kurang mengantisipasi skenario terburuk. Iran merespons dengan strategi asimetris, termasuk penggunaan drone dan rudal untuk menyeimbangkan kekuatan militer. Mantan Duta Besar AS John Bass menilai pemerintah gagal mengantisipasi kemungkinan konflik berkembang di luar rencana.
Di sisi lain, Trump juga menghadapi kesulitan mengendalikan narasi publik. Ia bahkan menyerang media dengan tuduhan “pengkhianatan” atas pemberitaan yang dianggap merugikan upaya perang. Menurut Brett Bruen, mantan penasihat kebijakan luar negeri, Trump kini kesulitan menjelaskan tujuan perang dan langkah selanjutnya kepada publik. “Dia tampak kehilangan kendali dalam mengatur narasi, sesuatu yang sebelumnya menjadi kekuatannya,” ujarnya. Dengan situasi yang terus berkembang, arah kebijakan AS dalam konflik ini masih belum jelas. Namun, dampaknya terhadap stabilitas geopolitik dan pasar energi global diperkirakan akan terus berlanjut dalam waktu dekat.