Tiga Perusahaan Raksasa China Akan Tinggalkan Bursa Saham AS, Kenapa?



KONTAN.CO.ID - BEIJING. Tiga perusahaan raksasa milik China mengumumkan rencana untuk meninggalkan Bursa Efek New York. Rencana tersebut akan semakin memisahkan sektor keuangan China dengan ekonomi global di tengah perselisihan terkait pengawasan audit bagi perusahaan.

Layanan ride-hailing terbesar di China, Didi Chuxing, misalnya telah meninggalkan Bursa Efek New York pada 10 Juni dan bergabung dengan bursa Hong Kong. Alibaba juga mengumumkan rencana pada Juli lalu untuk meningkatkan status sahamnya yang diperdagangkan di Hong Kong agar dapat diakses oleh investor China.

PetroChina, China Life dan China Petroleum & Chemical, yang dikenal dengan Sinopec, mengatakan sekuritas yang terkena dampak adalah saham penyimpanan Amerika, atau ADS, yang mewakili saham yang diperdagangkan di Hong Kong. Mereka mengatakan saham mereka di Hong Kong masih akan diperdagangkan.


Regulator sekuritas China mengatakan keputusan mereka untuk meninggalkan pasar saham AS berdasarkan pertimbangan komersial.

Baca Juga: Shanghai Akan Membuka Kembali Semua Sekolah pada 1 September

Dalam sebuah pernyataan singkat, perusahaan berjanji untuk menjaga komunikasi dengan regulator asing untuk bersama-sama menjaga hak dan kepentingan yang sah dari perusahaan dan investor.

"Bursa di Hong Kong dan Shanghai sebagai alternatif kuat yang dapat memenuhi persyaratan penggalangan dana perusahaan," kata PetroChina dikutip Marketwatch, Minggu (14/8).

Perusahaan swasta termasuk Alibaba telah mengumpulkan miliaran dolar di bursa AS karena mereka sebagian besar tertutup dari sistem keuangan China, yang melayani perusahaan milik negara.

Tercatat kinerja saham China merosot pada Jumat (12/8). Saham PetroChina Ltd -10,20%, China Life Insurance Ltd -1,46% dan China Petroleum & Chemical Co SNP masing - masing, -1,80% SHI, -1,06%.

Namun perusahaan tidak menyebutkan sengketa audit atau ketegangan antara Amerika Serikat (AS) - China atas Taiwan, terkait keamanan, teknologi, dan hak asasi manusia.

"Mereka mengatakan saham masih akan diperdagangkan di Hong Kong, yang terbuka untuk investor non-Cina," terang perusahaan.

Washington memperingatkan perusahaan China termasuk Alibaba Group. Sehingga, memaksa mereka meninggalkan bursa saham AS jika Beijing menolak mengizinkan regulator melihat catatan auditor perusahaan China.

Baca Juga: Waspada! Saham-Saham Asia Akan Menghadapi Musim Penurunan Laba

Pihak berwenang Amerika mengklaim pemerintah lain telah menyetujui langkah audit tersebut sebagai bagian hukum AS. Sementara China dan Hong Kong adalah satu-satunya yang tidak setuju.

China mengatakan pembicaraan terkait kesepakatan tersebut sudah ada kemajuan. Namun para pejabat AS mengatakan masalah penting belum terselesaikan.

Orang Amerika juga dilarang berinvestasi pada saham, obligasi, dan sekuritas lainnya dari lusinan perusahaan yang dikutip oleh Pentagon sebagai kemungkinan mendukung pengembangan militer China. 

Editor: Tendi Mahadi