KONTAN.CO.ID - Jalur Gaza. Setelah 7 Oktober 2026, kekejaman tentara zionis Israel terhadap warga Gaza resmi berlangsung selama tiga tahun. Dalam rentang waktu tersebut, Jalur Gaza mengalami perubahan yang sangat drastis akibat gelombang serangan, pengungsian massal secara besar-besaran, serta kerusakan parah pada infrastruktur perumahan dan fasilitas-fasilitas esensial. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 74.245 warga Palestina tewas sejak perang ini pertama kali dimulai. Meskipun kesepakatan gencatan senjata sempat diumumkan pada Oktober 2025, kekerasan ternyata belum sepenuhnya berhenti di wilayah tersebut. Kementerian mencatat ada sebanyak 1.462 warga Palestina tewas sejak perjanjian damai itu mulai berlaku. Dampak dari eskalasi berkepanjangan ini tidak hanya meninggalkan duka dari sisi korban jiwa. Sekitar dua juta penduduk Gaza harus menghadapi transformasi drastis dalam aspek kehidupan sehari-hari mereka, mulai dari tempat tinggal yang layak, ketersediaan air bersih dan aliran listrik, peluang kerja, hak atas pendidikan, hingga akses layanan kesehatan yang memadai.
- Krisis Tempat Tinggal: Data PBB pada bulan September menunjukkan bahwa 94 persen penduduk sangat bergantung pada bantuan kebutuhan rumah tangga dasar dan tempat tinggal. Sekitar 65 persen rumah tangga terpaksa tinggal di dalam tenda-tenda darurat atau pusat penampungan setelah terpaksa meninggalkan tempat tinggal asli mereka akibat hantaman serangan maupun perintah evakuasi militer.
- Kerawanan Air Bersih: Pada awal Agustus, tercatat 91 persen rumah tangga yang disurvei mengalami kerawanan air dengan tingkat sedang hingga tinggi, mengalami lonjakan signifikan dari angka 84 persen pada bulan Juni sebelumnya.
- Kelistrikan dan Komunikasi: Jaringan listrik utama di Jalur Gaza hingga kini belum berfungsi normal. Seluruh rumah tangga dan fasilitas penting terpaksa mengandalkan generator di tengah kelangkaan pasokan bahan bakar, oli mesin, serta suku cadang. Kerusakan infrastruktur jalan serta jaringan telekomunikasi juga memperparah hambatan mobilitas perjalanan, akses telepon, hingga internet.
- Hancurnya Bisnis: Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) memperkirakan bahwa 92 persen unit usaha telah mengalami kerusakan total atau hancur sejak Oktober 2023.
- Tingkat Pengangguran: Angka pengangguran melonjak drastis hingga menyentuh angka 78 persen.
- PDB dan Industri: Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita pada tahun 2025 tercatat anjlok menjadi hanya 212 dollar AS, yang berarti tinggal 17 persen saja jika dibandingkan dengan kondisi ekonomi pada tahun 2022. Sektor pertanian dan industri masing-masing hanya menyumbang sekitar 6 persen dari total kapasitas produksi tahun 2022, sementara sektor konstruksi merosot tajam hingga tersisa sekitar 1 persen saja.
- Darurat Pendidikan: UNICEF melaporkan bahwa hampir 98 persen sekolah di wilayah Gaza mengalami kerusakan atau hancur total. Hingga April 2026, sekitar 700.000 anak dengan rentang usia 4 hingga 17 tahun kehilangan hak atas pendidikan tatap muka selama hampir tiga tahun berturut-turut. Sebagian pelajar terpaksa mengikuti kegiatan belajar di dalam tenda atau ruang darurat, sementara sekitar 200.000 anak lainnya sama sekali tidak memiliki akses pendidikan.
- Lumpuhnya Fasilitas Kesehatan: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa seluruh 36 rumah sakit di Gaza mengalami kerusakan. Dari jumlah tersebut, hanya 19 rumah sakit yang masih dapat beroperasi itu pun tanpa ada satupun yang bekerja menggunakan kapasitas penuh.
- Evakuasi Pasien: Kelangkaan obat-obatan, alat penunjang medis, bahan diagnostik, serta bahan bakar membuat layanan kesehatan vital—seperti penanganan kanker, cuci darah (dialisis), dan penyakit kronis—terhambat parah. Tercatat sekitar 12.400 pasien telah dievakuasi keluar dari Gaza demi mendapatkan perawatan medis lanjutan sejak Oktober 2023, sementara puluhan ribu pasien lainnya masih tertahan tanpa kejelasan layanan medis khusus.
IHSG Turun Hari ini, Berikut 10 Saham LQ45 dengan PER Terendah & Tertinggi (7 Oktober 2026).
© 2026 Konten oleh Kontan