Tiga Tentara Terluka, Korea Selatan Investigasi Ledakan Ranjau di DMZ



KONTAN.CO.ID - SEOUL. Militer Korea Selatan bersama Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membuka investigasi bersama terkait ledakan ranjau darat di dekat Zona Demiliterisasi (DMZ) yang memisahkan Korea Selatan dan Korea Utara.

Kepala Staf Gabungan Korea Selatan (JCS) mengatakan, tim investigasi yang terdiri dari sekitar 40 pejabat telah melakukan pencarian di sekitar lokasi ledakan yang terjadi pada 21 September 2026.

Militer Korea Selatan akan melakukan pencarian lanjutan untuk memastikan penyebab ledakan. Hasil investigasi nantinya akan diumumkan kepada publik.


"Militer akan memastikan penyebab ledakan melalui penyelidikan lanjutan dan mengungkapkan hasilnya kepada publik," kata JCS.

Baca Juga: Korsel Bakal Kurangi Ketergantungan Impor Minyak dari Timur Tengah Jadi 50% pada 2035

Ledakan tersebut terjadi ketika tiga tentara Korea Selatan sedang membersihkan jalur patroli di sektor barat DMZ pada 21 September. Ketiga tentara mengalami luka akibat ledakan tersebut.

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung sebelumnya menyatakan ledakan disebabkan oleh ranjau darat.

Investigasi dilakukan di tengah desakan anggota parlemen dari kubu oposisi agar pemerintah transparan mengenai asal ranjau yang meledak.

Muncul dugaan bahwa ranjau tersebut mungkin berasal dari Korea Utara, meski asal perangkat itu masih harus dibuktikan melalui penyelidikan.

Ledakan ranjau dan perangkat peledak lainnya menjadi risiko yang berulang di sekitar DMZ.

Kawasan yang sangat termiliterisasi tersebut masih menyimpan ranjau lama serta ranjau yang diduga hanyut atau berpindah dari lokasi semula, yang secara berkala membahayakan personel militer kedua negara.

Baca Juga: Korea Selatan Minta Pemaparan Rencana Investasi AS di Parlemen Ditunda

Laporan media Korea Selatan juga menyebut pasukan Korea Utara kembali memperkuat wilayah perbatasan sejak Maret 2026.

Aktivitas tersebut mencakup pemasangan ranjau dan pembangunan pagar di sekitar perbatasan.

Hasil investigasi Korea Selatan dan Komando PBB akan menjadi dasar untuk memastikan penyebab serta asal ranjau yang memicu ledakan tersebut.