Timnas Iran Dapat Visa AS untuk Piala Dunia, Sejumlah Pejabat Federasi Masih Tertahan



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tim nasional sepak bola Iran akhirnya memperoleh visa untuk memasuki Amerika Serikat menjelang pertandingan perdana mereka di ajang Piala Dunia 2026. Namun, sejumlah pejabat dan staf administrasi tim dilaporkan masih belum mendapatkan izin masuk ke negara tuan rumah tersebut.

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada Reuters pada Jumat bahwa para pemain Iran telah menerima visa mereka, hanya 10 hari sebelum laga perdana melawan Selandia Baru di Los Angeles.

Pernyataan itu muncul setelah Duta Besar Iran untuk Meksiko, Abolfazl Pasandideh, sehari sebelumnya menyatakan bahwa visa bagi rombongan tim nasional belum diterbitkan.


Meski demikian, kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan bahwa beberapa pejabat penting masih belum memperoleh visa. Mereka antara lain Direktur Eksekutif Mehdi Kharati, Sekretaris Jenderal Federasi Sepak Bola Iran Hedayat Mombini, dan Direktur Media Mohsen Motamedkia.

Menurut laporan tersebut, para staf yang belum mendapatkan visa akan tetap berangkat bersama tim menuju Meksiko sembari menunggu proses penerbitan visa ke Amerika Serikat terus diupayakan.

Baca Juga: Antusiasme Investor Ritel Eropa terhadap IPO SpaceX Tinggi

Federasi Sepak Bola Iran Kritik Pemerintah AS

Federasi Sepak Bola Iran menilai tindakan pemerintah Amerika Serikat bertentangan dengan prinsip olahraga internasional dan berencana membawa persoalan tersebut ke Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA).

Dalam pernyataan yang dikutip media pemerintah Iran, federasi menyebut:

"Pemerintah Amerika Serikat, dengan melanjutkan tindakan permusuhannya terhadap tim nasional, telah mengambil keputusan yang tidak bersifat olahraga dan sepenuhnya bermotif politik dengan menolak memberikan visa kepada anggota manajemen dan administrasi utama tim nasional sepak bola Iran."

Federasi juga menegaskan: "Masalah ini pasti akan ditindaklanjuti oleh Federasi Sepak Bola melalui FIFA."

Lebih lanjut, mereka menyatakan: "Sebagai badan yang bertanggung jawab, FIFA memiliki kewajiban untuk menindaklanjuti dan menyelesaikan persoalan visa bagi staf manajemen, eksekutif, teknis, dan pendukung tim nasional Iran yang saat ini sedang menjalani pemusatan latihan dan sangat dibutuhkan oleh tim nasional."

Hingga saat ini, FIFA belum memberikan tanggapan resmi terkait persoalan tersebut.

Piala Dunia Diwarnai Ketegangan Geopolitik

Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2026 yang resmi dimulai pada Rabu pekan ini.

Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang pecah pada Februari lalu membuat turnamen sepak bola terbesar di dunia itu ikut dibayangi dinamika geopolitik.

Ini juga menjadi pertama kalinya sejak penyelenggaraan Piala Dunia pada 1930 sebuah negara tuan rumah menerima kehadiran negara yang sedang berada dalam kondisi perang dengannya.

Baca Juga: AS Serang Fasilitas Radar Iran, Situasi di Selat Hormuz Semakin Tegang

Di tengah situasi tersebut, Teheran memutuskan memindahkan markas tim nasional dari Arizona ke Tijuana, Meksiko, sebagai langkah darurat akibat persoalan visa sekaligus meningkatnya pandangan di Iran bahwa keberadaan skuad di wilayah Amerika Serikat sebaiknya diminimalkan.

Tim nasional Iran dijadwalkan tiba di Tijuana pada Minggu pagi sebelum melanjutkan persiapan menuju pertandingan Grup G.

Iran akan menghadapi Selandia Baru pada 15 Juni di Los Angeles, kemudian bertemu Belgia di kota yang sama sebelum melawan Mesir di Seattle.

AS Tolak Delegasi yang Terafiliasi Garda Revolusi

Duta Besar Iran untuk Meksiko, Abolfazl Pasandideh, mengatakan pemerintah Amerika Serikat sebenarnya tidak pernah secara resmi menyatakan bahwa mereka menolak tim nasional Iran berada di wilayahnya.

Namun, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio sebelumnya menyampaikan kepada anggota parlemen bahwa Washington tidak akan mengizinkan Iran memasukkan anggota delegasi yang memiliki hubungan dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), salah satu cabang militer paling berpengaruh di Iran.

Sebelumnya, Presiden Federasi Sepak Bola Iran Mehdi Taj juga ditolak masuk ke Amerika Serikat untuk menghadiri pengundian Piala Dunia di Washington pada Desember lalu. Taj diketahui merupakan mantan komandan Garda Revolusi.

Pasandideh menilai keikutsertaan Iran di Piala Dunia menunjukkan komitmen negaranya untuk mencari jalan damai di tengah konflik yang berlangsung dengan Amerika Serikat.

Ia mengatakan: "Partisipasi Iran di Piala Dunia, bahkan di wilayah yang dipandang sebagai musuhnya, menunjukkan bahwa Iran menginginkan perdamaian."

Sementara itu, perkembangan pembicaraan damai antara Iran dan Amerika Serikat masih berjalan lambat. Kedua pihak dinilai bergerak menuju kemungkinan kesepakatan sementara, meskipun operasi militer dan serangan di lapangan masih terus berlangsung.