Timnas Iran Sebut Meksiko Rumah Kedua, Singgung Ketidakadilan di Piala Dunia



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tim nasional sepak bola Iran menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Kota Tijuana, Meksiko, atas sambutan hangat yang mereka terima selama gelaran Piala Dunia. Meski harus mengakhiri perjalanan di fase grup, Iran menyebut Meksiko telah menjadi "rumah kedua" sekaligus "tim kedua" bagi mereka.

Ucapan terima kasih tersebut disampaikan melalui pesan resmi yang dipublikasikan di saluran WhatsApp tim pada Selasa (waktu setempat), setelah Iran dipastikan gagal melaju ke babak gugur.

Keputusan Iran menjadikan Tijuana sebagai markas selama turnamen bukan tanpa alasan. Ketegangan politik antara Teheran dan Washington memaksa tim membatalkan rencana awal untuk menjadikan Tucson, Arizona, Amerika Serikat, sebagai basis persiapan menjelang Piala Dunia.


Sebagai gantinya, skuad Iran memindahkan pusat aktivitas mereka ke Tijuana, Meksiko, hanya beberapa saat sebelum turnamen dimulai.

Baca Juga: Kasus Dugaan Penipuan Chip AI di Singapura Meluas, 4 Tersangka Hadapi Dakwaan Baru

Selain itu, otoritas Amerika Serikat hanya mengizinkan rombongan tim Iran memasuki wilayah AS sehari sebelum pertandingan berlangsung.

Menjelang laga terakhir fase grup di Seattle, pembatasan tersebut kemudian sedikit dilonggarkan sehingga Iran dapat memasuki AS dua hari sebelum pertandingan. Namun, setelah pertandingan selesai, tim tetap diwajibkan kembali ke markas mereka di Meksiko.

Dalam pernyataannya, Iran menegaskan bahwa keramahan masyarakat Tijuana akan selalu dikenang.

"Tuan rumah yang sesungguhnya adalah tentang rasa hormat, kemanusiaan, dan martabat. Kami tidak akan pernah melupakan kebaikan masyarakat Tijuana," tulis tim Iran.

Mereka menambahkan, "Mulai hari ini dan seterusnya, Meksiko akan selalu menjadi lebih dari sekadar negara tuan rumah bagi kami. Meksiko akan menjadi rumah kedua dan tim kedua kami."

Iran Pertanyakan Kesetaraan Perlakuan di Piala Dunia

Meski menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Meksiko, Iran kembali menyoroti perlakuan yang mereka anggap tidak setara selama mengikuti turnamen.

Baca Juga: Dokumen Rahasia Ungkap Kerja Sama Militer China-Rusia

Sebelumnya, setelah menjalani dua pertandingan Grup G di Stadion SoFi, Los Angeles, Iran juga meninggalkan pesan di ruang ganti sebagai bentuk terima kasih kepada kota tersebut atas sambutan yang diberikan.

Namun di sisi lain, pelatih Amir Ghalenoei dan kapten Mehdi Taremi secara terbuka mengkritik berbagai pengaturan selama turnamen. Keduanya menilai Iran tidak mendapatkan perlakuan yang sama dibandingkan peserta lainnya.

Dalam pernyataan resmi, Iran juga mempertanyakan apakah seluruh peserta benar-benar memperoleh kesempatan bertanding dalam kondisi yang setara.

"Kami meninggalkan Piala Dunia ini dengan rasa bangga, tetapi juga dengan satu pertanyaan mendasar: apakah setiap tim benar-benar bertanding dalam kondisi yang setara dan dengan standar profesional yang sama?" tulis pernyataan tersebut.

Iran memang tidak secara langsung menyebut FIFA, panitia penyelenggara, maupun otoritas Amerika Serikat sebagai pihak yang bertanggung jawab. Namun mereka menyinggung adanya "serangkaian keputusan, pengaturan logistik, dan berbagai keadaan yang mengurangi rasa keadilan dalam kompetisi."

Keluhan tersebut muncul setelah Iran gagal lolos ke babak 32 besar akibat gol kemenangan pada masa tambahan waktu saat menghadapi Mesir dianulir karena keputusan offside yang sangat tipis dalam laga terakhir fase grup.

Menurut Iran, prinsip fair play seharusnya menjadi fondasi utama sepak bola, bukan sekadar slogan.

Baca Juga: Bursa Asia Melemah Usai Reli AI Rabu (1/7), Rupiah Dekati Rp 18.000 per Dolar AS

"Bagi kami, Fair Play bukan sekadar slogan yang tercetak di papan iklan. Fair Play adalah identitas sejati sepak bola. Namun turnamen ini mengingatkan kami bahwa masih terdapat jarak yang cukup besar antara kata-kata yang menginspirasi dengan tindakan nyata," ujar tim Iran.

Tetap Beri Apresiasi kepada Mesir

Terlepas dari kekecewaan atas hasil turnamen, Iran tetap memberikan penghormatan kepada Mesir yang menjadi lawan mereka di laga penentuan.

Dalam penutup pernyataannya, Iran menegaskan bahwa nilai-nilai peradaban akan selalu bertahan melampaui sebuah kompetisi olahraga.

"Piala Dunia akan berakhir. Para pengelola akan berganti. Namun peradaban seperti Iran, Mesir, dan Meksiko—yang dibangun di atas kebenaran, rasa hormat, dan martabat manusia—akan tetap bertahan sepanjang sejarah," demikian pernyataan tim Iran.