KONTAN.CO.ID - DUBAI. Israel mengatakan telah melancarkan gelombang serangan lain terhadap Iran pada hari Minggu (1/3/2026), ketika warga Iran menghadapi ketidakpastian setelah pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel, yang mengancam untuk menggoyahkan kedamaian Timur Tengah yang lebih luas. Beberapa jam setelah AS dan Israel mengatakan bahwa serangan udara telah menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, sebagai bagian dari serangkaian serangan paling ambisius terhadap Iran dalam beberapa dekade, media pemerintah Iran mengkonfirmasi kematian pemimpin berusia 86 tahun itu pada hari Sabtu (28/2/2026). Presiden AS Donald Trump mengatakan, serangan udara terhadap target Iran bertujuan untuk mengakhiri ancaman selama beberapa dekade dari Iran dan memastikan Iran tidak dapat mengembangkan senjata nuklir. Trump pun berusaha membenarkan langkah berisiko yang tampaknya bertentangan dengan penentangannya terkait keterlibatan AS dalam konflik luar negeri yang kompleks.
Baca Juga: AS-Israel Serang Iran, China Desak Gencatan Senjata Militer Israel mengatakan serangan mereka pada Minggu (1/3/2026) pagi menargetkan sistem rudal balistik dan pertahanan udara Iran. Media pemerintah Iran mengatakan sebuah ledakan terdengar di Teheran pada Minggu pagi. Pada hari Sabtu (28/2/2026), Iran meluncurkan ratusan rudal dan drone sebagai respons terhadap serangan awal, menargetkan pasukan AS di wilayah tersebut dan kota-kota di Israel serta negara-negara Arab yang bersekutu dengan Washington. Hal tersebut menyebabkan pembatalan penerbangan secara luas di wilayah tersebut. Pentagon mengatakan tidak ada korban jiwa atau luka-luka dari pihak AS, tetapi serangan tersebut menimbulkan kekhawatiran akan risiko baru bagi warga AS. Seorang pejabat intelijen senior AS mengatakan kepada Reuters bahwa meskipun ancaman terbesar yang berasal dari serangan itu adalah terhadap personel militer AS di Timur Tengah, serangan siber juga dapat menargetkan infrastruktur penting AS. Bandara internasional Dubai dan hotel ikoniknya, Burj Al Arab, mengalami kerusakan dan empat orang terluka usai serangan yang dilakukan Iran. Bandara Abu Dhabi mengatakan dalam sebuah unggahan di X bahwa insiden di Bandara Internasional Zayed di ibu kota UEA mengakibatkan satu korban jiwa yang melibatkan warga negara Asia dan tujuh orang terluka. Namun, unggahan tersebut kemudian dihapus. Teheran memperingatkan pada hari Sabtu bahwa Selat Hormuz, jalur sempit yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak global, telah ditutup, meningkatkan ekspektasi lonjakan tajam harga minyak.
Baca Juga: Media Pemerintah Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei Dalam sebuah pernyataan pada Minggu pagi, Korps Garda Revolusi Islam Iran mengatakan bahwa angkatan bersenjata negara itu akan segera membalas lagi dengan operasi ofensif terbesar mereka yang pernah ada di pangkalan AS dan Israel. Duta Besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani mengatakan, dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB pada hari Sabtu bahwa ratusan warga sipil telah tewas dan terluka dalam serangan AS dan Israel. Iravani menyebut, serangan balasan Iran sebagai masalah membela diri, dengan mengatakan bahwa pangkalan pasukan musuh adalah sasaran militer yang sah. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, yang menyerukan penghentian permusuhan segera, mengatakan kepada dewan bahwa ia sangat menyesalkan bahwa kesempatan untuk diplomasi telah "disia-siakan."
PEMIMPIN TERTINGGI TEWAS
Saksi mata mengatakan beberapa warga Iran turun ke jalan di Teheran, kota Karaj di dekatnya, dan kota Isfahan di Iran tengah untuk merayakan setelah laporan kematian Khamenei muncul. Video yang diunggah di media sosial, yang belum dapat segera diverifikasi oleh Reuters, juga menunjukkan perayaan di lokasi lain. Israel dan AS mengatur waktu serangan tersebut bertepatan dengan pertemuan Khamenei dan para pembantu utamanya, menurut dua sumber AS dan seorang pejabat AS yang mengetahui masalah tersebut. Khamenei sedang bekerja di kantornya ketika serangan terjadi pada Sabtu pagi, kata media pemerintah Iran. Putrinya, cucunya, menantu perempuannya, dan menantu laki-lakinya juga tewas, lapor media pemerintah Iran. Garda Revolusi mengeluarkan pernyataan yang menyatakan duka cita atas kehilangan "seorang pemimpin besar." Trump, dalam sebuah unggahan di media sosial, menyebutnya sebagai "salah satu orang paling jahat dalam sejarah."
Baca Juga: Bandara Dubai dan Hotel Ikonik Burj Al Arab Rusak Akibat Serangan Rudal Iran Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyerukan rakyat Iran untuk bangkit dan menggulingkan pemerintah mereka setelah serangan tersebut, yang menewaskan setidaknya tujuh komandan militer senior, menurut militer Israel. Para ahli mengatakan bahwa meskipun kematian Khamenei dan para pemimpin Iran lainnya akan memberikan pukulan besar bagi negara itu, hal itu belum tentu mengakhiri kekuasaan ulama yang mengakar di Iran atau pengaruh Garda Revolusi atas penduduk.
NEGOSIASI YANG GAGAL
Operasi militer Israel selama dua tahun terakhir telah menewaskan beberapa pejabat militer senior Iran dan sangat melemahkan beberapa "pasukan proksi" Teheran yang pernah ditakuti di seluruh Timur Tengah. Setelah Israel membombardir Iran dalam perang udara selama 12 hari pada bulan Juni, bergabung dengan Amerika Serikat, AS dan Israel telah memperingatkan bahwa mereka akan menyerang lagi jika Iran melanjutkan program nuklir dan rudal balistiknya.
Selama pertemuan Dewan Keamanan PBB pada hari Sabtu, utusan dari Rusia dan China mengkritik AS dan Israel karena melancarkan serangan tersebut sementara Teheran sedang bernegosiasi dengan Washington.
Baca Juga: Iran Diserang, Perusahaan Migas dan Pedagang Tangguhkan Pengiriman melalui Hormuz Utusan Rusia untuk PBB, Vasily Nebenzya, mengatakan Iran telah "ditikam dari belakang" dan membantah klaim AS bahwa mencegah Iran memperoleh senjata nuklir membenarkan serangan tersebut. Para pejabat senior AS mengatakan pada hari Sabtu bahwa pembicaraan terbaru menunjukkan Iran tidak bersedia melepaskan kemampuannya untuk memperkaya uranium, yang menurut Iran mereka inginkan untuk energi nuklir, tetapi para pejabat AS mengatakan hal itu akan memungkinkan negara tersebut untuk membangun bom nuklir.