Timur Tengah Memanas, Pasokan Energi Global Kacau



KONTAN.CO.ID - KOTA KUWAIT. Ketegangan di Timur Tengah mulai berdampak langsung pada pasokan energi global. Uni Emirat Arab dan Kuwait dilaporkan mengurangi produksi minyak setelah jalur pelayaran strategis Selat Hormuz nyaris tidak dapat dilalui kapal akibat eskalasi konflik di kawasan.

Bloomberg (8/3) melaporkan, perusahaan minyak nasional UEA, Abu Dhabi National Oil Co. (Adnoc) menyatakan, sedang menyesuaikan produksi minyak lepas pantai untuk mengantisipasi keterbatasan kapasitas penyimpanan. Sementara itu, Kuwait Petroleum Corp menurunkan produksi dari ladang minyak dan kilang setelah meningkatnya ancaman dari Iran terhadap keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan laut lepas dan menjadi salah satu rute perdagangan energi paling penting di dunia. Ancaman Iran terhadap kapal-kapal yang melintas membuat jalur ini hampir tertutup bagi lalu lintas maritim. Akibatnya, ekspor energi dari kawasan penghasil minyak terbesar dunia terganggu.


Kondisi tersebut langsung memicu lonjakan harga minyak global. Harga minyak di pasar London bahkan ditutup pada level tertinggi dalam lebih dari dua tahun terakhir, mendekati US$ 93 per barel. Kenaikan harga ini berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global karena biaya energi kembali melonjak.

Baca Juga: Harga Minyak Makin Menggila: Brent Tembus US$ 92 dan WTI US$ 90 Per Barel

Kapasitas produksi

Pengurangan produksi Kuwait dimulai sejak Sabtu dengan sekitar 100.000 barel per hari. Penurunan ini diperkirakan meningkat hampir tiga kali lipat pada Minggu, tergantung kapasitas penyimpanan dan perkembangan situasi di Selat Hormuz.

Sebagai produsen minyak terbesar ketiga di dalam OPEC, UEA sebenarnya masih memiliki alternatif jalur ekspor. Adnoc mengoperasikan pipa minyak berkapasitas 1,5 juta barel per hari menuju Fujairah untuk menghindari Selat Hormuz. Jalur ini memungkinkan sebagian pasokan tetap mengalir ke pasar internasional.

Namun, pengurangan produksi tidak hanya terjadi di dua negara tersebut. Irak mulai menahan produksi karena tangki penyimpanan yang penuh. Arab Saudi bahkan dilaporkan menutup kilang minyak terbesarnya, sementara Qatar menghentikan operasi fasilitas ekspor gas alam cair terbesar di dunia setelah serangan drone.

Di tengah situasi tersebut, Kuwait juga menyatakan force majeure terhadap penjualan minyak dan produk kilang. Klausul ini memungkinkan perusahaan membatalkan kewajiban kontrak karena keadaan di luar kendali.

Padahal, produksi minyak Kuwait mencapai sekitar 2,57 juta barel per hari pada Januari. Seluruh pasokan tersebut pada dasarnya hanya memiliki satu jalur ekspor, yakni melalui Selat Hormuz. Berbeda dengan Kuwait, Arab Saudi masih memiliki alternatif rute ekspor menuju Yanbu di Laut Merah.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menilai lonjakan harga minyak hanya bersifat sementara. Ia memperkirakan harga minyak akan kembali turun setelah konflik mereda.

“Kami memperkirakan harga minyak akan naik, dan itu memang terjadi. Tetapi nantinya juga akan turun dengan cepat,” ujar Trump kepada wartawan di atas pesawat Air Force One.

Meski demikian, pasar energi global kini menghadapi ketidakpastian baru. Jika ketegangan di sekitar Selat Hormuz terus berlanjut, gangguan pasokan dari kawasan Teluk berpotensi memperpanjang kenaikan harga minyak dan menambah tekanan inflasi di berbagai negara.

Baca Juga: Harga Minyak Turun, AS Pertimbangkan Intervensi di Pasar Berjangka

TAG: